Senin, 07 Oktober 2013

[REVIEW] A Dash of Magic

"Kalau kau menang, yang jelas tidak mungkin, aku akan berhenti menjual Bahan Sihir, dan aku akan mengembalikan Booke. ... Tapi, kalau aku menang—dan aku akan menang—kau harus bersumpah padaku bahwa tidak seorang pun dari anggota keluargamu yang aneh, kampungan, dan norak itu akan pernah mendekatiku atau pun Booke lagi." (hal. 23)

Judul: A Dash of Magic
Seri: The Bliss Bakery Trilogy #2
Penulis: Kathryn Littlewood
Penerjemah: Sujatrini Liza
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2013 (first published 2012)
Halaman: 312
ISBN: 978-979-433-811-7
Harga: Rp49.500,-
I rate it 5/5 stars

*NO SPOILER*
Aku suka makan. Sampai-sampai temanku bilang, "Jangan pernah bawa si Linda jalan kalau ujung-ujungnya dia kelaparan!" x) Tapi, aku nggak suka masak. Nggak sepenuhnya nggak suka masak. Kalau lagi mood doang baru mau masak.. dan sayangnya menunggu-aku-lagi-mood itu sama saja seperti menunggu meteor jatuh ke bumi. *merunduk malu karena bisanya cuma makan*

Berbeda dengan Rosemary Bliss, atau lebih akrab kita sapa Rose. Dia sukaaaa sekali memasak muffin dan kue-kue mungil lainnya, apalagi kalau itu berhubungan dengan Bliss Cookery Booke. Buku dengan 700 resep ajaib yang bisa membuat kue luar biasa menjadi LUAR BIASA (dengan huruf kapital). Sayangnya, setelah 'kecelakaan' yang terjadi pada Cookery Booke di buku satu, Rose dan keluarganya tidak pernah menyentuh Booke lagi. Sejak itu, mereka hanya membuat kue-kue biasa. Yang paling mengenaskan adalah penduduk Calamity Falls, tempat keluarga Bliss tinggal, mereka terlihat tidak bersemangat. Calamity Falls tidak lagi sehangat dulu..

Nah, disinilah Rose dan keluarganya sekarang, berjuang untuk mendapatkan kembali Cookery Booke mereka dengan cara memenangkan kompetisi pastry internasional di Paris, Gala des Gateaux Grands. Jika mereka menang, maka si penyihir jahat yang telah merampas Cookery Booke berjanji akan mengembalikan buku ajaib itu. Tapi, apabila keluarga Bliss kalah, mereka harus berjanji untuk tidak pernah mencari Cookery Booke lagi.

Yang mereka lawan bukanlah orang sembarangan, melainkan koki pastry terkenal yang menggunakan sejumput sihir rahasia yang mengakibatkan seluruh orang yang memakan hidangannya terpesona dengan pastry tersebut. Tidak seluruh keluarga Bliss akan tampil dalam kompetisi itu. Rose dan Thyme (Ty) lah yang mewakili Bliss. Ya, anak kecil yang nekat ikut kompetisi bersama mereka yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi, hanya DEMI mengambil kembali hak mereka akan Cookery Booke.

Berhasilkah Rose dan Ty merebut kembali Cookery Booke dari tangan penyihir jahat? Apakah bila mereka menang, sang penyihir mau menepati janjinya? Bacalah buku ini dan kau akan kelaparan saking lezatnya buku yang kau baca. :)

Sir Bliss memasukkan empat genggam tepung putih di tengah mangkuk kayu. Ke dalam tepung itu dia memecahkan sebutir telur ayam, lalu menuangkan sebiji-ek vanili dan setongkat mentega sapi leleh. Setelah itu, dia menambahkan bisikan manis kekasih, yang dikentalkan dalm mentega almond. (hal. 64)

Kalau dilihat dari review para teman, mereka rata-rata memberikan 3 bintang. Beda sama aku yang ngasih perfect rating untuk buku lezat ini. Mungkin karena aku memang suka sama buku model begini. Atau karena aku yang rakus dan nggak bisa menahan godaan melihat/membaca makanan enak. :p

Di buku kedua Bliss Bakery Trilogy ini, kita akan diperkenalkan dengan kakek dari kakek buyutnya Rose yang bernama Balthazar, si kucing gendut yang bernama Gus (bukan Augustus Waters ya :p), dan tikus dengan flute yang bernama Jacques. Mereka bertiga adalah karakter-karakter yang memiiki kehangatan setara roti yang baru matang. Harum dan hangat, juga terlihat lezat (yah, tidak secara harfiah).

