Sabtu, 30 November 2013

[REVIEW] Insurgent

Abnegation dan Dauntless sama-sama pecah. Kami tak jauh beda dengan factionless sekarang. Kami adalah makhluk yang kehilangan segalanya; kami meninggalkan semuanya. Aku tak punya rumah, tidak punya jalur hidup, dan tidak punya kepastian. Aku bukan lagi Tris si Tanpa Pamrih atau Tris si Pemberani. (halaman terakhir dari buku pertama Divergent)

Judul: Insurgent
Seri: Divergent #2
Penulis: Veronica Roth
Penerjemah: Nur Aini
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun: 2012
Halaman: 551
ISBN: 978-979-433-737-0
Harga: Rp59.000,-
I rate it 5/5 stars


*untuk yang belum baca buku satu, diharapkan jangan baca review ini. Spoiler Insurgent sih nggak, tapi dipastikan kalau ini akan jadi spoiler bagi buku satu, Divergent*

Simulasi besar-besaran yang terjadi pada buku satu, Divergent, telah mengubah hampir segala hal. Faksi Dauntless terpecah belah, menjadi Dauntless pembelot dan Dauntless sejati (di mata Dauntless pembelot, mereka ini pemberontak). Banyak dari Faksi Abnegation yang menjadi korban atas simulasi itu, banyak kematian, bahkan wilayah Faksi Abnegation sendiri hampir seperti wilayah factionless.

Tris Prior dan Tobias Eaton, juga Caleb Prior (kakak Tris) dan Marcus Eaton (ayah Tobias) untuk sementara berhasil kabur dari simulasi besar-besaran itu. Mereka berempat bermaksud untuk mengunjungi markas Amity, faksi kedamaian yang di buku pertama jarang di bahas (ya iyalah). Mereka bermaksud meminta bantuan dan perlindungan dari Amity, namun sayangnya.. Faksi Amity memiliki hubungan erat dengan Faksi Erudite, faksi yang menjadi otak atas simulasi yang menghancurkan Faksi Abnegation dan Faksi Dauntless. Tidak mungkin mengharapkan bantuan dari mereka.

Maka dimulailah pelarian mereka. Berawal dari Amity, lalu ke faksi-faksi lain. Bahkan mereka mengharapkan bantuan dari factionless. Pelarian mereka diwarnai dengan rasa kepercayaan yang tipis, ketakutan dan depresi, juga teror dari Jeanine—pemimpin Erudite yang cerdas dan sadisnya nggak perlu ditanyakan lagi—terhadap para Divergent. Ditambah lagi informasi yang disembunyikan oleh Marcus, pemimpin Abnegation. Informasi yang memicu adanya perpecahan. Informasi yang menyebabkan para Abnegation rela mempertaruhkan nyawa. Informasi yang menyebabkan para Erudite membunuh.

Berhasilkah Tris dan Tobias meruntuhkan Jeanine, otak dari amburadulnya faksi? Informasi apa pula yang disembunyikan Marcus, yang menyebabkan Jeanine tega membunuh nyawa hampir setengah anggota faksi?
“Terkadang, orang hanya ingin bahagia walaupun tidak nyata.” —Tobias (hal. 81)

Buku satu, Divergent, memang buku bagus yang memanjakan pembacanya, yang bikin pembaca penasaran sampai nggak rela untuk meletakkan buku itu barang sebentar saja. Begitu juga dengan buku dua, Insurgent. Nggak kalah seru, soalnya Insurgent hampir dipenuhi dengan aksi melarikan diri dan simulasi-simulasi lebih ‘ganas’ yang bikin pembaca (paling tidak, aku) ikut berdebar-debar.

