Jumat, 26 Juli 2013

[REVIEW] I Am Number Four

Mulanya kami bersembilan. Tiga hilang, mati. Tinggallah kami berenam. Mereka memburu kami. Mereka tak akan berhenti hingga selesai membunuh kami semua. Aku Nomor Empat. Berikutnya adalah giliranku. (page 17)

Judul: I Am Number Four
Seri: Lorien Legacies #1
Penulis: Pittacus Lore
Penerjemah: Nur Aini
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2011
Halaman: 500
ISBN: 978-979-433-606-9
I rate it 3/5 stars

Mogadorian, penghuni planet Mogadore, menghancurkan planet Lorien. Hanya beberapa yang bisa diselamatkan dari planet Lorien. Sembilan Garde (Pusaka Lorien yang diharapkan suatu hari nanti bisa mengembalikan asrinya Lorien) dan sembilan Cépan (pendamping para Garde yang tidak dikaruniai kekuatan spesial layaknya Garde), serta awak yang mengoperasikan pesawat luar angkasa. Sejak sepuluh tahun lalu mereka diungsikan ke Bumi, tinggal di tempat yang berbeda-beda. Berusaha untuk tidak bertemu dengan Garde yang lain agar mantra 'urutan angka' tidak musnah.

Urutan angka?

Para Mogadorian mengincar para Garde, membunuh mereka satu per satu. Namun berdasarkan urutan angka. Yep, harus berurutan dan mereka harus berusaha untuk tidak 'reuni' antar Garde. Atau para Mogadorian nantinya bisa membunuh mereka secara acak.

Ada ikatan antara sembilan Garde tersebut. Jika ada salah satu yang mati, mereka ikut merasakannya. Kematian Garde yang lain 'mengecap' di kaki mereka. Mereka harus terus waspada. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mengganti identitas. Menghitung mundur. Menunggu dengan cemas kapan Pusaka pertama mereka datang, terutama Pusaka Utama yang menjadi andalan masing-masing Garde.

Nomor Satu sudah mati, begitu pula Nomor Dua dan Nomor Tiga. Tinggallah enam Garde, dan masing-masing mereka mulai mendapatkan dan mengembangkan Pusaka masing-masing. Pusaka yang menjadi kekuatan mereka untuk melawan balik Mogadorian.

Kini para Mogadorian mengincar Nomor Empat. Ia baru saja pindah ke Ohio bersama Cépannya, Henri. Memiliki kartu identitas palsu atas nama John Smith. Di Ohio, John bertemu dengan Sarah, cinta pertamanya, cinta yang membuatnya terikat di tempat itu dan tidak ingin berpindah ke tempat lain lagi. Ia juga bertemu dengan Sam, satu-satunya teman yang dimiliki John, yang tergila-gila pada alien. Di Ohio juga lah, Pusaka pertama John muncul.

Bagaimana kehidupan John di Ohio? Mampukah ia mengembangkan Pusakanya? Berhasilkah ia selamat dari para Mogadorian?

Aku tidak mungkin memiliki teman atau setidaknya merasa berhasil menyesuaikan diri. Aku muak dengan nama-nama palsu dan berbagai kebohongan. Aku muak selalu menengok ke belakang untuk melihat apakah aku dibuntuti. (page 58)

I Am Number Four adalah salah satu buku yang berniat untuk kubaca karena aku sudah menonton film adaptasinya (reviewed here). Alasan lain sih karena penasaran. Capek banget nungguin film adaptasi yang kedua, The Power of Six. Makanya aku pilih baca bukunya dan lanjut ke buku duanya (nanti, kalau udah punya bukunya dilengkapi dengan nanti, kalau Mizan diskon lagi). :p

Perasaanku setelah baca bukunya? Biasa aja sih.

Aku tertarik saat baru saja membuka buku ini. Gimana nggak? Di bagian awal buku diperingatkan kalau kisah di buku ini benar-benar nyata. Kaget? Iyalah. Entah Pittacus Lore yang kadar leluconnya lagi tinggi atau dia sengaja nakut-nakutin, atau dia emang serius ya aku nggak tahu. Yang jelas kalimat itu buat aku geleng-geleng kepala. Nih, kalimatnya:

Peristiwa-peristiwa dalam buku ini benar-benar nyata.
Nama dan tempat diubah demi melindungi enam Lorien yang bersembunyi.
Anggap ini peringatan pertama.
Peradaban lain memang ada. (kalau ini sih aku percaya)
Beberapa diantaranya malah ingin menghancurkanmu. (ini juga percaya)

*sembunyi dalam Invisibility Cloak* #SalahPokus
Maak.. aku hidup di Bumi yang sama dengan alien. Etapi di kampus emang ada alien sih, dalam pengertian yang berbeda tentunya. Okay, ini bulan puasa. Dilarang ngomongin temen sendiri. -_-

Saatnya serius. Aku suka sama gaya penulisannya Pittacus Lore dan terjemahannya juga lumayan enak disantap. Terbukti dengan aku yang teruuus aja baca buku ini mulai bab 5 sampai bab akhir dari selesai sahur sampai menjelang zuhur. Yaah lagi kurang kerjaan juga sih. *nyengir*

Aku juga suka tema yang diangkat oleh buku ini. Tentang alien! Ada heronya, ada ceweknya juga (yang bikin gerem geeeeeezzzz.. -_-), dan ada musuhnya. Tipikal kisah yang biasa memang. Tapi tetep aja enak dibaca. Kan tergantung penulisnya bisa mbolak-mbalik perasaan pembaca dan buat pembaca nyaman. Dan sesungguhnya aku nyaman baca buku ini karena tulisannya gede-gede juga dilengkapi berbagai istilah baru yang dijelasin sejelas-jelasnya oleh Lore. (?)

