Sabtu, 28 Februari 2015

Opini Februari: "Karakter Tokoh Utama"

Sebelum Februari ceria benar-benar berakhir, aku akan menyempatkan dulu nulis opini bareng bulan ini. Tema opini bareng kali ini adalah salah satu unsur yang selalu aku masukkan di dalam review: Karakter Tokoh Utama. Selain gaya penulisan buku, (kadang-kadang) eksekusi masalah, dan keunikan buku (kalau ada), karakter tokoh utama merupakan salah satu target utama yang kupelototi. Kenapa? Karena menurutku karakter utama ini adalah media tidak langsung (eh, langsung apa tidak langsung ya?) yang digunakan pengarang untuk menyampaikan cerita, apalagi kalau pakai sudut pandang orang pertama. (Mungkin aja kan ya si pengarang menyampaikan kisah hidupnya tapi pakai tokoh rekaannya di buku? Mau dong aku kepo sedikit. Eheh.) :p

Baiklah.. sebelum postingan ini nantinya malah jadi postingan yang nggak nyambung sama judul, langsung saja aku kasih dua poin yang akan aku tulis di sini (udah sok keren belum?): what I search & what I usually found. Meskipun judulnya keren, jangan berpikir kalau penjelasan tentang dua poin tadi akan sama kerennya. Iya, anggap aja lah nama poin-poin tadi keren. Oke?

aku lagi seneng dengerin I Know Places-nya Taylor Swift lho! :3 #infonggakpenting
(mohon abaikan judul lagu di foto yang nggak sama) (picture taken from Tumblr, btw)

When I start reading a new book, what I search from the main character? Sejujurnya, ada tiga karakter tokoh utama yang PASTI bikin aku suka:
1) lucu, secara smart atau dia emang dasarnya agak-agak miring. Karena hidup itu terkadang berat jadi aku butuh hiburan dari tokoh yang begini. Aku juga suka tokoh yang tingkahnya mendadak konyol pas dia ketemu sama cewek/cowok yang dia suka (bukan yang menye-menye dan bikin pengen tendang tuh orang saking gebleknya ya, itu mah ngeselin!). Pas nulis poin ini, aku nggak sengaja inget Raya dan Lea dari Call Me Miss J. Mungkin karena mereka itu ngegemesin! :3
2) sikapnya dingin, punya masa lalu kelam tapi stay strong. Kalau yang begini, aku langsung diem tiap kali inget Vida Winter dari The Thirteenth Tale.
3) tokoh yang sederhana. Aku sering menemukan tokoh yang begini di buku karangan Tere Liye. Ambil saja Borno sebagai contoh, bujang berhati paling lurus sepanjang tepian Kapuas, dari Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Dia itu cowok yang biasa-biasa saja, tapi sanggup buat aku senyum-senyum sendiri. ;)

Selebihnya, tergantung si pengarang, gimana dia membangun karakter tokoh utama dari awal hingga akhir. Sampai sekarang aku masih salut sama Pidi Baiq yang bisa menciptakan tokoh Dilan yang awalnya terkesan norak nan aneh jadi cowok yang romantis anti-mainstream sampe bikin aku pengen remes-remes buku saking gemesnya (sayangnya nggak bisa karena itu bukan bukuku). :| *ngunyah risoles* :|

Aside from what I search, what I usually found in books? Karakter tokoh utama yang sering banget aku temuin di buku adalah cantik/ganteng, pinter, kaya, pokoknya perfect. Atau yang terlalu baik dan sabar sampai-sampai aku kesel sendiri sama si tokoh utama yang terlalu pasrah. Karakter tokoh yang begitu terlalu mainstream. Bosen? Iya. Nggak realistis, juga iya. Tapi, nggak jarang ada karakter tokoh utama begitu yang bikin aku suka. Sebut saja Katrina dari Runaway Ran. Dia nggak tergolong super perfect seperti yang kusebutkan tadi, tapi punya beberapa sifat mainstream (karakter metropop?). Aku suka sama karakternya Katrin ini karena dia anaknya pantang menyerah dan mau berusaha. Dan lagi, dia ini terkesan nyata karena sifat impulsifnya dalam belanja itu. Hayoooo yang hobi belanja online! xD

Untuk kesimpulan: suka atau tidak sukanya aku pada tokoh utama, tergantung bagaimana si pengarang membangun atau malah menjatuhkan karakter tokoh yang diciptakannya. Dan lagi, karakter tokoh utama itu nggak harus sempurna, juga nggak harus selalu menyedihkan juga. Mereka boleh saja memiliki poin-poin yang bikin orang lain iri, tapi.. baiknya punya sifat negatif yang umum, juga realistis (contohnya hobi belanja kayak Katrin tadi). Oke juga kalau tokohnya menyedihkan, tapi please.. jangan melulu dia pasrah atau nrimo, dan jangan juga dia bertubi-tubi kena sial. Setiap manusia itu berhak bahagia, begitu juga dengan tokoh rekaan yang hidup dalam kertas dan tinta. #ciyeh :)))

2 komentar:

  1. Sama, Lin. Aku juga suka karakter yang, mengutip istilah kamu, "lucu secara smart".

    Ini aku lagi baca Dilan. Baru mulai sih. Tapi sudah bikin ngakak aja. Betul katamu, tokoh Dilan ini anti mainstream. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga suka Dilan sampe akhir ya, Kang! :D

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...