Selasa, 27 Agustus 2013

[REVIEW] The Chronicles of Willy Flarkies

Judul: The Chronicles of Willy Flarkies: Petualangan Memasuki Dunia Upside Down
Penulis: Satrio Wibowo
Penerjemah: Dian Guci
Penerbit: Penerbit Imania
Tahun: 2012
Halaman: 448
ISBN: 978-602-95607-7-0
I rate it 2/5 stars

Seperti judulnya, buku ini menceritakan pengalaman Willy Flarkies selama ia bersekolah di Dunia Downside. Perlu kalian ketahui, Dunia Downside adalah tempat dimana segala hal yang ada di Dunia Upside (dalam buku ini diyakini sebagai Bumi) berubah menjadi kebalikannya saat di Dunia Downside. Selain hal-hal yang berkebalikan dengan Dunia Upside itu, di Dunia Downside segala hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Singkat kata, everything in Downside is unimaginable and unpredictable for Willy. Dunia Downside seolah-olah menggambarkan Dunia Upside, bedanya Dunia Downside ini jauh lebih canggih!

Banyak hal yang kukagumi dari buku ini. Pertama, buku ini ditulis oleh seorang anak berumur 12 tahun. Aku merasa malu sendiri jika membandingkan diriku dengan anak kecil ini (meskipun umurku dan anak ini sekarang hampir sama). Dia bisa menulis sebuah karya, bukan karya biasa, melainkan tulisan mengenai petualangan seorang anak yang tiba-tiba 'dideportasikan' ke sekolah di Downside. Kagum sama imajinasi Satrio Wibowo. *lirik draft novel sendiri yang berstatus sampah Microsoft Word* Hal kedua, penulis mampu menciptakan berbagai macam alat canggih yang digunakan di Downside. Pikirku, pastilah imajinasi anak ini kuat sekali.

Petualangan Willy di buku ini aku rasa cukup seru. Ide ceritanya juga sudah cukup baik. Namun sayang sekali, pengembangan kisah di buku ini terlalu terburu-buru dan terkesan asal jadi. Penerjemahnya terkesan kurang lihai dalam proses penerjemahan. Banyak kata yang janggal dan salah arti, terkadang membuatku kesal. Selain itu, editornya juga aku rasa kurang berperan dalam mengedit buku. Banyak sekali kesalahan penggunaan nama di sini. Ada yang namanya keliru, ada pula yang huruf awal nama ditulis tanpa huruf kapital. Yang membuatku sakit mata itu ada kalimat yang panjaaaang sekali, mungkin aku bakal benar-benar ngos-ngosan apabila aku baca kalimat itu keras-keras. Selain itu, penggunaan tanda baca di sini juga kurang. Nggak jelas titik komanya mau ditaruh dimana.

Saat membaca buku ini, aku juga merasa bosan. Kenapa? Well, tadinya aku kira ini hanya perasaanku saja. Tapi setelah aku tela'ah lebih jauh, ternyata memang benar. Di buku ini, kita hampir bisa menghitung ada berapa banyak percakapan yang terjadi. Lebih banyak narasinya. Perlu ditekankan, terlalu banyak narasi terkadang bisa membuat pembaca lelah lalu bosan. Memang ada sih dialog di dalam buku ini, tapi dialog-dialog itu terkesan asal bunyi, tanpa maksud yang jelas. Sayang sekali, bukan?

