Jumat, 10 Mei 2013

[REVIEW] Sepotong Hati yang Baru


Judul: Sepotong Hati yang Baru
Seri: Berjuta Rasanya #2
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Mahaka
Tahun: 2012
Halaman: 204
ISBN: 9786029474046
I rate it 3/5 stars

"Maka saat kebenaran itu datang, ia bagai embun yang terkena cahaya matahari. Bagai debu yang disiram air. Musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah siapa? Mau menyalahkan orang lain?"

Nah, pada hobi geer? Siapa di sini yang sering geer tingkat nasional? Deket sama cowok yang disenengin langsung nganggep tuh cowok juga punya perasaan yang sama? Hati-hati temaaan. Jatuh cinta kadang membuat mata kita buta. Nggak bisa berpikir rasional. Selalu berprasangka apa yang mau kita sangka. Hingga saat kebenaran tiba, wussshhhh.. bener kata bang Tere, musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu.

"Kau tahu, di tengah semua kesedihan itu, setidaknya saat itu aku akhirnya menyadari, aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan hati yang hanya tersisa separuh. Tidak bisa. Hati itu sudah rusak, tidak utuh lagi. Maka aku memutuskan membuat hati yang baru. Ya, hati yang benar-benar baru."

Kalau sudah terlanjur? Bangkitlah temaaan. Hidup nggak cuma sampai di hari kau patah hati. Bumi akan terus berjalan meski kau meronta-ronta sekalipun... kesal karena pengorbanan cintamu sia-sia. Bangunlah temaaan. Seandainya hati yang hancur itu tak bisa membawamu kembali menjalani hidup dengan baik, hiduplah dengan hati yang baru. Bagaimana caranya? Beli hati di pasar kelontong? Bukan. Tapi berdamailah dengan yang sudah lalu. Jadikan ia pelajaran. Bukan momok yang menghantuimu disaat kau mencoba untuk mencari kehidupan yang lebih baik..

"Kau tahu, kau hari ini terlihat cantik sekali. Meski aku lebih suka melihat kepalamu dulu yang botak."

Dan lagi.. apalah arti cinta sejati itu temaaan? Apakah cinta sejati selalu berakhir miris? Apakah cinta sejati selalu saja berujung maut meskipun sudah diperjuangkan sedemikian rupa? Apakah Seratus Naga Surga tidak bisa menghentikan kekacauan itu dari awal dan membuat dua belah hati itu bersatu? Memangnya apa lagi yang harus diharapkan dari kisah Sampek dan Engtay yang mengharukan? Cinta mereka sejati, bukan? Cinta mereka kuat, bukan? Tapi mengapa berakhir demikian? *ingus gue meler*

"...Tapi tjinta kita boekanlah apa-apa dibanding tjinta atas kemerdekaan bangsa kita. Tjinta soetji kita boekanlah apa-apa dibanding tjinta kita atas tanah air kita ini. Akoe, kamoe, akan mengorbankan apa poen demi itoe."

Nah, apa pula itu yang dinamakan dengan cinta tanah air? Pernahkah kalian tahu betapa sulitnya berkorban? Betapa sakitnya pengorbanan itu? Oh, jangan dulu bicarakan perjuangan cinta terhadap pasangan! Ketika negara kita masih dikuasai Belanda, bangsa kita dijadikan pembantu dan centeng-centeng, pengorbanan untuk cinta sejati saja sudah sulit. Apalagi pengorbanan terhadap tanah air. Butuh pengorbanan nyawa, temaaan. Lihatlah kisah Itje Noerbaja dan Kang Djalil yang terlupakan.. *samperin kompeni* *tempelin upil ke makanan mereka*

"...tetapi cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan."

Apakah perjuangan dan pengorbanan sudah cukup menjadi pondasi dalam cinta? Tidak, temaaan. Pondasi terpenting dalam cinta adalah kepercayaan. Lah, tahu apa aku soal cinta? Well.. aku tidak tahu apa-apa. Berkorban sedemikian rupa saja aku tak pernah. Tapi kepercayaan? Aku juga tidak yakin sudah memiliki rasa kepercayaan itu atau belum. Bukankah perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu? Lihatlah kisah Rama dan Shinta. Rasa cinta mereka besar terhadap satu sama lain. Tapi nyatanya tak sebesar itu. Hati Rama ringkih. Begitu juga bangunan cinta yang sudah dibangun bertahun-tahun itu. Roboh tak bersisa..

Bagaimana dengan kata penyesalan? Ia selalu datang di akhir. Tak pernah ada penyesalan yang datang di awal. Ia hanya menyisakan luka. Hanya mereka yang 'kuat' yang berani mengambil alih kembali hidup mereka. Hidup dengan hati yang baru. Hidup dengan nafas yang baru. Biarlah.. yang lalu biarlah berlalu. Biarkan ia menjadi cerita. Bukankah mereka yang bijaksana selalu menanggapi cerita lama dengan kepala dingin?

"Dua puluh lima tahun aku menghabiskan masa kanak-kanak, kuliah, surat-surat itu. Dua puluh lima tahun, seperempat abad, apa yang harus aku sesalkan? Sekarang umurku lewat lima puluh. Dua puluh tahun lagi hidup dengan mengenang masa lalu itu saja sudah cukup menyenangkan, bukan?!"

Terima kasih Mbak Hesty atas kisahnya. :') Btw, bang Tere, jadi kisah Mbak Hesty dan Tigor ini nyata adanya?

2 komentar:

  1. Aku selalu suka karya Tere Liye. Kata-katanya selalu memukau. Novel-novelnya juga memiliki ending yang tak bisa ditebak. Semua karya Tere Liye keren :)

    Sepotong hati yang baru. Terkadang perlu adanya hati yang baru untuk dapat melupakan semua kenangan masa lalu.

    Cinta tak selamanya harus memiliki, jikalau seseorang di masa lalu tak bisa bersama di masa depan artinya kita tidak berjodoh. Tenang saja pasti akan ada sepotong hati yang baru yang akan datang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Din, novel2nya sederhana tapi ngena banget. My most favorite Indonesian author lah dia ini. :))

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...