Selasa, 16 Juli 2013

[REVIEW] The Thirteenth Tale

Semua orang punya cerita. Itu seperti keluarga. Kau mungkin tak tahu siapa mereka, mungkin kau telah kehilangan mereka, tapi mereka tetap ada. kau mungkin telah menjauh atau mungkin memunggungi mereka, tapi kau tak bisa berkata kau ta memiliki mereka. Cerita juga seperti itu..

Judul: The Thirteenth Tale
Penulis: Diane Setterfield
Penerjemah: Chandra Novwidya Murtiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2008
Halaman: 608
ISBN: 978-979-22-4129-7
I rate it 5/5 stars

...Tapi keheningan bukanlah lingkungan alami untuk cerita. Cerita membutuhkan kata-kata. Tanpa kata-kata, cerita akan menjadi pucat, sakit, dan mati. Kemudian mereka akan menghantuimu.

Tadi malam aku mencoba membuat review The Thirteenth Tale di buku coretan, tapi gagal. Aku cuman bisa nulis kurang dari satu lembar, itu pun bukan review. Melainkan ungkapan perasaan kesalku karena nggak kunjung berhasil gimana buat reviewnya. Pagi ini juga sama. Belum ada hasil apa-apa. Berbekal kegalauan karena nggak bisa nulis review, aku cuman bisa menatap kotak entri baru. Bingung. Jadi, jangan protes kalau review ini nggak cukup mampu menyamai kecantikan buku itu sendiri.

The Thirteenth Tale adalah buku yang menceritakan tentang seorang penulis tua yang terkenal, yang telah menciptakan ratusan dongeng, yang telah menulis puluhan buku, namun kisah hidupnya sendiri dianggap misterius oleh para pembaca maupun jurnalis. Namanya Vida Winter. Nama yang 'tajam'.

Ada pula di suatu toko buku tua, seorang gadis muda bernama Margaret Lea. Ia penulis biografi, tepatnya penulis biografi orang yang sudah mati. Cintanya terhadap buku melebihi cintanya terhadap manusia. Fanatik banget! Dia nggak mau menulis biografi kalau orang yang bersangkutan belum mati, itu motonya.

Namun, suatu hari dia menerima surat. Dari Vida Winter. Tanpa diduga ia diharapkan untuk menulis biografi penulis yang tinggal menghitung mundur waktu hidupnya itu. Awalnya ia menolak. Namun, akhirnya menyetujui untuk menulis biografi sang penulis karena Miss Winter menyinggung sekilas tentang dua anak kembar...

Udah.

Udah? Itu doang?

Iya, udah. Inti kisahnya memang begitu. Sederhana? Ya dan tidak. *ya ampun, berapa kali aku nulis kalimat di sini tapi kuhapus-kutulis-dan kuhapus lagi?* Ya karena buku ini mengisahkan tentang masa lalu seorang penulis. Tidak karena kisah sang penulis tidak seperti yang kita duga. Suram, iya. Dingin, iya. Bikin sakit, iya.

Ini adalah kali pertamanya aku membaca buku sampai 'sesakit' ini. Awalnya aku memang biasa saja, tapi sejak menjejakkan kaki di kisah Miss Winter, aku langsung terjun bebas ke dalam kisahnya. Seperti Margaret Lea yang awalnya menolak mentah-mentah untuk mendengarkan, namun kemudian terperangkap dalam dongeng nyata Vida Winter.

Buku yang tidak semudah itu bisa kaulepas. Tiap kali aku menutup buku, rasanya ada yang hilang. Memang lebay, terserahlah kalian mau menjulukiku apa! Tapi memang demikian adanya. Ada yang menarikku untuk cepat-cepat kembali menjorokkan diri ke dalam kisahnya. Saat tidur pun aku memikirkan mereka, para tokoh.. Isabelle, Charlie, si kembar Adeline dan Emmeline, John-the-dig, Missus, Hester, Dokter Maudsley, Ambrose, Aurelius, si hantu.. bagaimana kisah mereka selanjutnya adalah misteri yang sulit ditebak. Dan setelah sampai di akhir halaman, dhuaaaar! Twist-nya bikin rambut rontok, hati teriris-iris, pengin nangis tapi rasanya ada yang nahan. (?)

............

*berikan aku pencerahan please biar bisa nulis review ini*
*beberapa menit kemudian*

............

Okay, aku menyerah! Aku nggak akan bisa buat review ini lebih panjang lagi. Kisah yang too dark. But yes, beautiful!

Dongeng Ketiga Belas yang hilang..
kediaman Angelfield yang tua dan hampir roboh..
penghuni Angelfield yang hidup namun mati jiwa..
hantu yang menjadi saksi keseluruhan kisah di rumah itu..
*meluk buku lama-lama.. erat-erat..*

The Thirteenth Tale adalah buku yang 'hidup', punya jiwa. Salah satu buku yang kemungkinan besar akan kubaca lagi dan lagi. Nggak heran kalau aku merasa 5 bintang itu terlihat terlalu sedikit untuk buku apik ini.

*meluk The Thirteenth Tale (lagi)*
*meluk Vida Winter*
*meluk Aurelius*
*meluk Diane Setterfield*
*nambahin buku terbaru Diane (Bellman and Black) meskipun belum terbit*

Bye.. everyone. Hari ini pikiran dan jiwaku mau berdua bareng buku ini dulu..

