Minggu, 24 Juli 2016

[REVIEW] Mencarimu

Maka disinilah aku kini. Sedang megusik ibu, juga sedang berusaha menguak tabir gelap yang selama ini mungkin dianggap sebagai pengaman. Ibu tidak boleh lupa dalam diriku juga mengalir jenis darah yang lain. Yaitu, darah lelaki yang sedang kuburu ini. —Matahari (hal. 4)

Judul: Mencarimu
Penulis: Retni S.B.
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2014
Halaman: 298
ISBN: 978-602-291-024-4
I rate it 4/5 stars

Sejak mengetahui kalau Irsal Mahangka adalah masa lalu kelam ibunya yang menyebabkan ia terlahir di bumi, Matahari nekad pergi ke Jakarta. Matahari sengaja bekerja di bidang dan kantor yang sama dengan ayah biologisnya, Jelajah, agar bisa memberi pelajaran kepada orang yang telah membuat ibunya mati rasa dan tak pernah mau membuka hati untuk pria lain.

Namun, tujuan Matahari bekerja di Jelajah ternyata membuahkan hasil lain. Ia bertemu Rakho, atasan yang membuat ia jatuh hati, dan Owan, seorang sahabat baik yang asyik untuk diajak berbagi cerita, yang merupakan sahabat Rakho juga. Tanpa sengaja mereka bertiga telah menjadi sahabat baik meski belum kenal lama. Bahkan mereka bertiga asyik travelling bersama, sampai-sampai Matahari hampir lupa sedang mencari Irsal, apalagi saat Rakho terang-terangan mengajak ia jadian.

Hingga suatu hari, Rakho memperkenalkan Matahari kepada ayahnya yang kebetulan sedang travelling di tempat yang sama. Hancurlah hati Matahari ketika diperkenalkan kepada ayah Rakho, yang ternyata adalah Irsal Mahangka, ayah biologisnya yang selama ini ia cari-cari.

Bagaimana sikap Matahari terhadap Rakho, pacarnya, yang ternyata adalah saudara sedarahnya? Sanggupkah Matahari dan Rakho mengganti percik cinta mereka menjadi bentuk cinta yang lain?

Waktu tidak bisa kita paksa berhenti di satu titik. Ia terus bergerak, untuk memberikan kesempatan pada berbagai peristiwa, baik atau buruk, suka atau tidak suka. —Rakho (hal. 142)

Aku sama sekali nggak punya gambaran kalau buku ini nyeritain tentang cinta sedarah begitu. Kan di sinopsis belakang buku nggak dibahas. Aku tahunya si Matahari nyari bapak di Jelajah, trus aku mikirnya mereka ketemu dan Matahari nyakar-nyakar tuh orang. Oke ini berlebihan, tapi serius aku lumayan kaget waktu Irsal muncul sebagai bapaknya si Rakho alay pas Matahari dan Rakho lagi romantis-romantisnya. Tapi setengahnya lagi aku malah merasa bahagia.. (???)

Anyway aku suka namanya, Matahari, meski sikap Matahari nggak menggambarkan matahari yang bersinar optimis di pagi hari di buku ini. #iniapaansih Matahari adalah sosok yang keras kepala, nggak bisa diatur (buktinya dia nekat bohong sama orang rumah di Yogya kalau dia kerja di kantor perfilman, bukan di Jelajah, tempat Irsal bersarang), dan suka menyimpan gundahnya sendiri. Meski nggak secerah, sebahagia, dan seoptimis matahari pagi, Matahari sanggup menarik Rakho dengan sikapnya yang nggak dibuat-buat dan sisi misterius yang bagai magnet untuk Rakho.

Rakho ini.. oke aku tahu dia digambarkan sebagai cowok yang super keren menurut pandangan Matahari. Tapi Rakho nggak berhasil membuat aku kesengsem seperti cowok ganteng di novelnya Mbak Retni yang lain, sebut sajalah si Sangga (apa kabar kamu sayang? #abaikansajalahini) meski dia udah jadi milik orang. T-T Kalau kalian tadi konsentrasi baca review ini, pasti tadi baca ada kata 'alay' di paragraf atas. Iya si Rakho emang alay (kali ini tanpa sensor), tapi masih dalam kadar alay yang nggak berlebihan lah. Tingkah Rakho persis kayak abege yang baru jatuh cinta, plus ungkapan-ungkapan puitis yang nggak sengaja ia pikirkan setiap lihat Matahari. Padahal umurnya udah tigapuluhan...

Novel ini diceritakan melalui dua sudut pandang, yaitu Matahari dan Rakho. Jadi kita bisa mengetahui setiap pikiran dan emosi dari dua orang ini. Menurutku Mbak Retni lumayan berhasil; Matahari yang bagian biasa aja, sedangkan Rakho pov bikin geli sendiri karena keabegean telatnya itu. xD

Aku malah kesengsem sama si Owan. Anaknya pecicilan, kerjaannya keluyuran entah kemana-mana. Sampai rute kapal aja dia ikutin karena penasaran—ceritanya dia ini memang traveller sih, tapi kadarnya udah parah. Rumahnya Owan? Udah jarang dihuni, tempatnya deket kuburan lagi. Apa nggak horor?! xD Aku selalu setuju sama Owan tiap kali dia ngusilin dan nyindir Rakho yang alay itu. Dimana siiiih nyari Owan ini? Aku juga pengeeen punya temen yang otaknya kurang se-ons kayak dia! >.<

Untuk ending, aku udah nebak sih.. malah ngarep ending-nya begitu. Eh ternyata emang bener begitu.. (begitu gimana, Lin?) Begini ni ni ni~ Begitu tu tu tu~ Begini~ Begitu~ Begini~ Begitu~ Itu lagu di iklan apa ya? #sakarepmulin :')))

Eh ternyata aku udah dua bulan nggak ngeblog ya? Ada yang kangen? #pedeabis Ah, nggak kayaknya. Jangan kangen juga deh.. susah ngobatin kangennya—ya artinya aku harus rajin ngeblog dong untuk ngobatin kangenmu itu? :'( #pemales Untuk sementara, nikmati review ini dulu ya. Omong-omong, udah baca buku ini belom? Suka sama Rakho atau Owan? Aku sih.. team Owan Angus~ #padahalnggakadayangnanyajuga

"Jangan berteriak-teriak mengaku kesakitan kalau kamu masih bisa melihat dan mengalami banyak hal menyenangkan dalam perjalanan hidupmu..." —Om Dud (hal. 221)

2 komentar:

  1. Aku sebel ngeliat alaynya si Rakho. Putus cinta tuh buat dia kayak udah habis aja masa hidupnya di dunia ini. Aku lebih suka Owan yang jauh lebih dewasa. Dan ya... aku juga sebel dengan endingnya yang "lah, gini aja". Kurang mengigit buatku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owan the best lah pokoknya!!! *kasih jempol 4*
      Hihihi kurang puas ya put endingnya.. pdhl aku masih kangen Owan~ (?)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...