Sabtu, 17 Agustus 2013

[REVIEW] Harry Potter Companion Books

Kali ini tiga review sekaligus dalam satu post ya. Soalnya si buku-buku imut ini memang tipis banget. Nanti kalau aku buat postingan tersendiri, takutnya reviewnya malah kepanjangan dan bukan review lagi namanya (tapi spoiler). :)

Udah siap membaca textbooks Hogwarts? Here we go, Potterhead!

------------------------------oOo------------------------------

#1 Fantastic Beasts and Where to Find Them by Newt Scamander
Penulis: J.K. Rowling
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2002
Halaman: 88
ISBN: 978-979-686-563-5
I rate it 3/5 stars

Buku ini merupakan salah satu textbook Hogwarts. Berisi mengenai hewan-hewan fantastis yang mungkin eksis dan mungkin juga tidak di mata Muggle. Hewan-hewan ini diklasifikasikan menggunakan rating: X. Hewan dengan rating X sebanyak 5 kali (XXXXX), bisa dibilang sangat ganas. Dan tolong, jangan coba-coba untuk main-main dengan hewan itu (hanya memperingatkan, siapa tahu kalian iseng).

Keunikan buku ini menurutku terletak pada printed-paper yang dibuat seolah-olah mirip textbook asli. Kita bisa melihat banyak coretan di sini, yang diyakini sebagai (mayoritas) tulisan Ron Weasley, padahal ini milik Harry Potter. Kadang aku geli sendiri membaca tulisan-tulisan itu. You know Ron lah.

#2 Quidditch Through the Ages by Kennilworthy Whisp
Penulis: J.K. Rowling
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2002
Halaman: 80
ISBN: 978-979-686-556-7
I rate it 4/5 stars

Bagi yang mengaku pecinta Quidditch atau pun fans setia Chudley Cannons (lho?), wajib baca buku ini! Berkisah mengenai awal mula permainan Quidditch. Dulu Quidditch bisa jadi sangat brutal. Lihat saja apa yang dilakukan Wimbourne Wasps, yang salah satu Beater-nya tak sengaja melihat sarang tawon dan memukul sarang tawon tersebut ke arah lawan. Atau Falmouth Falcons, yang memiliki motto "Ayo menang, tapi kalau tidak bisa, patahkan saja beberapa leher." Hiyyy... Untungnya sekarang nggak demikian, yah.. meski masih ada aja yang mainnya curang. *lirik Slytherin*

Di sini juga dijelaskan tentang asal mula Quaffle, Bludger, dan Snitch kecil yang imut tapi bikin mata siwer. Membaca buku ini membuatku kangen Quidditch. Apalagi Quidditch di buku ketiga Harry Potter and the Prisoner of Azkaban! Haaa.. nggak bisa ngelepasin mata dari Quidditch Cup yang satu itu! Ah, I REALLY am in love with Quidditch! :D

Bagiku keseluruh bagian dari buku ini adalah kesukaanku. Kagum banget sama Rowling yang bisa menciptakan sejarah Quidditch (beserta nama tiap timnya) dengan begitu lengkap. Well.. aku rasa buku kedua Harry Potter Companion Books ini adalah buku yang paling aku suka dibanding dua buku lainnya. :))

Oh ya, sebelum pindah ke review buku selanjutnya, ada satu pesanku: jangan sekali-sekali mencoba untuk loncat dari atas genteng dengan sapu lidi hanya karena kalian membaca Quidditch Through the Ages dan ingin merasakan sensasi terbang dengan sapu.

#3 The Tales of Beedle the Bard, diterjemahkan dari bahasa Rune kuno oleh Hermione Granger
Penulis: J.K. Rowling
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2009
Halaman: 144
ISBN: 978-979-224-421-2
I rate it 3.5/5 stars

Remember this book? Ya, buku ini merupakan warisan yang diberikan oleh Professor Dumbledore ke Hermione Granger. Di buku inilah Hermione mendapati kalau ada yang aneh pada segitiga dengan lingkaran di tengahnya yang ditulis entah oleh siapa di bagian atas buku, simbol The Deathly Hallows. Simbol The Deathly Hallows itu didapat dari salah satu dongeng di buku ini, yaitu Kisah Tiga Saudara, salah satu dongeng favoritku di The Tales of Beedle the Bard.

Seperti yang sudah dikatakan di Harry Potter and the Deathly Hallows, buku ini hanya bercerita tentang dongeng anak-anak penyihir. Hampir sama dengan dongeng Muggles, bedanya di buku ini bukan hanya si antagonis yang merupakan penyihir, namun si protagonis juga merupakan penyihir. Menurutku dongeng di buku ini sama dengan dongeng kebanyakan. Ada suatu pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap dongeng.