...ada terlalu banyak buku di dunia ini untuk dibaca dalam satu kehidupan saja, jadi kau harus memberikan batasan di suatu tempat. (page 53) 
Kita kadang-kadang menjadi sangat terbiasa dengan kengerian yang ada pada diri kita, dan lupa betapa ngerinya hal tersebut bagi orang lain. (page 90)

NB: this post is listed on my Read Big Challenge 2013.

15 komentar:

  1. jadi ingat, pernah baca buku ini 2 atau 3 tahun yg lalu. Jadi pengen salin ripiuku yg ada di gr dan pindahin ke blog.

    IMO 100 halaman pertama ngebosenin

    Plot twist lumayan keren, penulisannya ala gothic

    BalasHapus
  2. ah, selesai juga bacanya akhirnya... bagus kan? sakit, nyesek, kasian banget lah itu... hehe...

    BalasHapus
  3. Lina: pindahin aja, mbak, pengin baca pendapatmu juga. Nanti copy aja linknya di sini huehehehe. :p

    Sabrina: BAGUS! BANGET! Ada rasa kehilangan juga sebenernya hahaha. :')

    BalasHapus
  4. aku suka banget buku ini. sampe ga bisa move on baca buku lainnya berhari hari XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak. Aku lagi baca buku lain nih, tapi pikiranku masih ke buku ini. Aaaaaaaaa BEST BOOK EVER! Jujur aja aku nggak pernah baca buku sampe merasa kehilangan banget pas selesai bacanya.. uhuhuuu~

      Hapus
  5. duh, aku jadi kepengen punya en baca buku ini *masukin wishlist* >.<
    eh itu intronya, aku juga lagi ngalamin susah bener mw ngereview buku. buku yang lagi susah untuk aku review itu Me Before You, ih, padahal udah re-read tp draft review-nya ngga maju-maju. Hahhha. *ketawa dudul*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay! Ziy harus baca! Ahahah iya itu aku bingung banget. Ada kali berkali-kali 'ngeremet' keyboard saking keselnya dari tadi ngapusin kalimat-ini-dan-yang-ituu.

      Aku belum baca Me Before You tapi udah dimasukin wishlist dari kapan-lagi-itu-aku-lupa. Udah punya ebooknya tapi males bacanya. Pengin baca terjemahannya aja huehehehe. :p Semangat buat reviewnya! Nanti aku baca hehe.

      Hapus
  6. Setuju dengan komentarnya Lina di atas. 100 halaman pertama bosannya bukan main. Mungkin karena ceritanya masih belum lengkap dan masih banyak misteri yang belum terungkap. Tapi pas semakin dalam bacanya, makin tenggelam dalam cerita setiap tokohnya. Twist-nya juara banget.

    Intinya suka banget sama buku ini dan niat re-read buat dibikin review-nya, soalnya sama dengan Linda. Agak sulit bikin review buku ini. Hahaha...

    Oh iya, satu lagi. Penerjemahnya keren, kalimat-kalimat yang diterjemahkannya juara. Walaupun terkesan berat, tapi pas aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha aku ada kali baca bab 1 selembar langsung disambi sama tidur siang saking bosennya. Tapi bener banget! Pas baca semakin dalam langsung deh aku bener2 tenggelam sama kisahnya.

      Aku udah bandingin terjemahan sama versi aslinya, dan setuju banget kalau penerjemah yang satu ini oke banget nerjemahin The Thirteenth Tale. :)

      Hapus
  7. Belum sempat membaca buku ini dan reviewnya sama sekali tidak membantu :p hahahaha Tapi ia si mereview buku yang kita suka emang lebih sulit dibandingkan buku yang tidak kita suka >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca deh buku ini! Abaikan aja ripiunya, tapi jangan abaikan bukunya. It's a must to read this book. The word 'pretty' isn't enough to describe this masterpiece! #halah >.<

      Hapus
  8. hmmh, dari review Linda-san kesan yang saya dapet sebagai orang yang butuh masukan pertimbangan untuk baca buku ini adalah kalau buku ini ternyata sangat bagus tapi juga sangat dark... dan beberapa hal lain yang entah kenapa, jujur, malah bikin saya bingung mau baca atau enggak ya buku ini, hehehe A___A #plak

    tapi untungnya Linda-san juga sudah menyediakan cukup banyak cuplikan-cuplikan buku ini yang bisa memberitahukan gambaran tentang seperti apa cerita bukunya, hehehe. mungkin saja memang kata-kata terlalu sulit untuk menggambarkan gimana buku ini ya^^a

    but overall, saya rasa kalau begitu buku ini memang sangat menarik... kalau saya tertarik jadi depressed in awe juga seperti yang dikesankan Linda-san dalam review ini ya OwOa #seenaknya

    maaf sebelumnya kalau ada kata-kata yang menyinggung, but thanks for reviewing :D #emangnyakamuyangnulis salam kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, buku ini keren meskipun dark banget. Tapi kesan dark itulah yg aku suka. Ditambah lagi sama temanya yang nggak mainstream. :))

      Thanks udah mampir. Glad udah bisa bagi review aku. ^^

      Hapus
  9. Linda, ini ripiuku soal 13th tale :

    http://lady-storytelling.blogspot.com/2013/09/the-thirteenth-tale-dongeng-ketiga-belas.html

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...