Sedangkan karakter Rose, kau harus bersiap-siap karena Rose tak lagi sama di sini. Dia memang menyebalkan! Aku akui itu. Tapi, kalau aku menjadi Rose, aku pasti juga akan merasa demikian tertekan. Wajar saja menurutku kalau Rose bersikap demikian. Diantara saudara-saudaranya, dia lah yang paling serius dan paling tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri perihal hilangnya Cookery Booke yang disebabkan olehnya. Dan menurutku memang iya, dialah yang bertanggung jawab atas hilangnya Booke, tidak 100% tentunya. Aku salut pada Rose yang berani untuk berjuang meskipun berkali-kali ia merasa dirinya sudah TAMAT!

Aku jadi tambah jatuh cinta pada Sage, adik Rose yang polos, yang ingin tampil di depan layar, yang tidak mau hanya menonton saja, yang ingin sekali ikut andil dalam menyelamatkan Booke. Tekadnya yang kuat itu membuatku menjadikan Sage sebagai tokoh favorit. Sage lah yang berperan besar dalam kompetisi pastry itu. Ah, kau memang pahlawan, Sage! *mengacak-ngacak rambut merah Sage yang keriting*

Si penyihir jahat dan asistennya yang cebol seperti kurcaci juga bukanlah karakter jahat yang bisa dipandang sebelah mata. Mereka berkali-kali membuatku kesal hingga rasanya aku ingin melempar adonan ke wajah mereka. Atau menyelubungi tempat tidur mereka dengan madu biar lengket! Biar mereka kapok. But yeah, memang begitulah seharusnya. Nggak ada antagonis yang nggak jahat. Dan kalau nggak ada antagonis, kisah ini nggak akan seru.

Selama membaca buku ini, jujur saja aku selalu kelaparan. Setiap kue digambarkan dengan manis. Dan tiap resep ajaib dideskripsikan sampai membuatku tergiur sekaligus ngeri dan jijik melihat bahan ajaib yang dimasukkan ke dalam adonan. :p Makanan yang PALING membuatku penasaran sekaligus ingin kucicipi adalah Polenta buatan kakek Balthazar!!!

Dan seperti yang sudah aku kenal melalui buku pertama Bliss Bakery Trilogy, aku merasa nyaman membaca paragraf demi paragraf yang ditulis oleh Kathryn Littlewood. Dan menurutku, buku ini lebih seru daripada buku pertama. Entah kenapa kalau ada orang lagi ikut kompetisi memasak begitu, aku paling grogi dan heboh sendiri. Begitu jugalah perasaanku saat membaca buku ini. Aku tidak bisa tidak heboh saat menyaksikan Rose dkk mengambil rahasia senyum Mona Lisa, berusaha merayu gargoyle demi mendapatkan dentang lonceng Notre Dame sang Emanuel, sampai mendapatkan harapan hantu. Menegangkan sekaligus menyenangkan! ^^

Di beberapa bagian, aku juga sempat terharu karena kehangatan keluarga yang begitu berlimpah di A Dash of Magic. Definitely a warm book to hug. Recommended!

"Dan, kau tahu? Semua akan berubah menjadi istimewa dengan caranya sendiri saat kau membutuhkannya." (hal. 257)

11 komentar:

  1. ahhh... mupeng banget sama buku ini habis baca reviewnya... buku pertama aja belom punya kaka..... hiks..hiksssss......

    BalasHapus
  2. Huhuhu buku pertama aja belum punya dan baca >.< Sudah lama naksir tapi ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dweedy & Liez: ayo dibeli, mumpung belum out of stock. :p

      Hapus
  3. hhuhuhu, buku pertama aja belum baca *padahal udah punya*

    BalasHapus
  4. Gimana kalau aku minjem dari Linda aja, hehehe :P

    BalasHapus
  5. Buku yang trilogy satunya judulnya apa dan beli dimana? Thanks;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Judulnya Bliss. Di toko buku online ada kok. :))

      Hapus
  6. novel bliss ini sampe berapa series y?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampe tiga buku, kan trilogi. ^^

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...