Showing posts with label Book Review. Show all posts
Showing posts with label Book Review. Show all posts

Monday, 30 April 2018

[REVIEW] A Closed and Common Orbit

"Life is terrifying. None of us have a rule book. None of us know what we're doing here. So, the easiest way to stare reality in the face and not utterly lose your shit is to believe that you have control over it." —Pepper

Judul: A Closed and Common Orbit
Serial: Wayfarers #2
Penulis: Becky Chambers
Penerbit: Hodder & Stoughton
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 512 (e-book)
ISBN: 978-147-3621-45-9
★★★★★


Untuk yang belum baca buku pertama (The Long Way to a Small, Angry Planet), lebih baik nggak baca review ini, soalnya di awal buku kedua ada sedikit spoiler dari ending buku pertama. x)

Beberapa menit yang lalu, Lovelace adalah sebuah AI dalam pesawat luar angkasa Wayfarer. Sekarang ia terjebak dalam tubuh buatan spesies Manusia. Ia bisa mendengar, mencium bau, bahkan mencecap rasa, dengan cara yang berbeda tentunya—saat ia minum atau makan sesuatu, sebuah gambaran acak terpampang di pikirannya, gambar yang kurang lebih mendeskripsikan perasaan spesies Manusia saat mencecap minuman atau makanan tsb.

Keadaan yang baru itu membuat Lovelace sulit beradaptasi, terlebih dengan indera penglihatan barunya. Saat ia menjadi AI, ia punya mata di segala arah, baik di dalam maupun di luar Wayfarer. Namun sekarang ia harus terbiasa memusatkan pandangan pada satu arah saja, seperti spesies Manusia yang lain. Ia memang terus dibantu oleh Pepper dan Blue, tapi ia masih merasa kehilangan sesuatu.

Pepper dan Blue adalah sepasang spesies Manusia yang sengaja menempatkan Lovelace di dalam tubuh buatan—meski tergolong perbuatan ilegal—demi membantu Jenks. Pepper sendiri meskipun tergolong spesies Manusia, ia berbeda. Ia sengaja dibuat hanya untuk menjadi sumber daya manusia di pabrik, dulu sekali, saat ia belum bertemu Blue, saat ia masih dinamakan Jane ke-23 dan belum mengerti adanya tempat lain selain pabrik tempatnya hidup dan bekerja dengan Jane yang lain.

Saturday, 28 April 2018

[REVIEW] Arsenic for Tea

Dying from eating tea was such a horrible way to go—like being tricked by something that ought to be nice.

Judul: Arsenic for Tea
Serial: Murder Most Unladylike Mysteries #2
Penulis: Robin Stevens
Penerbit: RHCP Digital
Tahun Terbit: 2015
Halaman: 352 (e-book)
ISBN: 978-144-8193-16-5
★★★★★


Liburan paskah kali ini, Hazel Wong, Katherine 'Kitty' Freebody, dan Rebecca 'Beanie' Martineu berkunjung ke rumah Daisy Wells di Fallingford, sekalian mau merayakan ulang tahun Daisy—Lady Hastings (ibunya Daisy) bilang mereka akan mengadakan pesta minum teh!

Tamu-tamu di pesta minum teh nanti bukan hanya mereka bertiga saja. Beberapa kerabat keluarga Daisy juga diundang ke Fallingford: ada Bibi Saskia yang punya kebiasaan kleptomania; Paman Felix yang gerak-geriknya mencurigakan di mata Hazel; dan Stephen Bampton, teman kakak laki-laki Daisy (Bertie Wells) yang diam-diam disukai Hazel. Namun, seorang kenalan Lady Hastings yang tampan juga datang ke Fallingford, Mr. Curtis. Kedatangan Mr. Curtis disambut dingin oleh keluarga Daisy. Terutama oleh Paman Felix dan pengasuh baru Daisy, Miss Alston. Ayah Daisy, Lord Hastings, juga tidak menyukai Mr. Curtis karena jelas-jelas orang asing tampan itu dekat sekali dengan istrinya.

Hazel dan Daisy sendiri juga tidak menyukai Mr. Curtis. Selain karena mereka tidak sengaja melihat yang-seharusnya-tidak-dilihat antara Mr. Curtis dan Lady Hastings, Mr. Curtis diam-diam mengamati benda-benda berharga di rumah Fallingford, seakan-akan ia ingin mencurinya.

Friday, 27 April 2018

[REVIEW] Murder Most Unladylike

I had never seen a dead body up close before, but I was quite certain now that Miss Bell was dead. ...and I was alone with her body. I suddenly remembered the ghost of Verity Abraham, and thought that perhaps it was her who had killed Miss Bell, pushing her off from exactly the same spot she had jumped from a year ago...

Judul: Murder Most Unladylike
Serial: Murder Most Unladylike Mysteries #1
Penulis: Robin Stevens
Penerbit: RHCP Digital
Halaman: 288 (e-book)
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-144-8193-15-8
★★★☆☆


1934, Sekolah Asrama Deepdean khusus Anak Perempuan. Hazel Wong dan Daisy Wells membentuk klub detektif rahasia yang mereka namakan Wells & Wong Detective Society, dimana anggotanya terdiri dari... yah, mereka berdua doang: Daisy sebagai ketua dan Hazel sebagai sekretaris.