Yang membuatku kagum dengan buku ini: Rowling menulis dongeng-dongeng di The Tales of Beedle the Bard dengan apik. Trus, ilustrasinya Rowling sendiri yang buat lho. Keren, kan? Aku jadi makin-lebih-tambah yakin kalau Rowling adalah penulis tercerdas that I've ever known. Satu lagi yang menjadi poin plus buku ini adalah di akhir tiap dongeng disuguhkan catatan Professor Albus Dumbledore mengenai dongeng tersebut. Ah, I always love and miss that old man. :')

----------------------------oOo----------------------------

Umm.. Harry Potter Companion Books-nya cuman sampai sini doang yak? -,-

Okelah. Setelah membaca buku-buku ini, aku baru mikir (yah.. dulunya juga pernah mikir tentang yang satu ini, tapi sekarang aja baru kebangetan mikirnya) dan berharap.. seandainya seluruh textbooks Hogwarts 'diperbolehkan' Dumbledore (dan Madam Pince, tentu saja) untuk dinikmati para Muggles. Aku bakal seneng karena akhirnya aku bisa baca Hogwarts: A History, atau malah buku panduan Potions yang sama persis dengan milik Snape (yang dilengkapi dengan catatan-catatannya juga). Warna kertasnya kuning-kuning tua begitu juga. Pasti asyik! (Hore untukku karena mengabaikan buku kuliah!) *dilempar EDVAC*

Kesan setelah membaca buku-buku ini: "Dear Rowling, aku ingin berterima kasih padamu karena telah menyuguhkan beberapa textbooks Hogwarts. Tapi sebenarnya, ini masih KURAAANG!" :'(

Yah, setidaknya aku masih punya satu stok buku lagi yang berhubungan dengan Harry Potter meskipun pengarangnya bukan Rowling. Kalau nggak salah judulnya The Unofficial Harry Potter Cookbook. Semoga saja aku punya waktu luang yang banyak biar bisa baca ebook yang satu itu. :D

Okelah pemirsa, in conclusion I love these Companion Books and wish could read more Companion Books (if only it were exists). Oh ya, terima kasih untuk temanku yang bersedia meminjamkan buku-buku imut ini padahal dia belum baca. You should read these, buddy! Dan sebagai penutup, ada kalimat yang aku suka nih, dari Quidditch Through the Ages. :)
Oh, sensasi kejar-mengejar itu saat aku melesat tinggi menembus udara
Snitch di atas kepala dan angin di antara helai-helai rambutku
Aku terbang semakin dekat, para penonton berteriak
Namun datang Bludger dan aku pun jatuh pingsan.

(hal. 57)

14 komentar:

  1. Dari ketiga buku itu justru yang paling aku suka yang Beedle the Bard :D Nggak beda jauh sama bed time story-nya muggle ya. Btw, ada bukunya James Potter lho. Waktu itu aku lihat di goodreads dan katanya sih JK Rowling juga suka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku paling suka ilustrasinya kalau buku yang itu. Dongengnya juga bagus, tapi entah kenapa kurang berkesan. Itu aja kali ya penyebab aku nggak jadi ngasih bintang empat, hehe.

      Judulnya apa, Ratri? Yang nulis siapa? Mau mau mauuuuu! >.<

      Hapus
  2. Sayang JK Rowling udah move on dari Harry Potter padahal keren kan kalo ada companion Hogwarts: A History sama buku ramuan Severus Prince ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya emang begitu. Tapi aku penasaran juga sih sama buku-bukunya Rowling yang lain. Penasaran pengin baca The Casual Vacancy sama The Cuckoo's Calling. Seems like interesting books since they're Rowling's! :D

      Hapus
  3. Aku pernah baca yang pertama itu tuh, waktu masih SD kalau enggak salah, pinjem punya temenku.
    Dan enggak tertarik XD
    Kayak kurang seru aja, menurutku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku pertama memang kurang seru. Coba kamu terusin baca yang kedua dan ketiganya, Zel. Menurutku bagus, lho. Apalagi yang Quidditch!
      <-- jangan didengerin, penggemar Quidditch kelas berat

      Hapus
    2. makanya aku bersyukur banget bacanya mulai buku 2 bukan buku 1, berkah gak dapet giliran antrean pinjem buku 1 hahahahah....
      langsung ke bagian seru, apalagi aku suka anagramnya voldy.

      Hapus
    3. Anagram Voldy? Errr kalo nggak salah itu di buku Harpot #2 yak, bukan di buku #2 Harpot Companion yang ini hehe. :/

      Sama, aku juga suka bagian itu. Rowling pinter banget bisa buat anagram keren dari Tom Marvolo Riddle jadi I Am Lord Voldemort. ^^

      Hapus
    4. emang maksudku buku #2 bukan companion. kalo companion aku mulai baca dari buku #2 juga sih. mungkin karena buku #2 itu 'agak' serius bahasannya jadi gak terlalu nampol. malah companion #1 yang bikin ngakak gara-gara coretan di buku yang mestinya buku pelajaran itu. soalnya aku dulu waktu jadi siswa juga suka nyoretin buku pelajaran ;D

      Hapus
    5. Kita kebalik dong ya, aku lebih suka buku duanya. Selera masing2 yak. :))
      Yang lucu dari buku itu emang coretannya si Ron dkk. Suka ide dibikin coretan begitu. :D Tos dulu dong! Aku juga suka nyoret buku pelajaran huahaha.

      Hapus
    6. hahaha, aku sih emang males bikin buku catetan enakan sekalian baca catetan di buku pelajaran. sekalian soalnya ;p
      *toss*

      Hapus
    7. Ngebahas buku pelajaran jadi kangen masa2 SMA.. #SalahFokus -,-

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...