Senin, 23 Desember 2013

[REVIEW] Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati

KREATIF adalah tempat dimana tidak ada orang lain yang pernah mengunjunginya. Kamu harus meninggalkan kota kenyamanan dan pergi ke hutan belantara dengan intuisimu. Apa yang akan kamu temukan akan menjadi indah. Apa yang akan kamu temukan adalah diri kamu sendiri.” —Alan Alda (hal. 26)

Judul: Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati
Penulis: Wahyu Aditya
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun: 2013
Halaman: 302
ISBN: 978-602-8811-99-6
Harga: Rp59.000,-
I rate it 5/5 stars

Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati merupakan buku non-fiksi yang mengajak kita menjadi pribadi yang kreatif. Pada dasarnya, setiap orang itu punya kreativitas masing-masing, tinggal pribadi itu aja yang mutusin: kreativitasnya mau disimpan sampai mati (yang jelas nggak ada manfaatnya) atau malah dipamerin, dibagi-bagi, dan dikembangin di dunia sampai mati pula (yang ini baru bermanfaat).

Di awal bab kita akan diajak untuk ‘mencari’ dunia kita sendiri, dunia yang benar-benar ingin kita ‘tinggali’. Kemudian kita akan diajak untuk ikut berpikir berbagai arah, perluas pemikiran (ini kreativitas juga lho), rekam apa yang kita lihat and make something different from what we’ve recorded before, kembangkan dari sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lain, yang nggak benar-benar baru namun menarik. Well.. nothing’s new under the sun. We, as people, copy them and deliver them to the world with different method. Dengan begini kita secara tidak langsung akan mengembangkan kreativitas.

Untuk menjadi kreatif, kita bisa juga melatih diri dengan mulai berbuat spontan, menemukan ide baru dengan bertanya pada diri sendiri “bagaimana kalau?”, menjadikan keterbatasan sebagai kelebihan, fleksibel, dll. Jangan lupa pula untuk menerapkan konsep out-of-the box.

Ada banyak hal di buku ini yang tentu saja nggak jauh-jauh dari bahasan seputar kreativitas. Saking banyaknya, nggak mungkin pula kujabarkan satu-satu. Yang aku jabarkan barusan hanya sedikit dari kunci kreatif yang kudapat dari buku ini. Untuk mendapat info tentang Si Langka Kreatif lebih banyak, pleaseee read this book by yourself! Mau beli mau pinjam terserah. Aku sih minjem eheheh (thanks to Novi), dan gara-gara buku ini punya tali yang kuat untuk menarikku ke dalam ruang imajinasi, makanya aku mutusin bakal beli buku ini (kalau udah ada uang lebih) nantinya. :p

Berkarya itu seperti candu walaupun proses pembuatannya melelahkan, tetapi setelah selesai rasanya ingin kembali membuat lagi, rela berstress ria untuk memproduksinya. (hal. 12)

Menurutku, Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati berhasil menjadi buku inspirasi yang baik. Bahasanya bersifat persuasif, tidak menggurui, dan page-turning juga. Ditambah lagi adanya gambar-gambar hasil kreativitas yang bertaburan hampir di seluruh bagian buku ini. Mas Wadit juga ‘menempelkan’ hasil kreativitasnya di sini. Namun, cara Mas Wadit menempelkan hasil kreativitasnya itu nggak terkesan lagi pamer, malah membuat pembaca (dalam hal ini, aku) ikut-ikutan semangat untuk menghasilkan sebuah karya. Nggak mau kalah!

Yup, gara-gara baca Sila ke-6 ini aku mulai semangat lagi. Satu dari beberapa mimpiku adalah menjadi penulis (iya, impianku ini banyak, tapi nggak ada satu pun yang nyambung sama jurusan yang aku ambil sekarang *sigh*). Menjadi penulis cepat saji tadinya memang sempat terpikir olehku. Namun, lama-lama aku berpikir, menjadi penulis cepat saji itu bukan penulis namanya. Aku perlu menulis dan menulis dan menulis.. dengan satu hal: tidak mengulangi kesalahan, biar bisa jadi penulis beneran. Dan aku juga perlu untuk membius otak kadal agar ia pingsan tiap kali aku lagi nulis.

Hah? Otak kadal? Iya, aku baru tahu kalau ada yang namanya otak kadal di otak tiap manusia itu ya dari buku ini. Otak kadal atau yang disebut amygdala inilah yang membuat kita takut berbuat hal yang baru. Aku kasih bocoran si kadal di otakku ini ngomong apa pas aku berpikiran untuk menjadi seorang penulis: “Yakin mau jadi penulis? Lo nggak inget pas sekolah nilai bahasa lo sekitar 60an? Lo nggak inget jadi bulan-bulanannya guru Bahasa Indonesia?”

Berlatih sesuai minat itu berbeda rasanya dengan berlatih karena terpaksa. Ada energi lebih yang kita rasakan, seolah lupa akan waktu. … Steve Jobs mengungkapkan dalam konsep connecting the dots bahwa kita tidak bisa merencanakan masa depan kita titik demi titik yang terencana dengan pasti. Apa yang membuat kita menjadi seperti sekarang adalah karena titik-titik yang sudah kita lalui. (hal. 49)

I’m not good in Bahasa. No doubt! Tapi apa salah kalau aku berpikir demikian? Pengin jadi penulis? Itu bisa aja kalau akunya mau berusaha dan nggak takut kalah. Everything’s possible as long as we have faith in it. Untuk sekarang, I’m on my way merealisasikan mimpi-mimpi itu (nggak cuman jadi penulis *maruk*). I’ve taken a long journey in imagining everything in my free time, it’s time for me to change it into black in white. I’ve used my bad-mood time as the right time for reading books, it’s time for me to make them speak! Well.. mimpiku yang lain adalah menjadi pengisi suara. :)))

Rasanya sulit untuk menjadi kreatif (since there are too many mainstream themes to write). But like what I’ve said, nothing’s new under the sun. Tinggal kitanya aja bisa nggak meramu kisah tersebut menjadi menarik. Kreativitas di sini kuncinya. Tentang pengisi suara? Mungkinkah aku bisa diterima kalau melamar kerja di salah satu PH? *lalu otak kadal menyeraaaaang*

Kita memang tidak boleh gegabah dalam merencanakan sesuatu. Harus sudah ada strategi, dan memahami keterbatasan kita. Sehingga jika gagal menyerang, kita tidak kaget, sudah siap gagal sambil tersenyum, walau rasanya kecut di awal. :) (hal. 210)

Terima kasih, Mas Wadit, untuk sila ke-6 yang berbunyi KREATIF SAMPAI MATI. Doakan aku agar bisa menjadi pribadi yang kreatif, tidak memandang keterbatasan sebagai halangan melainkan sebagai gerbang menuju kreativitas yang terkurung lama. Untuk teman-teman sekalian, pleaseee pleaseeee baca buku ini juga. Rasanya rugi banget kalau nggak baca, seolah-olah melewatkan kesempatan untuk foto bareng Siwon. (?)

Kreativitas itu mengikuti hukum energi, tak bisa habis, juga jika dihambat.” —Goenawan Mohamad (hal. 234)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...