Pada awalnya, kasus-kasus yang mereka selesaikan hanyalah kasus-kasus konyol, seperti misteri hilangnya dasi Lavinia, salah satu murid seasrama mereka. Namun, suatu sore, saat Hazel hendak mengambil pakaiannya yang ketinggalan di gedung olahraga, Hazel malah menemukan Miss Bell yang sudah tidak bernyawa, tergeletak tepat di bawah balkon, seolah-olah ia jatuh dari balkon atau karena ada seseorang yang mendorongnya. Panik karena menjadi satu-satunya yang melihat Miss Bell, Hazel pergi dari gedung dan memanggil Daisy dan yang lain. Namun, saat mereka kembali ke gedung olahraga, mayat Miss Bell sudah tidak ada, hanya meninggalkan sedikit bercak di sana.

Saturday, 31 March 2018

[REVIEW] My Name Is Memory

Dalam setiap kehidupan, permulaannya kurang lebih sama. Ingatanku samar dan tak jelas di masa kanak-kanak, lalu, cepat atau lambat, aku melihat wajah gadis itu di ambang pintu. ... Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku datang lagi, pikirku. Setiap kehidupan selalu bermula dari gadis itu, dosa asalku. Aku mengenal diriku melalui dirinya. (hlm. 61)

Judul: My Name Is Memory
Penulis: Ann Brashares
Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2011
Halaman: 428 (Paperback)
Harga: Rp 64.000
ISBN: 978-602-8811-29-3
★★★★☆


(sengaja pakai cover aslinya soalnya size cover terjemahannya kecil banget, pecah disini.. T_T)

Daniel sudah hidup dan mati berkali-kali, dan ia selalu mengingat setiap keping dari kehidupan masa lalunya. Ia ingat kehidupan pertamanya, sekitar tahun 520 di Afrika Utara, dan itulah yang menjadi asal mula segalanya. Daniel menjadi prajurit saat itu, dan dalam pelatihan pertama bersama kakaknya (yang di kehidupan mereka berikutnya dikenal sebagai Joaquim), mereka ditugaskan untuk membabat habis sebuah desa. Sayangnya, mereka berdua membakar desa yang salah. Mereka membunuh orang-orang tak berdosa. Dan Daniel tidak akan pernah melupakan tatapan sedih seorang gadis cantik di tengah desa yang terbakar. Gadis yang dalam kehidupan-kehidupan berikutnya ia kenal sebagai Sophia.

Setelah penantian yang lama, akhirnya di masa sekarang Daniel dipertemukan kembali dengan Sophia. Sekarang gadis itu bernama Lucy, dan akhirnya seumuran dengan dirinya. Namun, bisakah gadis itu mengingat kehidupannya yang lalu? Bisakah ia mengingat janji yang pernah ia buat dengan Daniel? Dan bisakah Daniel menebus rasa bersalahnya atas kematian-kematian gadis itu di kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya? Atau, haruskah Daniel menyerah oleh takdir yang selalu membuat mereka berdua menderita di masa lalu?

Monday, 5 March 2018

[REVIEW] The Long Way to a Small, Angry Planet

Living in space was anything but quiet.Day 129, GC Standard 306

Judul: The Long Way to a Small, Angry Planet
Serial: Wayfarers #1
Penulis: Becky Chambers
Penerbit: Hodder & Stoughton
Tahun Terbit: 2015
Halaman: 417 (e-book)
ISBN: 978-147-36-1977-7
★★★★☆


Wayfarer adalah salah satu pesawat luar angkasa yang dimiliki oleh Ashby, sang kapten yang merupakan spesies Manusia. Pada masa itu, hitungan tahun berubah menjadi GC Standard, dan tinggal dan menjelajah di luar angkasa merupakan hal yang wajar. Sama seperti pesawat luar angkasa lain, Wayfarer juga menjelajah luar angkasa, keluar masuk berbagai lubang cacing atau wormhole (perjalanan ini disebut tunneling), dan berpetualang menemukan tempat-tempat baru. Kalau beruntung dalam proses tunneling, mereka akan berhasil ke suatu tempat, kalau sial.. yah, mungkin akan terjebak dalam lubang cacing yang mengerikan untuk waktu yang agak lama. :p

Kru pesawat Wayfarer terdiri dari beberapa macam spesies, bukan hanya Manusia. Sissix, sang pilot, adalah spesies Aandrisk yang terkenal dengan kefrontalannya berhubungan dengan sejenis mereka di muka umum. Dr. Chef, dokter sekaligus koki, adalah spesies Grum yang terancam punah. Ada pula Ohan, ahli navigasi (kru paling penting dan tidak semua pesawat bisa merekrut kru seperti Ohan), merupakan spesies Sianat Pair yang terkenal dengan kemampuannya melihat waktu serta arah yang benar di luar angkasa. Ohan juga terkenal dengan pribadi pluralnya. Cara memanggil Ohan adalah dengan kata 'mereka' atau 'kalian', bukan 'dia' atau 'kamu'. Ohan pun memanggil dirinya sendiri dengan kata 'kami'. xD (Silahkan klik link yang udah aku taruh ke masing-masing spesies untuk tahu penggambaran ciri-ciri mereka, oke? Kalau aku jelaskan di sini, bakalan kepanjangan nih review~)

Ashby bukan satu-satunya kru Manusia di antara beragam spesies tadi. Ada juga Kizzy, teknisi mekanis yang cerewet dan suka sekali dengan hal-hal aneh dan snack rasa udang ekstra pedas. Jenks, teknisi komputer berbadan kerdil yang suka usil namun jauh dalam hati penuh romantisme. Corbin, seorang algaeist yang mengurus bahan bakar Wayfarer, yang selalu marah-marah bahkan untuk hal yang sepele. Ada pula pendatang baru di Wayfarer, yaitu Rosemary, juru tulis yang kalem, yang pintar berbicara bahasa spesies lain. Selain kru Manusia dan berbagai spesies lain, Wayfarer juga memiliki AI yang bener-bener hampir bisa berpikir seperti kru yang lain, bahkan mengerti perasaan para kru. Namanya Lovelace atau dia lebih suka dipanggil Lovey. Lovey nggak berwujud robot berjalan, melainkan tertempel di seluruh dinding Wayfarer seperti kamera pengawas dengan sistem utama yang tertanam di pusat kontrol Wayfarer.