Kalau di buku satu kita disuguhi markas Dauntless yang suram dan penuh tato, maka di buku dua, Insurgent, kita akan disuguhi markas hampir seluruh faksi (kecuali Abnegation). Di awal bab kita akan ‘mampir’ ke Amity, kemudian ke faksi-faksi lain hingga nantinya ke Erudite. Menurutku ini menjadi salah satu nilai plus buku ini karena berhasil mengajak pembaca jalan-jalan ke seluruh faksi, dimana di buku satu faksi lain hanya menjadi omongan saja.

Seperti layaknya kebanyakan genre distopia, karakter utama yang awalnya punya nilai plus dan hidup hampir bahagia, ujung-ujungnya pasti bakal ngerasain perasaan frustasi, tertekan, bahkan trauma. Tak terkecuali Tris. Di sini jelas sekali kalau Tris merasakan perasaan-perasaan tadi atas banyaknya kematian orang yang dia sayang akibat simulasi besar-besaran Jeanine (dimana simulasinya nggak mempan oleh Tris karena dia seorang Divergent). Ditambah lagi adanya pengkhianatan oleh orang terdekat. Awalnya aku merasa kesal akan sikap Tris yang saking terlalu pemberaninya sampai-sampai bisa disebut sembrono, tapi lama-lama aku jadi kasihan. Dan mau tak mau aku masih menyukai Tris karena sikap pemberani yang nggak pernah pudar. Tris.. Tris.. bukan Tris Prior namanya kalau nggak pemberani dan mau mengambil resiko begitu. :)

Untuk karakter lain, Tobias/Four misalnya. Cowok yang satu itu memang jadi crush-nya kebanyakan pembaca seri Divergent. Aku juga suka sama cowok yang satu itu, tapi rasanya aku lebih suka Tobias di Divergent daripada di Insurgent. Saat membaca apapun yang ada Tobias-Tobiasnya di Divergent, jujur aja aku sampai deg-deg-an grogi mirip anak abege yang mau ketemuan sama pacarnya. Namun di Insurgent rasa deg-deg-an itu digantikan oleh perasaan biasa saja. Apakah ini semua karena Uriah? :p *mata keranjang*

Karakter favoritku selain Tris dan Uriah adalah.. I hate to say this but yes, I like Jeanine! ^^ Jarang-jarang aku suka sama karakter antagonis. Tapi emang bener, aku suka sama Jeanine, dan kehadirannya di sini memang yang paling aku tunggu. Seperti kebanyakan peserta inisiasi Erudite yang kagum akan kecerdasan Jeanine, aku juga hampir sama seperti mereka: mengagumi Jeanine, tapi aku nggak sampai memuja-muja Jeanine.
 Ada peperangan di dalam diri kami. Terkadang, peperangan itu membuat kami tetap hidup. Terkadang, peperangan itu mengancam untuk menghancurkan kami. (hal 260)

Pace Insurgent sendiri tergolong cepat. Banyak adegan seru dan twists ala Roth yang memanjakan aku sebagai pembaca untuk terus membaca dan nggak beranjak dari pw-nya tiduran sambil baca di kasur. Untuk ending-nya.. yak, kalian benar! CLIFF-HANGER ENDING!!! Dengan rasa penasaran yang kadarnya berlebih, aku dengan percaya diri membuka halaman selanjutnya, tapi yang kutemukan cuman halaman ‘Ucapan Terima Kasih’, bukan halaman selanjutnya.

..aku cuman bisa melongo melihat halaman ‘Ucapan Terima Kasih’ itu. -_-

Please, Mizan, I need the translation version of Allegiant! IMMEDIATELY!!!

Bagi kalian yang suka baca The Hunger Games, seri yang satu ini wajib dibaca. Tapi kalau kalian alergi sama ending yang menggantung, enakan mulai baca buku ini saat kalian sudah punya keseluruhan bukunya. Soalnya seri Divergent memang nagih banget! Mizan sama Veronica Roth dan penerbit lain nggak mau tanggung jawab kalau kalian ngancem pengin lompat dari kereta yang lagi berjalan saking penasarannya sama kelanjutan buku ini.. (?)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...