Kamis, 31 Maret 2016

[REVIEW] Jane Eyre #PosBarMaret #BBILagiBaca

Ah.. finally ikutan posbar BBI juga setelah lama bolos. Bulan ini posbarnya bertemakan #BBILagiBaca, tema yang agak beda dibanding tema yang sebelumnya karena di sini, mulai 14 Maret, kita harus men-tweet tentang satu buku yang kita baca di bulan Maret. Well.. I picked Jane Eyre mumpung lagi kerasukan setan klasik. (?)

Aku sudah me-review sekilas tentang Jane Eyre di Twitter, berikut beberapa screenshots-nya. Silahkan di-klik untuk memperbesar gambar.

link twitter here.

Maafkan tweet-ku yang kurang menarik, soalnya aku paling bingung kalo disuruh nge-tweet tentang buku atau film, space-nya terbatas bangeeet! Rasanya kurang greget kalo harus disambung ke tweet berikutnya. Yang baca tweet (kalau pun ada) juga jadi kurang puas dan kemungkinan besar bakal merasa review yang kuberikan di tweet kurang ngena (yang emang kurang ngena banget).

Anyway, setelah beberapa hari ikutan posbar, aku kebetulan ngobrol sama Teh Peni, ya ngobrolin soal posbar ini sih. Dari obrolan itu aku baru tahu kalau sehari cuman boleh nge-tweet maksimal 5 kali tentang buku itu. Aku langsung..... errrr.. xD Itu pas tanggal 14 aku langsung ngoceh kayak tronton entah sampe berapa tweet. Maafkan akuuuuh~ hahahah.

Baiklah, move-on dari Twitter, saatnya kutulis review Jane Eyre versi lengkap.

Selamat menikmati.. ^^
(berasa kayak ucapan yang biasa ditulis di nasi kotak) -_-

***

"Kau, kesayangan Mr. Rochester? Kau dianugerahi kuasa untuk membuatnya senang? Kau penting sedikit saja di matanya? Pergi! Kebodohanmu membuatku muak. ... Tak ada gunanya wanita merasa tersanjung oleh pria yang berkedudukan tinggi darinya, sebab pria itu tak mungkin berniat menikahinya; dan semua wanita pasti gila kalau membiarkan cinta rahasia berkobar di dalam hati mereka, cinta yang kalau tak dibalas dan tak diketahui, pasti melahap hidup yang menumbuhkannya; dan kalau diketahui dan ditanggapi, hanya akan membawa mereka ke belantara berlumpur yang tak ada jalan keluarnya." (hal. 241)

Judul: Jane Eyre
Penulis: Charlotte Bronte
Penerjemah: Lulu Wijaya
Ilustrasi Sampul: Ratu Lakhsmita Indira
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010 (first published 1847)
Halaman: 688
ISBN: 978-979-22-6310-7
I rate it 5/5 stars

Aku memang sudah men-tweet sinopsis singkat Jane Eyre di Twitter, tapi karena aku reviewer yang baik hati, tanpa banyak protes dan teriak malas aku akan menulis ulang sinopsisnya di sini. :*

Sejak kecil, Jane Eyre yang yatim piatu diasuh oleh bibinya, Mrs. Reed—yang mempunyai tiga anak yang perilakunya tidak jauh berbeda dengannya— di kediaman Gateshead Hall. Mrs. Reed ini terpaksa mengasuh Jane Eyre karena permintaan suaminya yang sudah meninggal: ia disuruh untuk mengasuh keponakannya itu seperti ia mengasuh anaknya sendiri. Mrs. Reed memang mengasuh Jane di Gateshead, namun ia tidak pernah menyukainya. Bukan hanya karena Jane adalah orang luar, namun juga karena sikap Jane yang jauh berbeda dengan anak seusianya: tidak segan-segan mengutarakan pendapatnya, menolak jika ia dituduh bersalah padahal tidak, dan berani membela diri sendiri.

Saat Mrs. Reed tidak sanggup lagi menghadapi perilaku Jane, Jane yang berumur 10 tahun dikirim ke asrama Lowood, asrama sekaligus sekolah untuk mendidik anak-anak yatim piatu. Dalam kasus Jane, Mrs. Reed ini menambahkan di catatan kalau Jane merupakan anak yang suka berbohong. Lingkungan yang serba kekurangan di Lowood, juga kecaman dari Mr. Brocklehurst yang memperingatkan kepada seluruh sekolah kalau ia adalah anak yang jahat, awalnya membuat Jane sulit. Namun, lambat laun di sana Jane belajar berbagai macam hal, bukan hanya tentang pelajaran dan keahlian umum, tapi Jane juga belajar tentang arti persahabatan.

Lowood memang sudah seperti rumah bagi Jane, namun keteraturan di Lowood akhirnya membuat Jane yang suka tantangan ini bosan. Sehingga saat ia berumur 18 tahun, ia memutuskan untuk memasang iklan pekerjaan sebagai guru pribadi. Iklan itu berhasil. Ia diterima di Thornfield sebagai guru pribadi untuk seorang gadis Prancis kecil bernama Adele, anak asuh Mr. Rochester.