Wednesday, 31 January 2018

[REVIEW] The Girl with All the Gifts

"I won't bite." —Melanie

Judul: The Girl with All the Gifts
Serial: The Hungry Plague #1
Penulis: M.R. Carey
Penerbit: Orbit
Tahun Terbit: 2014
Halaman: 408 (e-book)
ISBN: 978-031-62-7814-0
★★★★☆
Melanie adalah salah satu hungry yang spesial. Tidak seperti para hungry dewasa yang sudah sepenuhnya hilang akal dan tidak tahu apa-apa selain makan daging dan darah manusia, Melanie dan anak-anak lain malah disekolahkan, diajarkan berbagai pelajaran akademik, bahkan dibacakan mitologi Yunani oleh Miss Justineau (hal yang paling disukai Melanie).

Diajarkan demikian, Melanie dan yang lain bahkan tidak sadar tentang diri mereka sendiri. Bahwa mereka adalah hungry. Bahwa mereka sebenarnya adalah subjek percobaan untuk menemukan obat agar para manusia tahan terhadap wabah Hungry yang sudah tersebar dimana-mana.

Masih tidak menemukan hasil apa-apa setelah membedah otak beberapa hungry kecil, Dr. Caldwell pun akhirnya memutuskan untuk langsung bereksperimen dengan yang paling jenius diantara hungry kecil tsb, yaitu Melanie. Sayangnya, belum sempat membedah Melanie, Miss Justineau mencegah eksperimen Dr. Caldwell. Tak hanya itu, beberapa saat kemudian, lab mereka tiba-tiba saja diserang oleh ratusan atau bahkan ribuan hungry dewasa yang dibantu masuk oleh para Junkers (manusia yang bertahan hidup di luar dinding dan seringkali mencuri persediaan markas yang mereka temui).

Markas pun hancur, hanya meninggalkan beberapa yang selamat. Melanie yang masih terguncang karena fakta bahwa dia adalah salah satu hungry. Miss Justineau yang mencoba untuk menenangkan Melanie. Dr. Caldwell yang terluka. Sergeant Park yang sinis, dan bawahannya yang ceroboh, Gallagher. Satu-satunya tempat aman yang harus mereka tuju adalah Beacon. Namun, di sepanjang perjalanan, mereka harus bertemu dengan ribuan atau bahkan jutaan hungry. Belum lagi fakta kalau mereka juga membawa satu hungry diantara mereka, Melanie.

Friday, 31 March 2017

[REVIEW] City of Bones

"Apa yang akan kau lakukan kalau melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain?" -Clary (hal. 39)

Judul: City of Bones
Serial: The Mortal Instruments #1
Penulis: Cassandra Clare
Penerjemah: Melody Violin
Penerbit: Ufuk Press
Tahun: 2011
Halaman: 664
ISBN: 978-602-8224-80-2
I rate it 3/5 stars

Sejak kejadian di Klub Pandemonium, Clarissa Fray (atau akrabnya dipanggil Clary) melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Jelas-jelas ia menyaksikan sendiri dua cowok dan satu cewek berusaha membunuh seseorang, tapi kejadian itu luput dari mata orang-orang, tak terkecuali temannya, Simon, yang bersamanya saat itu. Bahkan bekas terbunuhnya orang tadi benar-benar bersih, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Hidup Clary yang tadinya biasa-biasa saja mendadak berubah setelah bertemu dengan tiga pembunuh yang ternyata Pemburu Bayangan itu: Jace, Alec, dan Isabelle. Bukan hanya karena ia mendadak bisa melihat makhluk-makhluk aneh saja, melainkan karena kemudian ibunya, Jocelyn Fray, menghilang dalam keadaan sekarat, dan hanya meninggalkan iblis berupa monster mengerikan yang telah menunggu untuk memakan Clary di rumahnya. Namun, tanpa sengaja, Clary berhasil membunuh iblis itu.

Jace, Pemburu Bayangan yang dari awal tertarik pada Clary—seorang Fana yang ternyata bisa melihat mereka, tahan terhadap efek rune, juga berhasil membunuh iblis sendirian—menyelamatkan Clary yang terluka dengan membawanya ke Institut, tempat tinggal mereka yang dipimpin Hodge. Dari sana, Clary mengetahui kalau dunia mereka terbagi menjadi beberapa dimensi. Dari sana juga Clary mengetahui bahwa para Pemburu Bayangan adalah Nephilim—setengah manusia dan setengah malaikat—yang bertugas membunuh para iblis. Dari sana pula Clary mengetahui kalau ternyata ibunya adalah salah satu dari mereka. Dan kemudian tahulah Clary penyebab ibunya diculik, Valentine, mantan Pemburu Bayangan yang ternyata adalah suami ibunya itu, yaitu karena Valentine berusaha mendapatkan Piala Mortal yang disembunyikan Jocelyn. Yah.. ceritanya si Valentine ini ingin membasmi Penghuni Dunia Bawah seperti vampir, werewolf, dll yang dianggapnya mengancam kehidupan manusia dengan memanfaatkan Piala Mortal.

Mampukah Clary dan para Pemburu Bayangan mendapatkan Piala Mortal sebelum Valentine? Dan mampukan Clary mendapatkan ingatan pentingnya akan Dunia Bayangan yang ternyata telah dihapus Jocelyn sejak Clary kecil?

