Sabtu, 13 Februari 2016

[REVIEW] The Wind Leading to Love

"Suga-san, aku ada usul. Akan kutata ulang halaman rumah ini. Tapi sebagai imbalannya, maukah kau mengajariku musik klasik?" —Fukui Kimiko (hal. 41)

Judul: The Wind Leading to Love
Penulis: Ibuki Yuki
Penerjemah: Mohammad Ali
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun: 2015
Halaman: 342
ISBN: 978-602-7742-47-5
I rate it 3/5 stars

Suga Tetsuji belakangan mengalami depresi karena hubungan rumah tangganya yang memburuk, yang berujung pada tidak bisa konsentrasi di tempat kerja, juga malam-malam panjang karena insomnia. Setelah ia dipaksa untuk mengambil cuti kerja, ia memutuskan untuk pergi sendirian ke Miwashi, desa kesayangan ibunya, dimana almarhum ibunya selalu menemukan kedamaian dan ketenangan. Ia bermaksud untuk tinggal di sana sebentar sebelum rumah itu benar-benar dijual nantinya. Rumah ibunya itu dinamakan Rumah Semenanjung, terletak tepat di atas bukit.

Setelah dua hari di sana, ia masih juga tidak memahami apa yang disukai ibunya dari tempat terpencil itu. Sampai ia bertemu dengan Fukui Kimiko di tengah perjalanan balik ke Miwashi setelah membeli bertumpuk-tumpuk makanan cepat saji. Saat itu Kimiko hendak menumpang pulang ke Miwashi.

Pertemuan itu bukan pertemuan terakhir mereka. Di salah satu malam insomnia, Tetsuji berjalan-jalan di sekitar pantai, yang tanpa disadari membuat ia ingin menenggelamkan dirinya di laut. Namun, Kimiko yang kebetulan lewat menyelamatkan dirinya yang sebenarnya masih ingin hidup.

Diawali dengan tumpangan ke Miwashi dan penyelamatan Tetsuji, pertemuan mereka semakin sering karena Kimiko yang tak sengaja melihat koleksi CD klasik milik ibu Tetsuji. Kimiko kemudian menawarkan kerja sama. Ia bersedia mengurus Rumah Semenanjung yang hendak dijual Tetsuji, asalkan Tetsuji mau mengajarkan musik klasik yang sudah lama ia cari itu padanya.

Namun, dibalik hubungan yang semakin dekat itu, masih ada keluarga Tetsuji yang retak, juga Kimiko yang masih dihantui masa lalu akan suami dan anaknya. Mampukah mereka berdua mengatasi rasa depresi dan kehilangan masing-masing?

"Yang tersisa sekarang hanyalah rute yang salah. Aku telah kehilangan kesempatan untuk pergi ke arah yang benar."
"Siapa yang bilang begitu? Kau ini sedang menanti angin. Sampai saat angin yang cocok datang, kau menunggu di pelabuhan."
(hal. 125)

Pertama-tama, mau ngucapin maaf dulu for a late comeback after the newwww yeaaaar! Bukan disengaja nggak update kayak tahun kemarin itu, melainkan karena bener-bener nggak bisa update blog sama sekali karena laptopku rusak~ Tapi tetep doong bulan kemarin aku berhasil baca tiga buku yang udah kucatet di to-read bulan Januari, dan berhasil buat review-nya meski cuman asal tulis di memo. :p

Then.. here's one of the late reviews!

Sejujurnya, buku ini sebenarnya indah. Siapa coba yang nggak suka sama suasana tenang pedesaan yang hanya diisi dengan debur ombak yang menghantam pemecah ombak? Juga angin hangat khas laut yang membawa aroma asin. Iya, aku suka setting model begini!

Selain itu, buku ini diisi dengan musik-musik klasik! Bisa dibayangkan? Mendengarkan musik klasik sambil memandang laut dari beranda rumah yang sejuk yang berada di atas bukit? Oh, dan jangan lupa ditambah dengan minuman segar. Duh.. >.<

Masalah latar, buku ini juara deh. Suka! Miwashi berhasil digambarkan dengan baik.

Untuk karakter Tetsuji yang katanya depresi, umm.. okelah.. menurutku penggambaran karakternya udah lumayan. Cuman kurang maksimal aja. Tetsuji bukan tipe karakter yang aku suka, nggak aku benci juga. Sedangkan Kimiko, kelihatan banget kalau dia ini tipe pekerja keras! Semangat hidupnya tinggi meski sempat terpuruk. Satu yang aku suka dari Kimiko, dia pinter banget masak. Tiap kali dideskripsikan Kimiko lagi masak, aku sampe kelametan nelen ludah sendiri. Itu dijelasin detail banget gimana si Kimiko pas bikin camilan kentang goreng! :'(

Karakter lain seperti Madam, Mai, dan Shun menurutku sudah mendapatkan porsi yang cukup. Madam yang hangat, Shun yang pecicilan dan sukar diatur, juga Mai yang centil. Anyway, Shun ini yang jadi favoritku di sini. Mungkin kadar sukaku ke Shun lebih banyak dari tokoh utama kali yak! :p

Terjemahannya... errr... menurutku ini yang ngurangin bintang selain karakter Tetsuji yang kurang pas tadi. Aku kurang nyaman membaca terjemahan dari buku ini. Kurang luwes dan ada beberapa kalimat yang terasa aneh untuk dibaca. Makanya tadi diawal aku bilang, sebenarnya buku ini indah. Aku yakin versi bahasa Jepangnya lebih cantik. Tapi ya gimana? Aku kan nggak bisa bahasa Jepang.. :')))

"... bahwa setiap manusia akan melewati empat musim dalam hidupnya. Musim semi yang biru, musim panas yang oranye, musim gugur yang putih, dan musim dingin yang hitam. Musim semi adalah saat usia belasan, musim panas adalah usia dua puluh sampai tiga puluh tahunan, musim gugur adalah usia empat puluh sampai lima puluh tahunan, terakhir musim dingin adalah usia melebihi musim lainnya." -Kimiko (hal 264) 
Tetapi diri kita bukanlah mimpi, melainkan makhluk hidup yang nyata. (hal. 302)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...