Senin, 09 Juli 2012

[REVIEW] The Hunger Games (The Hunger Games #1)

Judul: The Hunger Games
Series: The Hunger Games #1
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009 (First published 2008)
Halaman: 408
ISBN: 978-979-22-5075-6


Aku yakin seratus persen trilogi yang satu ini tidak asing lagi di telinga kalian. Tidak hanya rating goodreads yang tinggi, keeksisan novel ini juga di dukung oleh versi film yang tak kalah bagus di awal tahun 2012 ini. Aku, yang notabene belum membaca novelnya saat menonton versi film saat itu, merinding setengah mati saat menontonnya. Adegan pembunuhan, kejutan, dan berbagai hal lain yang tak terduga di sana-sini benar-benar membuatku menahan nafas saking tegangnya. Dan saat membaca novelnya, aku masih merasakan hal yang sama seperti saat menonton film-nya. Masih merasa tegang. This novel is not only amazing. Keren. Brilian. Luar biasa. I wonder if there's a word which can describe it perfectly!


Dua puluh empat peserta.
Hanya satu yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik. Well.. tadinya tiga belas. Tapi, Distrik 13 sudah dimusnahkan. Katniss Everdeen, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12, Seam.

Perjanjian Pengkhianat memberi kami undang-undang baru untuk menjamin perdamaian, dan sebagai pengingat setiap tahunnya agar masa kegelapan itu tak terulang lagi, Capitol memberi kami The Hunger Games. (page 26)

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: MEMBUNUH atau DIBUNUH.

Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.

Bukan sifatku untuk kalah tanpa bertarung, bahkan saat kemungkinan untuk menang tampak begitu tipis. -Katniss Everdeen (page 48)
Aku berdiri tegak, aku kuat meskipun kurus. Daging dan tumbuh-tumbuhan yang kuperoleh dari hutan digabung dengan kerja keras yang harus kulakukan untuk memperolehnya telah memberiku tubuh yang lebih sehat dibanding sebagian peserta yang kulihat disekitarku. -Katniss Everdeen (page 107)

Katniss Everdeen. Seperti sinopsis tadi, ia hidup miskin. Di tempat termiskin di distrik 12. Menggantungkan hidup pada alam. Tak ayal dia dibesarkan menjadi sosok yang tangguh, penuh tanggung jawab, dan cerdik. Katniss benar-benar telah membuat aku iri dan kagum sekaligus. Bagaimana tidak? Dia rela berkorban demi adiknya, Primrose Everdeen. Itu sudah cukup menjawab kenapa aku menjadi fans beratnya. Bukan berkorban dalam arti ringan. Rela berkorban disini sama saja dengan menyerahkan nyawa..

Peeta waswas melihatku. "Ada apa? Kau kesakitan?"
"Aku ingin pulang, Peeta," kataku sedih seperti anak kecil.
"Kau akan pulang. Aku berjanji," katanya, dan dia menunduk untuk menciumku.
(page 324)


Peeta Mellark. Pemuda penjual roti. Sudah lama Katniss mengenal anak itu. Bukan berarti mereka bersahabat. Aku cukup mengerti bahwa Katniss hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih padanya. Karena kalau bukan karena Peeta, mungkin Katniss sudah mati. Dan mungkin.. Katniss tidak akan mewakili Distrik 12 bersama Peeta dalam The Hunger Games ke-74 ini.

"Tidak! Jangan lakukan, Katniss!" Genggamannya makin erat, hingga menyakiti tanganku, dan ada kemarahan sungguh-sungguh dalam suaranya. "Jangan mati demi aku. Kau tak boleh lagi melakukan apapun untuk membantuku. Setuju?" -Peeta (page 327)

Well.. harus aku akui aku meleleh karena Peeta. Bukan hanya karena dia tampan, tapi juga karena dia baik. Melindungi Katniss dengan tulus, meskipun Katniss selalu menutup mata pada perhatian Peeta. Kasihan juga, sih, lihat Peeta. Tapi, tenang.. Katniss tidak sejahat itu, Peeta. Dia hanya bingung. :p

This novel is more than entertaining. Memang ada beberapa bagian dalam novelnya terdapat kesalahan pada penempatan tanda baca, seperti tanda kutip dan koma. Tapi, itu tidak terlalu mengganggu karena hanya ada sekitar satu sampai tiga kalimat saja. Well.. aku tidak menghitungnya karena terlalu asyik membaca, hahaha. Selain itu, segalanya menghibur dan penuh kejutan. Juga banyak darah, indeed (aku berkali-kali ingin muntah). Aku tidak akan berpikir dua kali untuk memberikan 5/5 bintang untuk Katniss dan Peeta dalam The Hunger Games. You rock, guys! (?)

5 komentar:

  1. very good review. ini salah satu film fave aku.
    btw visit back ya fellow archie :D

    BalasHapus
  2. waw..di review nih cerita. Ajib deh, filmnya swear deh !
    mampir ye, ke blog aku. salam kenal

    BalasHapus
  3. Aynie: Thanks. Wajar jadi favorit, memang keren, sih. Btw, hello another archie! :D

    Si Konyol: Memang ajib. I'll visit yours ASAP!

    BalasHapus
  4. Ciyeeee sudah baco ciyeeeeee :p

    BalasHapus
  5. Wahaha mau minjem ga, nov? *kedip-kedip jahil* :p

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...