Tuesday, 28 February 2017

[REVIEW] The Princess Saves Herself in This One

the princess
locked herself away
in the highest tower,
hoping a knight
in shining armor
would come to her
rescue. 
- i didn't realize i could be my own knight.

Judul: The Princess Saves Herself in This One
Serial: Women are Some Kind of Magic #1
Penulis: Amanda Lovelace
Penerbit: CreateSpace
Tahun: 2016
Halaman: 156
ISBN: 978-153-2913-68-6
I rate it 4/5 stars

Buku puisi yang tipis ini langsung menarik perhatianku hanya dengan sampul super simpel dan judul yang menurutku unik. Tapi, isinya nggak se-biasa itu. Aku suka buku ini. Meski bukan buku puisi paling keren, aku betah membaca buku ini berulang-ulang tanpa bosan.

The Princess Saves Herself in This One dibagi menjadi 4 stages: the princess, the damsel, the queen, you. Aku bilangnya stages, bukan part atau bab, karena isi dari buku ini memang 4 tahap warna-warni kehidupan, imo. Jadi, beginilah menurutku isi dari buku puisi ini..

sticks & stones
never broke
                            my bones,
but words
made me
starve myself
until
                            you could
                            see   all   of
                    them
- skin & bone.

the princess
Aku mikirnya 'the princess' ini kayak pengin selalu terlihat baik di mata orang lain. Sama lah seperti seorang putri yang memang harus terlihat sempurna. Untuk meninggalkan kesan yang baik, ia rela ngelakuin apa aja meski bikin diri sendiri susah. Tapi, meski sudah melakukan pengorbanan sedemikian rupa, 'the princess' nggak selalu bisa membuat seseorang terkesan. Do u need a savior, princess? Yes, you are. But please have in mind, you can rescue yourself if you can accept who you really are first. ;)

Stage satu ini menurutku cukup untuk menggambarkan masa abege yang suka banget sama pencitraan. Yah, aku juga pernah pencitraan sih. :p Selain itu, di stage ini juga bercerita tentang first love~

Friday, 27 January 2017

[REVIEW] Sophie Quire and the Last Storyguard

Sophie loved books beyond reason. Indeed, she loved them more than she loved the world around her. It was the very thing that made her unique, until it made her dangerous. But we are getting ahead of ourselves, which is also dangerous. So light a lamp and find a comfortable chair, and I will tell you her story.
(no spoiler from the first book)

Judul: Sophie Quire and the Last Storyguard
Serial: Peter Nimble #2
Penulis: Jonathan Auxier
Penerbit: Amulet Books
Tahun: 2016
Halaman: 464 (e-book ver.)
ISBN: 978-141-9717-47-5
I rate it 5/5 stars

Sophie Quire dalam masalah besar. Tak lama lagi, Inquisitor Prigg akan membakar seluruh buku fiksi yang ada di kota kecil Bustleburgh. Hampir seluruh buku sudah dikumpulkan di gerobak di lapangan tempat Pyre Day berlangsung nanti, siap untuk dibakar! Yang tersisa hanyalah beberapa buku fiksi pribadi yang nanti akan langsung dilempar ke dalam api oleh para penduduk dan buku milik Quire & Quire, toko buku sekaligus rumah bagi Sophie dan ayahnya.

Kenapa Inquisitor Prigg ngotot ingin membakar seluruh buku di kota itu? Yah.. katanya fiksi tidak baik untuk generasi muda, mengisi pikiran generasi muda dengan khayalan-khayalan yang tidak ada gunanya, dan intinya dia ingin kota itu menjadi kota yang modern dan bersih dari hal-hal tidak masuk akal lainnya. Oh, anyway, ini dia pengumuman Pyre Day..

NO NONSENSE! 
All citizens are compelled to attend the annual Pyre Day ceremony on the twenty-seventh of this month, storybooks in hand. 

Join your fellow Bustleburghers as we cast off the shackles of childish superstition and boldly march toward a modern, sensible tomorrow!

Jadi, setiap tahun, tepatnya saat musim gugur, ada saja Hal-hal Tidak Masuk Akal yang dibakar. Mulai dari benda-benda yang pernah dimiliki manusia kerdil, benda-benda yang bisa bicara, tanaman-tanaman ajaib, dan hal lain yang memiliki kategori magis, sampai akhirnya.. buku cerita.

Sunday, 22 January 2017

[REVIEW] Peter Nimble and His Fantastic Eyes

Mungkin dalam hidupmu sendiri kau sudah tahu bahwa kegiatan mendongeng sangat besar dampaknya. Kisah yang disampaikan dengan baik dapat membuat para pendengarnya terbang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan mereka dan ketika kembali, mereka punya pandangan yang lebih baik tentang dunia ini. (hal. 245)

Judul: Peter Nimble and His Fantastic Eyes
Serial: Peter Nimble #1
Penulis: Jonathan Auxier
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Penerbit: Gramedia
Tahun: 2014
Halaman: 432
ISBN: 978-602-03-0152-5
I rate it 4.5/5 stars

Peter Nimble tidak punya orangtua, paling tidak itulah yang diketahuinya. Saat ia masih bayi, ia ditemukan oleh pelaut sedang menangis dan terombang-ambing di dalam keranjang dengan gagak yang bertengger di atasnya. Sejak kecil pula, Peter Nimble buta. Menurut cerita, gagak yang bertengger di keranjangnya lah yang telah mematuk habis matanya.