Di Thornfield inilah kisah Jane yang sebenarnya dimulai, setelah sebelumnya adalah perkenalan mengenai Jane Eyre sendiri. Baca buku ini emang harus sabar, lho, soalnya di awal-awal bab memang nyeritain tentang sekolahnya si Jane dulu. Nggak heran kalau banyak yang pengin nyerah baca buku ini. Tapi pleaaase.. jangan berhenti baca! Paling nggak baca dulu aja sampai ketemu sama Mr. Rochester! Di situ deh baru kalian putusin mau lanjut baca atau nggak. *kok maksa sih, Lin?* :p

Emang siapa sih Mr. Rochester itu?

Oh, si Rochester? Dia cuman cowok bujangan pemilik Thornfield yang eksentrik abis. Ganteng? Jauh dari itu. Sama seperti Jane yang tidak terlahir dengan kecantikan fisik, Mr. Rochester pun demikian. Bujangan kaya yang dua puluhan tahun lebih tua dari Jane itu memiliki wajah yang keras dan terkesan suram. Namun, fisiknya yang jauh dari tampan itu tidak mempengaruhi kehidupannya karena kesan yang ditunjukkan Mr. Rochester terhadap orang lain (baik terhadap para pelayan maupun bangsawan lain) membuat ia disukai dan dihormati. Tidak hanya mereka, namun Jane juga lambat laun mulai menyukai Tuaannya itu, yang menjadi akar dari cinta yang ia miliki untuk Mr. Rochester yang umurnya terbilang cukup jauh. Mr. Rochester pun nantinya juga lambat laun menyukai Jane yang cara berpikirnya berbeda dengan wanita-wanita bangsawan yang sering ia jumpai.

Adik: (dengerin aku nyeritain Jane Eyre) HAH?! Jauh banget beda umurnya, Kak! Pedofil ih si Rochester!
Aku: Yah.. seenggaknya Jane bukan bayi yang baru lahir trus langsung niat dinikahin sama Rochester ini!
Adik: Trus ini intinya gitu? Cinta dua orang yang umurnya beda jauh banget?
Aku: Bukan itu aja sih. Yang jadi klimaks di sini menurutku misteri Thornfield!

Yaps! Ada misteri di kediaman Thornfield yang berhasil bikin aku merinding: jeritan menyeramkan di tengah malam; ruang Mr. Rochester yang tiba-tiba terbakar; kerabat jauh yang tiba-tiba terluka parah saat berkunjung ke lantai tiga; dan pelayan misterius bernama Grace Pool yang seolah menyembunyikan sesuatu. Misteri ini yang menurutku menjadi klimaks. Misteri yang nantinya membuat Jane tergoncang dan mengambil keputusan besar.

"Apakah kaukira aku bisa tetap di sini dan menjadi bukan siapa-siapa bagimu? Apakah kau kira aku ini robot? Mesin tanpa perasaan? Sangup melihat secuil rotiku direnggut dari bibirku, dan setetes air hidupku ditumpahkan dari cangkirku? Apakah kau sangka karena aku miskin, tak berkedudukan, jelek, dan kecil, berarti aku tak punya jiwa dan tak punya hati? Sangkaanmu salah! Aku punya jiwa, sama seperti kau—aku juga punya hati yang sama luasnya denganmu! Dan andai Tuhan menganugerahiku sedikit kecantikan dan banyak harta, aku pasti sudah membuatmu berat meninggalkanku, seberat aku meninggalkanmu sekarang." (hal. 381)

Dengan berat hati aku akan bilang kalau klimaks dari buku ini ada di beratus-ratus halaman berikutnya (so brace yourseeeelf!). xD Aku sendiri agak kaget dan geli juga sih, aku kira ceritanya bakal gitu-gitu aja sampe selese, ini malah ada twist segala! *langsung ubah posisi baca*

Meski demikian, nggak berarti aku bosan membaca bagian awalnya (mungkin iya, kalau aku baca versi bahasa Inggris, mumet jeung baca klasik tapi nginggris, aku nggak kuaaat!), aku malah menikmati setiap perkembangan kehidupan Jane Eyre yang dikisahkan secara perlahan. Karena tanpa bagian awal itu, aku rasa aku nggak akan berhasil mengenal pribadi Jane dan ikut merasakan emosi-emosi yang dirasakannya; kesal, marah, sedikit minder, tergoncang, bahagia, bingung, dst.

Aku tentu saja juga menikmati kisah Jane di Thornfield yang tidak lagi semonoton Lowood: suasana Thornfield yang kelam di malam hari, pesta-pesta yang diadakan di sana, deskripsi setiap bangsawan yang digambarkan Jane saat mereka tinggal di rumah itu. Aku juga menikmati keusilan Mr. Rochester! Iya, meski Rochester ini agak-agak judes, dia hobi ngusilin orang. Silahkan cari tahu sendiri gimana usilnya Rochester di sini! xD

Jane sendiri merupakan gadis yang cerdas, baik, sopan, pemberani, dan juga ada sedikit keegoisan di dalam dirinya. Sikap egois ini yang jadi poin plus di mataku —yang mana kalau dia nggak egois ingin mememerdekakan keinginannya, tapi malah nurut-nurut aja sama orang, aku mungkin bakal ngelempar buku ini ke selokan depan rumah.