Move on dari segi pengembangan cerita, kita langsung saja membahas penokohannya. Ada banyak tokoh di buku ini, yang berarti ada banyak kepribadian. Saking banyaknya tokoh, aku rasa penulis jadi kesulitan memusatkan perhatian pada tokoh utama, yaitu Willy. Bukan berarti tokoh yang lain mempunyai karakter yang kuat. Aku rasa setiap tokoh di buku ini memiliki tingkat yang setara. Tidak ada yang terlalu menonjol atau pun diabaikan. Jujur saja, banyaknya tokoh ini membuatku bingung, karena karakteristik tiap tokoh tidak ditonjolkan. Padahal apabila penulis mengembangkan tiap tokoh dengan baik, aku rasa aku bisa menambahkan satu bintang lagi untuk buku ini. Willy yang digambarkan sebagai jagoannya buku ini pun aku rasa kurang pantas. Banyak hal-hal yang baik terjadi pada Willy, secara kebetulan, tanpa didukung oleh usaha Willy sendiri. Rasanya aneh melihat seorang pahlawan yang 'ongkang-ongkang kaki' seperti itu.

Ada satu hal lagi yang membuatku gatal pengin mengomentari. Di bagian sinopsis belakang buku, kita akan disuguhkan dengan garis besar isi buku. Bukan itu masalahnya. Yang menjadi masalah itu karena di sinopsis tersebut tertulis "Seperti Harry Potter..." berulang kali. Apa nggak salah? Okelah Willy sekolah di tempat lain yang diyakini sebagai Downside, dunia yang dihuni oleh hampir seluruh orang di Upside, namun dengan sikap berbeda. Okelah ada pula Professor yang menumpukan harapan pada Willy. Oke juga lah Willy mempunyai dua sahabat baik, yakni Danny dan Mandy. Namun, itu sama sekali tidak sama dengan Harry Potter. Professor Defiance jauuuuh berbeda dengan Professor Dumbledore. Defiance menurutku terlalu lepas tangan. Ada masalah di sekolah, dia langsung menyerahkan pada Willy, tanpa berusaha untuk membantu. Professor macam apa itu? -,-

Aku rasa ada baiknya untuk menghilangkan saja kata-kata mirip Harry Potter, karena kisah Willy Flarkies ini berdiri sendiri. Aku lebih suka buku ini apa adanya. Memang sih aku tidak terlalu menikmati kisahnya. Namun, tulisan di buku ini memang patut diberi jempol. Satu bintang untuk keberanian Satrio Wibowo menulis kisah petualangan seperti ini. Satu bintang untuk seluruh peralatan canggih yang diciptakan imajinasi Satrio.

Sebelum mengakhiri review, aku cuman mau bilang kalau.. ya, ini novel terjemahan. Lucu, kan? Yang menulis memang orang asli Indonesia, namun ia menulisnya menggunakan bahasa Inggris, lalu diterjemahkan. Agak aneh menurutku. Dan mau tidak mau, aku mikir juga. Kenapa Satrio Wibowo ini nggak langsung 'menyodorkan' bukunya yang berwujud bahasa Indonesia saja? Bukankah itu lebih baik? Rasanya kalau diterjemahkan begini terlalu berlebihan. :)

Kisah yang idenya bagus, namun pengembangannya belum cukup baik. Wajar kali ya, yang nulis anak-anak hehehe. Tapi aku bangga juga sih ada anak Indonesia yang berani menulis buku seperti ini. Penasaran apakah nantinya ada anak pemberani yang mau menulis kisah fantasi anak-anak lagi, dengan penulisan yang lebih matang tentunya.

Well done. Aku rasa 2 bintang cukup untuk Petualangan Willy Falrkies.

NB: listed on my 2013 TBRR Pile Fantasy Reading Challenge and What's in A Name Challenge 2013

4 komentar:

  1. Wah, anak 12 tahun udah bikin novel? kereeennn :O

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak, keren. Idenya juga lumayan. Sayangnya dia nggak bisa ngembangin buku dengan baik. :(

      Hapus
  2. Aku baca ini hanya kuat sampai bab dua saja! :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya aku cuman kuat sampai halaman 5 atau halaman berapaaa gitu. But I insisted to keep reading it! Rasanya nggak nyelesaiin baca buku itu sama aja kayak ninggalin suatu hubungan tanpa bilang2 dulu. *eh

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...