Namun, Peter tidak punya kesulitan bertahan hidup. Ketidakmampuannya menjadi kelebihannya. Ia menjadi lebih peka daripada manusia kebanyakan, dan tangannya yang mungil juga lincah seringkali mengutil barang-barang kebutuhannya di pasar tanpa ketahuan. Bakat mencuri ini sayangnya diketahui oleh Mr. Seamus yang jahat. Ia membawa Peter kecil ke rumahnya dan mengajarinya semua trik mencuri. Peter pun menjadi pencuri terhebat di kota itu.. yah, paling tidak sampai ia berumur 10 tahun ketika ia bertemu dengan pedagang keliling misterius.

Dari pedagang keliling misterius itu, Peter mencuri sebuah kotak dengan banyak gembok. Seperti halnya pencuri, ia selalu dibuat penasaran dengan gembok, seberapa sering pun ia berusaha dan berhasil membuka satu gembok, Peter selalu penasaran dengan gembok yang lain. Seperti halnya kotak misterius dengan banyak gembok yang asing ini. Hari itu, alih-alih bekerja seperti yang diperintahkan Mr. Seamus, Peter hanya membawa kotak itu pulang ke rumah.

Seperti yang mungkin kalian duga, kotak itu berisi mata ajaib. Ralat, tiga pasang mata ajaib. Awalnya Peter tidak menyadarinya, tapi karena bantuan dari zebra misterius, Peter akhirnya tahu kotak itu berisi mata. Dengan hati-hati Peter memasang mata berwarna emas yang dipilihkan zebra itu untuknya, dan... dalam sekejap Peter menghilang dan muncul di sebuah kolam di dasar jurang.

Detik itu juga, kehidupan Peter yang sehari-harinya mencuri dari orang di kota pun berubah. Ia bertemu Sir Tode, ksatria bertubuh kucing dan berkaki kuda. Ia juga bertemu Profesor Cake dan pedagang keliling di tempat aneh itu. Dari sana, Profesor Cake memberi Peter dan Sir Tode tugas untuk menyelamatkan Kerajaan yang Lenyap berdasarkan surat botol yang ditemukan Profesor Cake bertahun-tahun lalu..

Ada banyak raja, tidak ada pangeran
Burung-burung gagak berkeliaran dan samudera menarik diri. 
Hanya orang asing yang akan membawa kelegaan, 
Namun kegelapan berkuasa, kecuali ia...

Sunday, 24 July 2016

[REVIEW] Mencarimu

Maka disinilah aku kini. Sedang megusik ibu, juga sedang berusaha menguak tabir gelap yang selama ini mungkin dianggap sebagai pengaman. Ibu tidak boleh lupa dalam diriku juga mengalir jenis darah yang lain. Yaitu, darah lelaki yang sedang kuburu ini. —Matahari (hal. 4)

Judul: Mencarimu
Penulis: Retni S.B.
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2014
Halaman: 298
ISBN: 978-602-291-024-4
I rate it 4/5 stars

Sejak mengetahui kalau Irsal Mahangka adalah masa lalu kelam ibunya yang menyebabkan ia terlahir di bumi, Matahari nekad pergi ke Jakarta. Matahari sengaja bekerja di bidang dan kantor yang sama dengan ayah biologisnya, Jelajah, agar bisa memberi pelajaran kepada orang yang telah membuat ibunya mati rasa dan tak pernah mau membuka hati untuk pria lain.

Namun, tujuan Matahari bekerja di Jelajah ternyata membuahkan hasil lain. Ia bertemu Rakho, atasan yang membuat ia jatuh hati, dan Owan, seorang sahabat baik yang asyik untuk diajak berbagi cerita, yang merupakan sahabat Rakho juga. Tanpa sengaja mereka bertiga telah menjadi sahabat baik meski belum kenal lama. Bahkan mereka bertiga asyik travelling bersama, sampai-sampai Matahari hampir lupa sedang mencari Irsal, apalagi saat Rakho terang-terangan mengajak ia jadian.

Hingga suatu hari, Rakho memperkenalkan Matahari kepada ayahnya yang kebetulan sedang travelling di tempat yang sama. Hancurlah hati Matahari ketika diperkenalkan kepada ayah Rakho, yang ternyata adalah Irsal Mahangka, ayah biologisnya yang selama ini ia cari-cari.

Bagaimana sikap Matahari terhadap Rakho, pacarnya, yang ternyata adalah saudara sedarahnya? Sanggupkah Matahari dan Rakho mengganti percik cinta mereka menjadi bentuk cinta yang lain?

Tuesday, 31 May 2016

[REVIEW] Purple Eyes

"Apakah bumi memang seburuk itu? Semuanya hobi sekali mati, akhir-akhir ini." —Hades (hal. 10)

Judul: Purple Eyes
Penulis: Prisca Primasari
Desain Sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Inari
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 144
ISBN: 978-602-74322-0-8
I rate it 4/5 stars

Hades—atau sering dikenal sebagai Dewa Kematian—merasa bosan. Belakangan ini, calon mantan-manusia yang sekarat lebih memilih untuk mati daripada kembali hidup ke dunia. Kebanyakan dari mereka adalah manusia yang mati dengan cara tak wajar: diambil levernya. Begitu pun dengan calon mantan-manusia yang datang hari itu. Pemuda rupawan bermata biru gelap cenderung ungu tersebut juga lebih memilih untuk mati—dan omong-omong, juga diambil levernya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi di bumi. Lyre, asisten Hades, menganggap hal itu ganjal dan menyarankan Hades untuk turun ke bumi sebelum ada korban lagi. Namun, sebelum ada perintah, Hades tidak akan ke sana. Sampai sebulan kemudian turun perintah untuk Hades, lalu Hades turun ke bumi bersama dengan Lyre. Kali ini tujuan mereka adalah Trondheim, Norwegia, mengunjungi rumah salah satu korban.

