Senin, 17 Juni 2013

[REVIEW] Pride and Prejudice

“Sejak awal, perangaimu, yang mencoba memikatku dengan keangkuhanmu yang memuakkan, tipu dayamu, dan sifat acuh tak acuhmu pada orang lain, semua itu menjadi landasan kebencianku kepadamu; dan sebelum sebulan aku mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria terakhir di dunia ini yang akan kunikahi.” –Elizabeth

Judul: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Qanita
Tahun: 2011
Halaman: 588
ISBN: 978-602-8579-54-4
I rate it 4/5 stars

Kalau kemarin-kemarin aku dilempar jauh ke masa depan (baca: berpetualang ke dunia fantasi dan distopia), maka sekarang aku ditendang ke masa lampau. Ketika pendapatan seorang pria dijadikan acuan bagi sang ibu untuk memilih suami bagi anaknya. Ketika acara yang selalu ditunggu-tunggu adalah pesta dansa (yang terlalu sering). Ketika makan malam kemudian bersantai sambil minum teh di ruang menggambar menjadi kebiasaan. Ketika pribadi yang bodoh, berbicara tanpa berpikir, dan suka berfoya-foya mendominasi. Oh, aku rasa aku juga merindukan saat-saat mengirim surat, meskipun surat-suratku sendiri tidak pernah kukirim ke orang lain.. :p

Pride and Prejudice adalah kisah klasik yang menyampaikan perjalanan cinta Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy. Boleh kubilang, kisah cinta yang terlalu mainstream. Dari benci jadi cinta. Kalau jaman dahulu, kisah beginian nggak termasuk mainstream kali ya. But I have to say that meskipun kisah ini tergolong kisah yang terlalu mainstream, buku ini bukanlah buku yang pantas dipandang sebelah mata. Bacalah dan kau akan tenggelam dalam pesona Darcy kisah apik ini.

Elizabeth dan Darcy pertama kali bertemu pada sebuah pesta dansa. Darcy terpaksa datang ke pesta dansa itu karena temannya, Bingley. Cinta Elizabeth dan Darcy bukanlah cinta pada pandangan pertama. Darcy dengan gamblang mengatakan Elizabeth ‘tidak menarik’ saat Bingley menyuruhnya untuk berdansa dengan Elizabeth. Sedangkan Elizabeth, jangan tanya, dia benci Darcy. Dan kebenciannya ke Darcy semakin dalam saat dia tahu fakta buruk tentang Darcy. Sedangkan Darcy.. pertemuan keduanya dengan Elizabeth menyelipkan persepsi baru bahwa Elizabeth memiliki sepasang mata indah, memancarkan pribadi Elizabeth yang ceria. Darcy pun mulai mengagumi Elizabeth..

Aku setuju dengan titel yang menyatakan bahwa buku ini merupakan roman terpopuler sepanjang masa. Kisah yang tidak akan aus dimakan waktu. Jane Austen berhasil meramu kisah klasik yang readable di masa lalu, sekarang, maupun nanti.

Karakter-karakter yang dibangun Austen begitu kuat, menurutku. Ada karakter yang bikin kesal setengah mati. Sebut saja Mr. Collins. Errrrrrr… it’s hard to explain my feeling about this narcistic, weird-but-more-than-weird, and annoying person. Sebenarnya, lebih tepat nih orang dibilang ngebosenin-yang-bermetamorfosis-menjadi-ngeselin. Inti pembicaraan sepanjang tiga kata bisa jadi tiga paragraf kalau udah manusia yang satu ini yang ngomong. Niat untuk skip racauan Mr. Collins ini ada, banget malah. Tapi, karena aku bermental prima dan pengertian seperti Jane Bennet, anak sulung Mrs. Bennet, aku bersedia ‘mendengarkan’ racauan Collins.

Ada juga karakter yang kadang buat aku kesal (banget), tapi di suatu waktu aku juga ‘memaklumi’ tingkahnya yang mengesalkan itu. Mrs. Bennet, ibunya Elizabeth. Seorang ibu yang tergila-gila akan harta dan nggak akan bisa diam sebelum melihat kelima anaknya menikah dengan pemuda tampan, mapan, dan terpandang. Aku udah tepok jidat aja kalau Mrs. Bennet mulai ngomong pakai “oh, teganya kau pada saraf-sarafku bleh bleh..” (padahal di kampus si reviewer sibuk ngomok pakai “oh, my nerves” juga). Tapi, aku juga memaklumi sikap Mrs. Bennet yang ngebet banget anaknya harus nikah! Dia cuman seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dia pengin lihat semua anaknya bahagia dengan suaminya nanti. Yah.. tapi tetep aja nih orang nggak lovable seutuhnya. I’ll love her kalau aja dia nggak pamer dan nggak tong-kosong-bunyinya-aduhai. *biarin garing* Yang keren itu suaminya, yaitu Mr. Bennet. Aku geli sendiri tiap kali 'mendengarkan' komentar yang sarat akan sarkasme dari Mr. Bennet.

