Sabtu, 23 November 2013

[Movie Adaptation] Catching Fire

The Hunger Games #2: Catching Fire
based on a novel by Suzanne Collins
source: here.

Yeay, finally I watched Catching Fire. Sebenernya pengin nonton kemarin, tapi karena kacamata adik ketinggalan di sekolah, urung nontonnya. Hari ini nonton sama sepupu, lumayan dia bawa motor. Hemat ongkos jadinya. Jadi, maaf ya adikku, aku nonton duluan (nggak sabar pengin 'ketemu' Finnick sih). Kamu nanti nonton sama temen-temenmu aja yaa. :p

*kakak yang jahat? Absolutely!*


Catching Fire merupakan lanjutan dari Hunger Games yang film-nya rilis Maret 2012 kemarin. Bagi yang belum tahu, film-film ini diadaptasi dari novel trilogi The Hunger Games-nya Suzanne Collins.

Sekadar rewind, Hunger Games merupakan permainan yang diadakan setahun sekali oleh Capitol, Republik Panem. Pesertanya merupakan mereka yang tinggal di luar Panem, yaitu dua belas distrik yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Dari masing-masing distrik, dipilihlah dua peserta: satu perempuan, satu laki-laki. Totalnya 24 peserta.

Pada umumnya, Hunger Games ini memiliki satu pemenang, yaitu pemenang yang bisa BERTAHAN HIDUP sampai akhir. Bertahan hidup di sini artinya dia sendiri yang masih hidup setelah 23 peserta lain saling bunuh-bunuhan, atau mengikhlaskan diri untuk mati, atau malah mati karena keteledorannya sendiri.

Namun, Hunger Games ke-74 kemarin berbeda. Tindakan Katniss Everdeen, peserta dari Distrik 12, yang ceroboh di akhir permainan membangkitkan harapan bagi hampir seluruh penduduk distrik yang tiap tahunnya dijadikan mainan Panem. Hal ini membuat Presiden Snow berang. Makanya dia benci Katniss, dia merasa dipermalukan. (Click these link to read more reviews of book 1 and book 2).

Di Catching Fire ini kita akan melihat kelanjutan film Hunger Games yang tayang tahun lalu. Penduduk Distrik yang mulai merencanakan pemberontakan. Keluarga Katniss yang terancam. Dan satu lagi, ada Quarter Quell, Hunger Games edisi spesial yang diadakan 25 tahun sekali, it takes place this year. Setiap Quarter Quell memiliki tema yang berbeda-beda. Kali ini: pemenang Hunger Games di tahun-tahun sebelumnya akan kembali menjadi peserta Hunger Games ke-75 atau bisa juga kita sebut Quarter Quell ke-3.

source: here.

I've waited more than a year in order to watch this movie. Iya, aku memang udah baca bukunya, dan buku favoritku dari trilogi The Hunger Games ya Catching Fire ini. Bisa kubilang kalau Catching Fire itu paket komplitnya trilogi The Hunger Games. Makanya, Catching Fire ini hukumnya benar-benar WAJIB untuk kutonton. Nggak peduli deh mau keluar duit, lagipula aku jarang ke bioskop. Lebih sering download, lebih hemat soalnya hehehe. Untuk Catching Fire? Rela deh bela-belain bayar! :p

Aku bukan orang yang jago ngomentarin film, jadi maaf ya kalau di sini aku bukan nge-review teknik film Catching Fire. Aku juga nggak akan membandingkan buku dan filmnya secara membabu buta, bukan karena nggak mau, tapi karena buku dan filmnya sama-sama keren dan punya kelebihan sendiri.

Kalau di buku aku terpesona sama ide dan kepiawaian Suzanne Collins meramu cerita, di film aku terpesona sama acting para pemainnya.

source: here.

Jennifer Lawrence memang benar-benar cocok menjadi seorang Katniss Everdeen. Menjiwai banget menurutku, mengingat kepribadian Jennifer Lawrence yang aslinya itu suka main-main, to-the-point, dan frontal (lihat aja di interview yang ada Jennifer Lawrence-nya). :p Di sini dia jadi Katniss yang depresi dan susah diajak bercanda, bawaannya serius mulu. Can't think of anyone who can be Katniss better than Jennifer Lawrence! Meskipun demikian, tadi aku nangkep satu scene (nggak lama, cuma lima detik mungkin) dimana Jennifer Lawrence berekspresi sebagai Lawrence, bukan Katniss. :p

Untuk Josh Hutcherson yang bertransformasi menjadi Peeta, you're still that sweet and lovely. Tapi entah kenapa kalau aku lihat Josh dan Jennifer berdiri berdampingan, I can't get rid of bayangan Josh Hutcherson yang sayangnya pendek. I'm so sorry.. ini random soalnya. *minta digampar banget ini*

source: here.

Sam Claflin.. err yang ini.. *tarik nafas dalam-dalam* *stay cool, Lin!* Finnick Odair merupakan salah satu tokoh favoritku di trilogi Hunger Games. Sosoknya yang baik hati dan setia banget sama satu hati ini udah lama membuatku jatuh cinta #eaaa, apalagi pas tahu kalau yang jadi Finnick itu Sam Claflin. Gosh! That man is so HOT!!! Arrrrrghhhh.. aku benci lihat Sam Claflin senyuuum. Ada lesung pipitnya, dan itu membuat jantungku nggak nyante!!! Okay, fokus. Intinya dia cocok jadi Finnick!

(jangan tanya penjelasan selanjutnya karena sang reviewer udah dibutakan oleh kegantengan Sam Claflin)

source: here.