Ivarr Amundsen, keluarga korban yang mereka kunjungi, mirip dengan pemuda rupawan yang baru-baru ini mengunjungi tempat Hades: sama-sama bermata biru gelap namun cenderung ungu. Namun, Ivarr seperti patung lilin, tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun. Mati rasa. Tujuan Hades—atau selama di bumi dipanggil Halstein—dan Lyre—atau kita panggil saja Solveig—adalah membuat Ivarr kembali merasa, sebelum akhirnya mengincar pelaku pembunuh sesungguhnya.

Berhasilkah mereka—atau tepatnya Solveig—membuat pemuda patung lilin itu kembali merasa? Dan apa tepatnya rencana Halstein untuk mengakhiri pembunuhan keji itu sampai melibatkan Ivarr?

Friday, 29 April 2016

[REVIEW] James and the Giant Peach #PosBarApril #BBIChildrenBooks

"... Whoever they meet first, be it bug, insect, animal, or tree, that will be the one who gets the full power of their magic! So hold the bag tight! Don't tear the paper! Off you go! Hurry up! Don't wait! Now's the time! Hurry!"

Judul: James and the Giant Peach
Penulis: Roald Dahl
Ilustrasi: Quentin Blake
Penerbit: Penguin Group US
Tahun Terbit: 2007 (first published 1961)
Halaman: 116
ISBN: 978-0-14-192987-3
I rate it 4/5 stars

Tadinya, bocah bernama James Henry Trotter hidup bahagia. Sampai suatu hari orangtuanya dimakan oleh badak yang melarikan diri dari kebun binatang saat mereka sedang jalan-jalan di London.

Hidup James pun langsung berubah 180 derajat. Ia tinggal bersama dua bibinya yang kejam, Bibi Sponge yang gempal dan Bibi Spiker yang kurus ceking, jauh di atas bukit. Di sana, ia tak lagi bisa bermain dengan anak-anak seusianya. Di sana, ia mengerjakan berbagai pekerjaan yang seharusnya tak dikerjakan oleh anak sekecil itu. James selalu diperlakukan seperti budak oleh kedua bibinya yang jahat.

Hingga kemudian datanglah seorang tua entah darimana, menghampiri James yang baru saja jadi sasaran bibinya, menangis di balik semak. Orang tua itu memberikan James sekantong batuan kecil hijau berkilauan seperti kristal, batuan yang hidup. Itu bukanlah benda kecil biasa, melainkan benda kecil ajaib yang akan mengubah hidup James.

Friday, 22 April 2016

[REVIEW] Dil3ma

"Saat yang tepat untuk...? Untuk mutusin gimana perasaan lo sebenarnya? Memangnya sekarang bukan saat yang tepat? Kalau gitu kapan dong? Apa kriteria hari yang tepat? Perlu pertimbangan apa lagi? Nggak tahu, kan? Sama, gue juga, Na. Gue juga lagi menunggu saat yang tepat." (hal. 178)

Judul: Dil3ma
Penulis: Mia Arsjad
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2009
Halaman: 336
ISBN: 978-979-22-5017-6
I rate it 3/5 stars

BROKEN LADIES merupakan chat-room yang telah mempertemukan tiga cewek di buku ini. Awalnya sih mereka bertiga cuman ngobrol karena sama-sama merasa bermasalah sama cowok. Tapi kemudian mereka jadi sahabat dekat, yang sampai sekarang masih saja dilema tentang persoalan yang sama.

Lura, cewek cantik blasteran yang bekerja sebagai pramugari. Penyakit: punya dendam kesumat sama cowok tukang selingkuh. Penyebab: ibunya ditinggal ayahnya yang brengsek. Lura bersumpah bakal membasmi semua cowok yang bangga banget bisa selingkuhin pacarnya. Dan gara-gara sejarah kelam ibunya itu, Lura susah mau percaya sama cowok, meski dalam hati dia sayang banget sama Robi, cowok yang benar-benar tulus mencintai Lura.

Nania, cewek penggemar rally yang bertampang pas-pasan, anak konglomerat, pemegang salah satu perusahaan majalah ternama. Penyakit: nggak pernah bisa bilang putus ke pacarnya, Reva, yang selaluuu aja minta bayarin ini itu dan ngehina fisik Nania yang pas-pasan. Kenapa nggak bisa bilang putus kalau tingkahnya begitu? Nania takut menjomblo seumur hidup!

Mala, cewek cantik berambut indah (di deskripsinya gitu, entah indah yang gimana, mungkin kayak di iklan sunsilk .-.) yang bekerja sebagai sekretaris. Penyakit: terlanjur cinta sama bosnya, Mas Sis, yang sudah berkeluarga. Mau berenti? Lah, gimana mau berenti kalau udah cinta sampe ke ulu hati, mana si bos janji mau cerai lalu nikahin Mala pula! Janjimu itu, Maz.. (mana janji manizmuuuu~ mencintaikuuu sampai matiii~) :')))

Monday, 18 April 2016

[REVIEW] My True Love Gave to Me: Twelve Holiday Stories

I am worried about being in love, because it involves asking so much. —David Levithan, Your Temporary Santa

Title: My True Love Gave to Me: Twelve Holiday Stories
Author: Varies
Edited by: Stephanie Perkins
Publisher: St. Martin's Griffin
Publishing Year: 2014
Number of Pages: 336
ISBN: 978-146-6863-89-7
I rate it 3.5/5 stars

One thing I love about short story written by various authors is that I can meet so many authors without having a long time reading their two-hundred-pages-or-so books. (Yes, I am that lazy, sorry~) x) But it is not really a reference point whether I would read their other books later. It is not fair, because who knows the authors were not in their writing-state whenever they wrote that story, right?

