Sabtu, 12 Oktober 2013

[REVIEW] Dramaturgi Dovima

Perempuan itu kembali mengomel. Aku terenyak karena mengenal betul suaranya. Perempuan itu. Ibu...
     Si bocah perempuan terlihat ingin menangis, menggigit bibir bawah kuat-kuat untuk menahan perasaannya. Wajah bocah itu. Wajahku... (hal. 15)

Judul: Dramaturgi Dovima
Penulis: Faris Rachman-Hussain
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2013
Halaman: 232
ISBN: 978-979-22-9528-3
Harga: Rp40.000,-
I rate it 3/5 stars

Menjadi anak seorang reporter terkenal, Seruni Said, bukanlah hal yang membanggakan maupun menyenangkan bagi Dovima Said. Sejak kecil ia dididik dengan keras oleh ibunya. HARUS menuruti apa yang dikatakan ibunya. Seruni Said lah yang mengatur hidup Dovima. Hingga Dovima tumbuh menjadi seorang reporter yang cerdas seperti Seruni. Cerdas, namun keras.

Nah, aku rasa sampul buku ini begitu tepat menggambarkan pribadi Dovima dan Seruni yang nyaris sama. Dovima memiliki kekerasan hati Seruni. Dovima menjadi seorang jurnalis cerdas dan cekatan. Dovima boleh mempermainkan cinta sesuka hatinya seperti halnya yang dilakukan sang ibu yang kini telah menjadi single parent. Namun, dia juga berbeda dari Seruni. Hati Dovima keras karena disana ada luka yang disebabkan oleh ibunya sendiri, bukan egoisme.

Di sinilah Dovima sekarang, memulai karir sebagai calon reporter di Kala. Mengikuti jejak ibunya. Juga sedikit demi sedikit membuka lembar masa lalu ibunya yang selalu ditutupi Seruni dengan apik..

"Kebahagiaan hanya untuk orang-orang biasa yang memiliki pikiran sederhana. Dia putriku. Greatness is her legacy," gumam Seruni, lebih kepada pembenaran dirinya sendiri.
"Pada satu titik, kau harus menyadari bahwa kau telah melakukan apa yang kau bisa untuk dirinya. Tapi kau tak akan bisa memaksa dia melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan."

Sesaat setelah menghabiskan lembar terakhir Dramaturgi Dovima, sambil memejamkan mata dan terpaksa menghirup udara yang nggak segar lagi di sore hari dalam BRT (ya bayangin aja ketek orang pada diangkat gitu), aku mengulang kembali awal 'pertemuanku' dengan Dovima Said (saat menunggu di halte) dan 'perpisahanku' dengan dia (di dalam BRT)..

Nah, saat rewind kisah hidup Dovima tadi, aku merasa dibawa kembali dalam kehidupan Dovima. Kehidupan yang dibayang-bayangi ibunya. Kehidupan yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh Dovima sendiri. Kehidupan yang sejak kecil telah 'dijalankan' oleh ibunya melalui diri Dovima. Kehidupan yang telah ia jalani sebagai robot.

Dari sana aku baru ngeh, kalau ini metropop tapi nggak kayak metropop. High-class sih masih! Tapi kisahnya agak berbeda, agak gelap. Dilatarbelakangi dunia jurnalistik dan kasus ini-itu. Diperankan oleh karakter utama yang nggak sempurna melainkan bikin sebel sekaligus nelangsa. I have to say that seorang Dovima bukanlah karakter impian sang pembaca (aku). Meski demikian, aku suka buku ini. Menurutku buku ini masih fresh, dengan tema yang baru juga untukku. Glad to gave this book a chance. Dan aku pun dengan senang hati memberikan tiga bintang untuk Dramaturgi Dovima.

Sayangnya, saat hendak meng-update progress baca di Gutrits menjadi 'finished', aku ragu mau ngasih rating berapa.. *dilempar adonan donat*

Mau kasih bintang tiga, kok kayaknya kebanyakan. Aku nggak suka sama Dovima. Aku nggak suka sama sikapnya yang seenak dengkul mempermainkan Kafka Ganteng dan Mas Madji. Aku nggak suka (BANGET) sama ending-nya. Dan yang paling bikin aku protes itu adalah: beberapa percakapan yang ditulis dalam bahasa planet a.k.a bahasa Inggris.

Well, nggak masalah sih kalau ada kalimat yang ditulis dalam bahasa Inggris. Itu biasa memang bertaburan dalam metropop. Aku juga alhamdulillah ngerti-ngerti aja. Tapi menurutku yang namanya buku Indo itu nggak boleh begini; nulis dalam bahasa asing TAPI nggak ditulis artinya apa. Masalahnya itu ada di pembaca. Yo wes lah no problem kalau pembacanya ngerti, tapi kalau kebetulan pembacanya nggak bisa bahasa asing, kan mereka susah mengartikan maksud si penulis. :((

Gegara poin-poin barusan, dengan tega aku memberikan dua bintang untuk dramaturgi ini.

Lalu muncul pertanyaan, kenapa nggak dikasih rating 2.5 aja daripada plin-plan mau ngasih rating? Yah, rating segitu nggak cocok disandingkan dengan buku ini. Ujung-ujungnya aku malah kasih tiga bintang, kan? :)

Dramaturgi Dovima menurutku lumayan menarik, topiknya juga nggak dangkal. Pada akhirnya aku bisa mengerti kenapa Dovima bersikap atau memiliki hati yang sedemikian 'batu'. Pengaturan setting dunia jurnalistik ini juga menarik dan berhasil membawaku berjalan-jalan ke dunia yang baru bagiku itu untuk sementara. Ditambah lagi aku suka penulisannya Faris Rachman-Hussain. Makanya, aku rasa buku ini pantas untuk diberi rating akhir berupa tiga bintang! Perkenalan dengan Dramaturgi Dovima membuatku tak keberatan untuk mencoba karya Faris yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...