Meskipun aku suka sama kisahnya, belum tentu juga aku suka sama karakter sentralnya. Entah kenapa karakter utama di I Am Number Four nggak berhasil mencuri hatiku. John bukan tipe cowok favoritku (emangnya siapa juga yang nawarin John jadi suamimu, Lin?) soalnya dia termasuk cowok yang agak egois. Okay, dia masih 15 tahun. Okay, dia udah berkali-kali pindah sampai kadar bosannya karatan gitu. Tapi tetep aja aku nggak suka kalau dia lebih ngeduluin Sarah ketimbang latihannya. Yep. Ini dia alasannya. She's his priority. Jangan gitu dong John. Duluin planetmu. Terus turutin nasehat Mas Henry.

Apakah ini subjektip? Apakah aku kesel sama si John gara-gara Henry? Tauk ah, yang jelas I'm still blaming him for what-happened-to-his-Cépan. #DitamparBolakBalikSamaPembacaReview

Satu lagi Sarah. Nggak usah lama-lama deh ngejelasin apa, kenapa, atau gimana kok aku bisa nggak care sama Sarah, pacarnya John. Aku kurang suka aja. Mungkin karena sikap Sarah terlalu lembut dan terbuat dari 100% cotton kali ya. #DitendangJohnKeMogadore

Adapun tokoh favoritku di sini malah tokoh lain. Bukan peran utama sih, tapi kalau nggak ada mereka, musnah sudahlah John jadi abu. (?) Yang pertama itu Henri, Cépan-nya John. He's such a lovely 'father' dan jujur aja, Henry adalah karakter yang paling aku sayangi di buku ini. Kemudian ada anjingnya John, Bernie Kosar. Selain Henry, aku juga menyayangi Bernie. Ada pula Nomor Enam. Dia inilah pahlawan yang selalu aku elu-elukan di I Am Number Four. Lets see apakah nanti ada karakter lain yang muncul di The Power of Six yang melebihi kekerenan Nomor Enam. Karakter lain? Sam Goode, temennya John yang tergila-gila sama alien. Aku juga suka sama manusia yang satu ini. Sempat juga aku jodoh-jodohin Sam sama Nomor Enam pas nonton filmnya tahun kemarin huahahaha. XD

Mengenai Mogadorian, bolehkah aku berkata kalau Mogadorian di film jauh lebih keren daripada di buku? Aku terlanjur tersepona sih sama sosok Mogadorian yang kesusahan bernapas dan sulit berbicara dan agak-agak mirip Voldy namun lebih canggih nan brutal. Errr nggak benar-benar tersepona kok! Kalau ditaruh di depan mereka, aku jamin aku udah jiper sampai pipis di celana, mungkin. And I wish it won't happen forever. Menjauhlah dariku.. kalian para alien.. *pake kalung bawang putih* *salah jimat*

Aku rasa tiga bintang udah cukup yak untuk I Am Number Four. What about The Power of Six? Of course aku pengin baca, tentang Nomor Enam gitu, mana pula aku tolak. :))

Harapan? Selalu ada harapan, John. Jangan pernah berputus asa. Saat kau kehilangan harapan, segalanya pun musnah. Saat kau pikir semua telah berakhir, ketika segala sesuatu tampak buruk dan sia-sia, harapan itu selalu ada. —Henri (page 143) 
Kita tidak ditentukan oleh hal-hal yang kita lakukan atau tak kita lakukan di masa lalu. —John (page 338)

NB: listed on my What's in A Name Challenge 2013 and 2013 TBRR Pile Fantasy Reading Challenge

10 komentar:

  1. Sampai sekarang aku ngga berani bikin review buku ini gara2 suka banget sama filmnya jadi pengen ngasih rating 5/5 aja -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha aku lebih suka filmnya lho! Suka banget, yes! :D

      Hapus
    2. aku juga lebih suka sama filmnya. menurutku sih terjemahannya yg ini agak kurang pas

      Hapus
    3. Menurutku lumayan sih, meski ada sedikit bahasa yg agak nggak nyambung. Kalau pengin lebih puas, mending baca versi aslinya aja deh. :D

      Hapus
  2. saya malah kecewa dengan filmnya :))

    Oh iya, The Power of Six itu bukan tentang nomor Enam, tapi.... mending segera batja bukunya deh untuk tahu lebih lengkapnya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung selera kali yak ahahah.
      Yep, tentang Nomor Enam. Pengin beli tapi pengin nunggu Mizan ngasih diskon gede lagi sih huahaha. :D

      Hapus
  3. Reviewnya sangat menggambarkan sama apa yang aku pikirin pas baca buku ini. :) tapi aku paling seneng sama si Bernie Kotsar~ sekarang lagi nggak sabar buat baca The Fall of Five yang 'katanya' bakal rilis di bulan Agustus ini. hehee...
    Pitacius Lore emang bikin kita menganggap semua di buku seperti kenyataan. bahkan dia yang jadi tokoh jahatnya! LOL

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bernie lucu ya, pengin juga punya 'anjing' keren begitu. ^^
      Wah, udah Fall of Five aja. Aku baru baca buku satunya, ketinggalan banget yak hahaha. xD

      Jadi, ini semua cuman lelucon ya, Lore? *sok berani nantangin Pittacus Lore* X)

      Hapus
  4. Aku belum satu pun lorien legacies...padahal suka banget sama filmnya.. >_<
    Duhduh..jadi tambah pengen baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo deh dibaca bukunya. Sayang bgt nonton filmnya doang, soalnya filmnya nggak dilanjut-lanjutin sih. :p

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...