I have met several authors in this book, say Ally Carter with her Gallagher Girls series, Gayle Forman with her If I Stay series, Jenny Han with her To All the Boys I've Loved Before (which I love so much!), David Levithan with his Every Day, Stephanie Perkins with her Anna and the French Kiss, Rainbow Rowell with her Eleanor & Park, and Kiersten White with her The Chaos of Stars (this one I've just read last month and I loved it too!), though I didn't review all of them here. :p I love their previous books, and that's one of the reason I expected so much when they contributed in this short story.

But the thing about expect-something-too-much is often left us with disappointment. x) This happened to me when I read David Levithan's in this book with his Your Temporary Santa. I still love the way he wrote the stories here, but the problem is I didn't get the chemistry between the narrator and Connor. Probably because they were gay and I am honestly new in this genre. :"

Thursday, 31 March 2016

[REVIEW] Jane Eyre #PosBarMaret #BBILagiBaca

Ah.. finally ikutan posbar BBI juga setelah lama bolos. Bulan ini posbarnya bertemakan #BBILagiBaca, tema yang agak beda dibanding tema yang sebelumnya karena di sini, mulai 14 Maret, kita harus men-tweet tentang satu buku yang kita baca di bulan Maret. Well.. I picked Jane Eyre mumpung lagi kerasukan setan klasik. (?)

Aku sudah me-review sekilas tentang Jane Eyre di Twitter, berikut beberapa screenshots-nya. Silahkan di-klik untuk memperbesar gambar.

link twitter here.

Maafkan tweet-ku yang kurang menarik, soalnya aku paling bingung kalo disuruh nge-tweet tentang buku atau film, space-nya terbatas bangeeet! Rasanya kurang greget kalo harus disambung ke tweet berikutnya. Yang baca tweet (kalau pun ada) juga jadi kurang puas dan kemungkinan besar bakal merasa review yang kuberikan di tweet kurang ngena (yang emang kurang ngena banget).

Anyway, setelah beberapa hari ikutan posbar, aku kebetulan ngobrol sama Teh Peni, ya ngobrolin soal posbar ini sih. Dari obrolan itu aku baru tahu kalau sehari cuman boleh nge-tweet maksimal 5 kali tentang buku itu. Aku langsung..... errrr.. xD Itu pas tanggal 14 aku langsung ngoceh kayak tronton entah sampe berapa tweet. Maafkan akuuuuh~ hahahah.

Baiklah, move-on dari Twitter, saatnya kutulis review Jane Eyre versi lengkap.

Selamat menikmati.. ^^
(berasa kayak ucapan yang biasa ditulis di nasi kotak) -_-

***

Friday, 25 March 2016

[REVIEW] The Chaos of Stars

My parents brought me into the world to die. They didn't love me enough to keep me forever—they didn't even pretend like they did. My entire childhood of warmth and love was drawing in the sand—impermanent and fragile and gone in the breath of wind. 
Just like me.

Title: The Chaos of Stars
Author: Kiersten White
Publisher: HarperTeen
Publishing Year: 2013
Number of Pages: 304
ISBN: 978-006-2135-88-9
I rate it 4/5 stars

Isadora was a daughter of Isis—Goddess of Motherhood, Magic, and Fertility— and Osiris—God of the Underworld and Afterlife—, but she was no goddess like her mother other than a normal teenage girl who trapped in Egypt inside her family's temple, as she has always been. Knowing that she was mortal unlike her parents, she started to think that she was born just to worship her parents so that they remained in their immortality. And the thought of that made her hate her parents to the point she wanted to runaway from them forever.

Her wish suddenly became so possible when her mother who always took bad dream as a reminder, decided to send Isadora away from Egypt. For the good of Isadora, she said. Isadora then lived with her brother, Sirus, in San Diego, where she thought things would turn out just right as she expected them to be.

But Isadora's wrong. Not only because Sirus turned out to be silently married and that his wife was pregnant, but also the job thing in the museum her mother told her to do through Sirus couldn't do her sickness for ancient mythology thing she tried to escape. Her expected free-life-from-her mother's-hand was faraway from her grips. Things couldn't get more complicated when suddenly an intruder tried to stole something that connected to her family. And that her fear of falling in love into a guy named Ry with his crystal blue eyes added the stress of her new life in San Diego.

Saturday, 27 February 2016

[REVIEW] Bite-Sized Magic

"... Sir Callum O'France mencampur dua kepalan tepung dengan satu kepalan bubuk cokelat dan satu kepalan gula putih. Dia menambahkan satu batang mentega dengan dua telur ayam dan satu kepalan susu, satu cangkak-ek vanila, dan lolongan Hag o 'the Mist, yang bahkan mengalahkan gemuruh perut keroncongan para penduduk desa." — Cake Kelaparan, Apokrif Albatross.

Judul: Bite-Sized Magic
Serial: The Bliss Bakery #3
Penulis: Kathryn Littlewood
Penerjemah: @putronugroho
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: Mei 2014
Halaman: 347
ISBN: 978-602-1306-00-0
I rate it 3/5 stars


Setelah memenangkan kompetisi memasak Gala des Gâteaux Grands, Rose mendadak menjadi bintang. Setiap pagi ada saja wartawan yang mengetuk-ngetuk pintu rumah mereka, memotret apa saja yang bisa dipotret, dan tentu saja keras-keras menanyakan ini-itu. Seolah itu belum cukup, banyak sekali surat-surat yang menawarkan kerja sama, contohnya dari Keegan Kake dan Katy Perry yang memesan roti buatan Rose.