Untuk terjemahanya sendiri, menurutku udah cukup bagus dan nggak terlalu melenceng dari penulisan Madam Charlotte (I know because I've read some of my favorite scenes in English version), meski sebenernya lebih greget baca versi asli. Tapi, aku nggak akan mungkin sanggup baca klasik dalam versi bahasa Inggris. Bisa bisa berbulan-bulan kemudian aku baru ganti baca buku lain—versi Indonesia aja kadang lama~ *lirik Les Miserables yang dibaca dengan perasaan miserable yang sebulan kemudian baru selese* *pura-pura amnesia belom nulis review-nya* *ditabok*

Omong-omong, buku ini termasuk dalam daftar 1001 Books to Read Before Die, daftar yang menjadi misteri untukku karena kebanyakan isinya buku-buku yang terbit sebelum aku lahir alias klasik, dan yang juga membuatku bertanya-tanya apakah buku itu pantas dimasukkan dalam daftar, juga apa yang membuatnya seistimewa itu.

Menurutku pribadi, Jane Eyre merupakan buku yang sederhana, namun istimewa. Ceritanya murni tentang roman antara Jane Eyre dan Mr. Rochester, dengan selipan sedikit misteri yang menjadi jurang dalam hubungan mereka. Yang membuat buku ini terasa istimewa bagiku adalah ketulusan cinta Jane Eyre dan Mr. Rochester. Ya ampun, Lin, cuman karena tulus doang kamu sebegitunya nganggap buku ini istimewa? Wah, nggak. Ada adegan yang susah kujabarkan di sini tanpa spoiler. Satu adegan yang aku suka, yang bikin aku berkaca-kaca saking terharu, yang menggambarkan betapa tulusnya mereka itu. You have to read it by yourself untuk mengerti apa yang kumaksud!

Poin lain yang membuat buku ini istimewa untukku adalah... emosi yang dirasakan Jane itu bisa nular ke aku. Oke aku nggak tahu ini berefek ke setiap readers Jane Eyre atau nggak, tapi yang jelas, aku ikut merasakan jatuh bangun sedih bahagianya si Jane ini. Dan ya, aku setuju kalau buku ini harus dibaca paling nggak sekali seumur hidup! :)

Last, sebelum menutup review, aku punya beberapa saran yang kemungkinan besar bisa membantu teman-teman biar nggak gagal baca Jane Eyre di tengah jalan. :p
1. Sebelum membaca Jane Eyre, pastikan mood teman-teman emang lagi pengen baca klasik. Beneran lagi kerasukan klasik pokoknya! Alasannya, ya selain karena bahasa klasik itu bertele-tele, bab-bab awal Jane Eyre ini juga menjemukan bagi sebagian orang.
2. Jangan selingi sambil baca your cup of tea genre's stand-alone apalagi series, karena percayalah lama-lama Jane Eyre jadi terlupakan di tengah jalan. :"
3. No offense. Soanya aku nulis saran ini cuman karena iseng dan pengin nambah-nambahin kalimat aja. :p *dilempar pempek kapal selem*

See you next time on another posbar kalo lagi nggak males atau amnesia jadi anggota BBI. :)
*senyum tanpa dosa* :)))))))))))

review ini dimaksudkan untuk
PostBar BBI bulan Maret 2016

8 komentar:

  1. Great review!
    Visit back my blog :) http://98thoughts.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thankyou, Julie! ^^
      Done visiting yours, anyway. :)

      Hapus
  2. Aku baca Jane Eyre (dulu) berhari-hari....dan sebel sama Rochester. Yah..gara-gara misterinya itu.

    Kayaknya ini buku klasik bantal pertama yang aku baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terkesan egois dan jahat ya kak xD

      Hapus
  3. Aku dulu baca versi inggrisnya, dan surprisingly cukup menyenangkan, nggak bikin jelimet pusing sampe mual2 hahaha... anyway aku malah penasaran sama sisi lain kehidupan rochester (terutama misteri di loteng itu), karena menurutku korban sesungguhnya itu ya si sosok loteng itu (susah ya kalo ngga mau spoiler hahaha)... anyway nice review!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rochester masa muda emang kelihatannya brengsek ya. Aku awalnya kesel juga apalagi pas akhirnya nyampe 'klimaks loteng'. Tapi aku bersyukur setelah kejadian itu si Rochester nggak sebrengsek itu lagi.. xD
      (Oke, ini bukan spoiler kok, aku sudah berusaha!) :p

      Hapus
  4. Wah, sudah punya buku ini dari tahun 2012 tapi belum juga kebaca *sarjana sasing yang gagal*

    Errr ...tentang tweet, aku malah cuma ngetweet dua kali selama bulan Maret hiks *dihajar divisi event

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibaca dong, Dioooon.. kasian Mbak Jane Eyre dianggurin muluuu :p

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...