Siapa lagi sekarang? Ini mau bahas karakternya satu-satu? Okay, yang menonjol aja deh. Johanna Mason! Orang ini jangan nggak dimasukin ke review. Dia keren banget soalnya! Bukan karena dia telanjang di muka umum, tapi karena dia berani nantang Presiden Snow. Salut sama Jena Malone yang berhasil memerankan seorang Johanna Mason. Entah kenapa aku jadi pengin Suzanne Collins nulis prequel Hunger Games dengan full kisah hidupnya Johanna dan Finnick. :))

(eh, belum ada kan ya prequel Hunger Games yang begitu?)

Dua poin plus untuk para aktor yang berhasil menjiwai tiap karakter!

source: here.

Poin ketiga aku kasih untuk gaun-gaun keren nan meriah yang berseliweran di Catching Fire, terutama untuk gaun Katniss. Saat membaca bukunya, aku memang udah nggak sabar menantikan baju rancangan Cinna yang dipakai Katniss ini. Kerennya melebihi kata keren! Gaunnya beneran bikin mupeeeng. Di buku yang belum ada gambaran visualnya aja udah berhasil bikin aku gigit jari, apalagi pas lihat gaunnya beneran di film. Just.. wow!

Poin keempat aku berikan untuk lokasi distrik yang suramnya bikin kasihan, yang berbanding terbalik dengan glamornya Panem. Tadi aku sempat berkaca-kaca juga pas menyaksikan kejadian nggak berperikemanusiaan Penjaga Perdamaian di Tur Kemenangan Katniss dan Peeta. :( Aku bersyukur aku hidup di dunia yang normal. Kalau misalnya dunia nanti dibagi menjadi distrik-distrik begitu (jangan sampai gitu, amiin).. pokoknya I'm not going to volunteer. (?) Poin terakhir, untuk hologram dan kecanggihan teknologi Panem saat menjalankan Quarter Quell. Salut sama sutradara dan produser yang berhasil menggarap film yang penuh kecanggihan bunuh-membunuh ini jadi nyata. *eh

Glad that the movie is as good as the book. Iya, menurutku memang 'as good as'. Catching Fire versi film memang lebih singkat dari bukunya, tapi sudah lebih dari cukup merangkum isi buku tanpa merubah isinya. Kalau ada yang ngajak nonton film ini lagi (dan ikhlas bayarin tiketnya), aku oke-oke aja. Siapa juga yang nolak dibayarin tiket untuk nonton Sam Claflin eh, maksudnya Catching Fire! :p

If you're loving The Hunger Games, WATCH THIS! You're not going to regret it (at least me and my cousin are glad watching Catching Fire and loving the movie). ;)

8 komentar:

  1. Aku juga puas banget sama filmnya. Poin-poin penting nggak diubah, efeknya juga keren banget. Tapi tiap liat Josh selalu inget pas dia main Zathura. Habisnya mukanya nggak banyak berubah :)))
    Aduh berarti bukan aku aja yang kesengsem sama Finnick :"> dan Johanna juga jadi semacam penyegar di antara tokoh-tokoh lain dan suasana yang muram + serius.
    Seneng banget udah baca bukunya dulu baru nonton filmnya. Jadi nggak "gelap" kayak dulu pas nonton Hunger Games :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha iya nih, waktu itu aku nonton Zathura lagi (kebetulan ada di tv) dan mau nggak mau aku cengengesan lihat Josh. Dalam hati bilang: "kasihan kamu nak, pas udah gede nanti dijadiin tumbal untuk Capitol." :v

      Hapus
  2. Ga nyesel mbak bela-belain nonton film ini di hari minggu (mahal -_-). Semuanya keren banget, sesuai deh dengan novelnya meskipun ada beberapa yang beda. Terus soal Peeta, dia itu keren banget ya, sayangnya pendek .__. Terus semenjak Johanna muncul dan bergabung sama Katniss, rasanya yang lebih dominan si Johanna ya? Tapi endingnya itu, mirip Breaking Dawn part 1 nggak sih mbak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahahahaha aku ga nonton Breaking Dawn Part 1, langsung loncat ke Part 2. :p

      Hapus
  3. Gaun-nya itu kn bikinan desainer Indonesia, Tex Xaveiro *semoga tidak salah nama* keren yaaaa :D

    BalasHapus
  4. Aaah aku juga suka banget sama filmnya! Apalagi karena ekspektasiku udah selangit berkat film pertama yang ZOMG SO AWESOME. *O* Hihihi, Sam Claflin memang keren banget! Dia sangat cocok meranin Finnick yang playful dan bikin melting. ;) Jennifer Lawrence is totally Katniss Everdeen. Aku enggak bisa bayangin yang lebih cocok meranin Katniss dari pada dia. Kalau lihat perannya di film-film lain beda banget, enggak seperti Katniss yang serius dan tertutup.

    Gaun-gaun di dunia Hunger Games! Rasanya bisa bikin post sendiri khusus untuk gaun-gaun mereka hehe. ;) Gaun pernikahan Katniss yang putih buatan Tex Saverio lho, orang Indonesia. Kayaknya udah pasti deh tempat mesan gaun pengantin nanti. *sotoy*

    Thanks for sharing us your thoughts, Linda! Salam kenal ya! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum pernah lihat Lawrence di film lain, ini Silver Linings dianggurin mulu, belum juga ditonton huahahaha. DVD-nya entah aku taruh mana. xD

      Salam kenal juga, Hilda! ^^

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...