Namun, bukan ketenaran itu yang menjadi masalah utama. Salah satu dari kumpulan surat itu merupakan surat dari pemerintah: surat larangan operasi untuk toko roti yang tidak memiliki seribu pegawai. Toko roti Bliss pun terpaksa ditutup. :(

Tutupnya toko roti keluarga Bliss membuat seluruh penduduk Calamity Falls menjadi versi buruk dari diri mereka. Tidak ada lagi roti-roti keluarga Bliss yang cocok untuk masalah mereka masing-masing. Melihat ini, keluarga Bliss memutuskan untuk mengantarkan kue gratis secara rahasia kepada penduduk Calamity Falls, setidaknya sampai mereka berhasil menemukan jalan keluar dari masalah penutupan toko.

Sayangnya, setelah pengiriman roti, Rose yang pergi mengantar roti sendiri dicegat oleh pria berotot yang menawarkannya kerja sama. Namun, setelah Rose setuju, ia malah dimasukkan ke dalam karung dan dibawa ke sebuah pabrik roti, yang ternyata adalah Mostess Snack Cake Corporation yang dipimpin oleh Tn. Butter yang serakah.

Wednesday, 24 February 2016

[REVIEW] Me Before You

"Oke.. baiklah.. berhubung kita akan bersama-sama untuk waktu lama, barangkali kita bisa saling mengenal. ... Barangkali kalau kau bisa memberitahukan sedikit padaku, apa yang ingin kau lakukan, apa yang kau sukai, supaya aku bisa... memastikan semuanya sesuai dengan yang kauinginkan?"
"Ini yang kutahu tentangmu, Miss Clark. Kata ibuku, kau pandai bicara. Bisakah kita sepakat? Kau tidak usah banyak bicara kalau sedang di dekatku?"
(hal. 72-73)

Judul: Me Before You
Penulis: Jojo Moyes
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013 (first published 2012)
Halaman: 656
ISBN: 978-979-22-9577-1
I rate it 5/5 stars

Louisa Clark mau tak mau harus meninggalkan pekerjaan yang sangat disukainya di The Buttered Bun. Bukan karena dia tidak cukup baik dalam pekerjaannya, melainkan Frank harus menutup kedai kopi miliknya itu karena suatu hal. Lou pun harus rela bolak-balik datang ke Bursa Tenaga Kerja, menjalani pekerjaan yang sama sekali tidak cocok, sampai akhirnya ia ditawarkan menjadi perawat seorang penderita quadriplegia, Will Traynor.

Kecelakaan dua tahun lalu menyebabkan Will memiliki kelainan tulang belakang, yang menjadikan dirinya sebagai pasien quadriplegia: duduk di kursi roda, tidak bisa menggerakkan kaki dan sedikit sekali bisa menggerakkan tangannya, yang untungnya dia masih bisa merasakan sakit. Menjadi orang yang tidak lagi bisa melakukan apa-apa (bahkan mengganti posisi tidur pun tidak), ia depresi. Ditambah lagi dengan berita pernikahan mantan kekasih dengan sahabatnya, Alicia dan Rupert. Will berpikir bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaannya adalah dengan melakukan Dignitas.

Sanggupkah dalam kontrak enam bulan Lou merubah keputusan Will untuk mengakhiri hidupnya?

Saturday, 13 February 2016

[REVIEW] The Wind Leading to Love

"Suga-san, aku ada usul. Akan kutata ulang halaman rumah ini. Tapi sebagai imbalannya, maukah kau mengajariku musik klasik?" —Fukui Kimiko (hal. 41)

Judul: The Wind Leading to Love
Penulis: Ibuki Yuki
Penerjemah: Mohammad Ali
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun: 2015
Halaman: 342
ISBN: 978-602-7742-47-5
I rate it 3/5 stars

Suga Tetsuji belakangan mengalami depresi karena hubungan rumah tangganya yang memburuk, yang berujung pada tidak bisa konsentrasi di tempat kerja, juga malam-malam panjang karena insomnia. Setelah ia dipaksa untuk mengambil cuti kerja, ia memutuskan untuk pergi sendirian ke Miwashi, desa kesayangan ibunya, dimana almarhum ibunya selalu menemukan kedamaian dan ketenangan. Ia bermaksud untuk tinggal di sana sebentar sebelum rumah itu benar-benar dijual nantinya. Rumah ibunya itu dinamakan Rumah Semenanjung, terletak tepat di atas bukit.

Setelah dua hari di sana, ia masih juga tidak memahami apa yang disukai ibunya dari tempat terpencil itu. Sampai ia bertemu dengan Fukui Kimiko di tengah perjalanan balik ke Miwashi setelah membeli bertumpuk-tumpuk makanan cepat saji. Saat itu Kimiko hendak menumpang pulang ke Miwashi.

Pertemuan itu bukan pertemuan terakhir mereka. Di salah satu malam insomnia, Tetsuji berjalan-jalan di sekitar pantai, yang tanpa disadari membuat ia ingin menenggelamkan dirinya di laut. Namun, Kimiko yang kebetulan lewat menyelamatkan dirinya yang sebenarnya masih ingin hidup.

Diawali dengan tumpangan ke Miwashi dan penyelamatan Tetsuji, pertemuan mereka semakin sering karena Kimiko yang tak sengaja melihat koleksi CD klasik milik ibu Tetsuji. Kimiko kemudian menawarkan kerja sama. Ia bersedia mengurus Rumah Semenanjung yang hendak dijual Tetsuji, asalkan Tetsuji mau mengajarkan musik klasik yang sudah lama ia cari itu padanya.

Namun, dibalik hubungan yang semakin dekat itu, masih ada keluarga Tetsuji yang retak, juga Kimiko yang masih dihantui masa lalu akan suami dan anaknya. Mampukah mereka berdua mengatasi rasa depresi dan kehilangan masing-masing?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...