Selasa, 31 Desember 2013

[REVIEW] Barcelona, Te Amo

Itu pertunjukan yang menarik bagi Manuel. Dua orang perempuan dan satu orang laki-laki. Perempuan yang selalu mencemooh, perempuan lain yang menahan diri, dan seorang laki-laki yang berdiri di tengah mereka, seakan-akan dialah yang menjadi pangkal masalah. (hal. 151)

Judul: Barcelona, Te Amo
Seri: Setiap Tempat Punya Cerita #2
Penulis: Kireina Enno
Penerbit: Bukune
Tahun: 2013
Halaman: 266
ISBN: 978-602-220-090-1
Harga: Rp46.000,-
I rate it 3/5 stars

Di Barcelona, tepatnya di salah satu bangunan kuno di Carrer del Pi, kita akan berkenalan dengan Katya. Bersama Katya, kita akan jalan-jalan di sekitar Barcelona, tempat yang penuh dengan bangunan kuno namun menarik. Setelah jalan-jalan di sekitar Barcelona, mungkin kita akan duduk bersama Katya di depan Museu Nacional, menyaksikan pertunjukan Font Magica... sambil mendengarkan masa lalu Katya. Masa lalu yang menyebabkan ia meninggalkan Indonesia. Masa lalu yang menyebabkan ia lari ke Barcelona..

"Ada yang membangkitkan kenangan di negeri jauh yang ditinggalkan. Mengoyak semedi musim panasku yang muram." —Katya

Katya, Sandra, dan Evan. Mereka bertiga adalah sahabat baik. Katya, semenjak ia menjadi yatim piatu, ia sudah tinggal bersama sepupunya, Sandra. Bisa dibilang kedudukan Katya dan Sandra ini jomplang. Katya anak yang penurut, pasrah sama keadaan, dan selalu membela Sandra meskipun Sandra berkali-kali melakukan hal yang tidak baik: seringkali ia mencuri. Evan sendiri selalu menjadi orang yang membayar ganti rugi akan perbuatan Sandra.

Persahabatan mereka ini tak lama. Sandra dan Katya sama-sama mencintai Evan, sedangkan Evan sendiri berkata mencintai keduanya. Katya yang dasarnya memang pasrah, memutuskan untuk mengalah. Ia pergi ke Barcelona, mengenyam pendidikan di sana, dan merelakan Sandra dan Evan untuk bersama.

Untuk sementara, Katya merasa hidupnya kini sudah mulai tertata tanpa dipusingkan oleh Sandra dan Evan. Namun.. kehidupan yang tadinya disangka telah tertata mulai berubah saat sang kurator, Manuel Estefan, datang ke kehidupannya. Ditambah lagi dengan kedatangan orang-orang dari masa lalunya ke Barcelona..

Bagaimana Katya menyikapi kedatangan orang baru, Manuel Estefan, di kehidupannya? Bagaimana pula sikap Katya saat Sandra dan Evan datang ke Barcelona?

Font Magica, Barcelona (sebenarnya di air mancur itu berubah-ubah warna lampunya) :))
source: here.

Malu untuk mengakui ini, tapi Barcelona, Te Amo memang STPC pertamaku. Udah lama pengin baca, tapi ada aja halangan tiap mau beli seri STPC (baca: tergoda untuk beli buku lain). Baru sekarang deh ada kesempatan untuk mengoleksi, dan sejauh ini baru punya Barcelona, Te Amo. Yah, better late than never. Better punya satu daripada nggak punya sama sekali. *eh* #NoOffense Dan sekarang setelah baca satu, jadi nagiiiiiih. Pengin jalan-jalan ke tempat lain juga!

Ini juga kali pertama aku membaca tulisan Kireina Enno. Sebenernya aku udah lama tahu Mbak Enno ini, aku silent reader blog-nya huehehe. Dulu juga pengin baca buku pertamanya yang Selamanya Cinta, tapi sayangnya belum sempat. :'( Okay, fokus! Aku cukup menikmati gaya penulisan Mbak Enno. Menurutku Mbak Enno berhasil menggambarkan Barcelona dengan baik, tanpa terkesan seperti pemandu wisata. Penulisan Mbak Enno yang berhasil menggambarkan Barcelona ini membuatku seolah-olah berada di Barcelona. Oh iya, sketsa-sketsa yang ada di awal bab itu juga membantu sekali lho biar kita nggak susah membayangkan tempatnya. Kalau masih susah membayangkan La Rambla dkk atau kurang puas sama sketsanya, silahkan googling. :p

Untuk karakter, standar lah ya: Katya protagonis, Sandra antagonis, sedangkan Evan santai aja di tengah-tengah mereka. Jujur saja diantara mereka bertiga, tidak ada yang menjadi favoritku. Katya terlalu pasrah, selalu menerima keadaan di sekitarnya, bahkan dia ragu saat dimintai untuk membuat lukisan oleh kurator seni kita yang keren, Estefan. Sandra ini kebalikannya Katya. Selalu bertingkah seenak dengkul, nggak bertanggung jawab, dan selalu menyalahkan Katya. Karakter favoritku di buku ini tak lain dan tak bukan adalah Manuel Estefan. Meskipun ia bersikap dingin, tapi dia itu baik. Aku juga mau kalau Estefan ngajak dinner di Els Quatre Gats. ^^

Els Quatre Gats, Barcelona
source: here.

Terima kasih Mbak Enno, untuk kisah Katya di Barcelona yang manis. Jujur saja aku suka dengan kisahnya. Terima kasih juga untuk membawa pembaca jalan-jalan gratis ke Barcelona. Kapan-kapan kalau udah jadi konglomerat, baru deh jalan-jalan beneran ke sana, eheheh. Untuk sekarang, membaca saja sudah lebih dari cukup. :)

Recommended untuk siapa saja yang bermimpi ingin jalan-jalan ke Barcelona!

nb: posbar BBI tema Liburan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...