Karakter lovable mah banyak bangeeeet. Sebut saja Elizabeth, wanita cerdas yang selalu berusaha untuk memandang sesuatu bukan dari satu sisi saja. Dia bukannya sempurna, dia kadang juga salah dalam menilai. Yang buat aku kagum itu Elizabeth nggak takut untuk mengakui kesalahannya. Lalu Mr. Darcy.. aduh gentleman yang satu ini.. (please jangan langsung ngidupin lagu Gentlemen-nya PSY please.. (?) lagu itu ga cocok sama Mr. Darcy!) oh.. Darcy, don’t take my heart, because my heart belongs to Alexander Callahan! *ini sumpah ngawur* Jadi Darcy ini pria angkuh yang sifatnya sangat bertolak belakang sama Mr. Bingley yang ramah dan menyenangkan. Itu menurut mereka yang memandang Darcy sebelah mata. Coba deh kalian bersikap apa adanya, berpikir cerdas, ramah, dan.. berani untuk mendekati Darcy. Kali aja kalian bisa jadi temen dekatnya dan kena cipratan rejeki dari Pemberley. Atau malah ditendang.. seperti yang terjadi pada Wickham? Intinya, Darcy ini sebenarnya penyayang banget. Dan.. oh, I’m in love with the way he loves Elizabeth.

Mau tahu gentleman sejati? Kenalan sama Mr. Darcy! *bagiin brosur liburan ke Pemberley*

Ada banyak lagi karakter yang bikin stress (Lydia, anak keempat Mrs. Bennet) atau bahkan karakter menyenangkan. Kalau dijelasin satu-satu aku yakin ini bukan review lagi namanya. -_-

Mengingat ini buku klasik, aku nggak bisa menggolongkannya sebagai buku ringan. Pertama, karakternya banyak banget. Pas awal baca bingung ini siapa, penting nggak sih untuk diingat. Alhasil aku nanya sama temen tentang karakter yang ini dan yang itu. Atau terpaksa balik ke halaman sebelumnya, biar lebih jelas lagi. :D Kedua, bahasanya bertele-tele, yah.. namanya juga klasik. Bagi yang malas sama cerita berat nan lambat, jangan baca buku ini karena bukan hanya ceritanya yang demikian, namun bahasanya juga bertele-tele. Ketiga, tebal. Nah, yang biasanya baca buku 200an halaman, errrr boleh sih baca buku ini, untuk latihan. Tapi kalau efek sampingnya otak encok, ya nggak usah.

Well.. gara-gara buku ini, aku jadi pengin baca buku-buku klasik lain. Terutama buku-bukunya Jane Austen. Buku-bukunya Lucy Montgomery kayaknya bisa dicoba juga huehehe. :p

“Semakin banyak aku melihat dunia, semakin aku merasa kecewa, dan setiap hari yang berlalu menegaskan keyakinanku, bahwa sifat manusia begitu mudah tergoyahkan, dan betapa sulit bagi kita untuk percaya kepada kebaikan maupun akal sehat.” –Elizabeth 
“…Kami mengobrol dan tertawa terpingkal-pingkal, hingga mungkin orang lain akan mendengar kami dari jarak sepuluh mil!”
    Untuk menanggapi adiknya (Lidya), Mary menjawab dengan sangat serius, “Bukan kebiasaanku, adikku sayang, untuk bersenang-senang dengan cara seperti itu. Sebagian besar wanita mungkin senang melakukannya. Tapi, kuakui, itu tidak membuatku tertarik—aku lebih suka membaca buku.” 
“Aku tidak ingat kapan tepatnya, atau di mana, atau kejadiannya, atau kata-kata yang menjadi pemicunya. Itu sudah lama berlalu. Tiba-tiba saja aku tersadar bahwa aku mencintaimu.” –Mr. Darcy

4 komentar:

  1. aaah. ripiunya asik. sebenernya aku sudah punya buku ini tapi biasalah, ditimbun. agak2 terintimidasi sama tebelnya itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. buku ini aku pinjem sama temen dari tahun kemarin lho. Dan baru baca sekarang! :D

      Hapus
  2. Trims udah buat review-nya ya Mbak Linda :D
    Btw, aku juga pingin sedikit kasih komentar ttg novel klasik satu ini. Aku setuju banget klo ceritanya itu mainstream banget klo diliat dari ukuran jaman sekarang. Tapi klo diperhatikan lagi, novel ini emang fenomenal. Bayangin aja klo seandainya Jane Austen gak membuat karakter Mr. Darcy barangkali sekarang gak mungkin ada tokoh2/ karakter film kayak Mr. Darcy di Bridget Jones Diary ato Tao Ming Tse-nya Meteor Garden, dan masih banyak lagi tokoh yang terinsiprasi sama Fitzwilliam Darcy (termasuk FTV2 Indonesia juga..)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yak, meskipun mainstream, bukunya emang kereeeeen! ^^

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...