Senin, 30 September 2013

[REVIEW] American Gods

Ini bukan negeri untuk para dewa. Negeri ini diangkat dari dasar samudera oleh seorang penyelam. Dipintal dari tubuhnya sendiri oleh seekor laba-laba. Dijatuhi kotoran burung gagak. Negeri ini tubuh dewa yang jatuh, yang tulang-belulangnya adalah gunung-gunung, yang matanya adalah danau-danau. Ini negeri mimpi dan api.” –Api (hal. 326)

Judul: American Gods
Penulis: Neil Gaiman
Penerjemah: Lulu Wijaya & Ariyantri E. Tarman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2012 (first published 2001)
Halaman: 784
ISBN: 978-979-22-7891-0
Harga: Rp125000
I rate it 5/5 stars

Shadow menjalani hukuman tiga tahun di penjara. Ia meninggalkan istrinya (Laura), menjalani hukuman dengan sabar, dan mengisi waktu luang dengan memainkan beberapa trik koin. Hingga beberapa hari sebelum dibebaskan, setelah ia disibukkan oleh menulis berbagai daftar-yang-harus-dilakukan-setelah-bebas-nanti, ia diberitahu kalau masa bebasnya dipercepat. Ia dikeluarkan dari penjara lebih cepat.. karena istrinya, Laura, meninggal.

Laura yang ada di daftar utama yang-harus-dilakukan-setelah-bebas-nanti telah meninggal. Shadow kehilangan arah. Dia tidak tahu harus kemana atau berbuat apa nantinya setelah bebas dari penjara.

Disaat ia tak tahu harus kemana, seorang asing bernama Wednesday datang secara misterius menawarinya pekerjaan. Shadow harus menjadi pesuruh, sopir, dan pelindung Wednesday. Jika dalam ‘misi’ ini Wednesday meninggal, Shadow haruslah orang yang melakukan upacara pemujaan untuknya. Itu janji-janji yang telah disetujui Shadow.

Perjalanan bersama Wednesday bukanlah perjalanan yang biasa. Hampir tiap hari ia bermimpi hal aneh. Ia lebih sering mendengar kata ‘badai’ dan ‘dewa’. Ia merasa semakin aneh ketika tubuh yang sudah mati tiba-tiba bangkit kembali dan menyelamatkan hidupnya hampir tiap kali ia berada dalam kesultian.

Sebenarnya hal aneh apa yang sedang terjadi? Mampukah Shadow menyingkap sedikit demi sedikit rahasia yang terkunci dalam diri Wednesday?

“…Mereka yang sungguh percaya kepada kita meninggal, atau berhenti percaya, dan kita pun ditinggalkan, tersesat dan ketakutan dan tak berumah, bertahan hanya dengan potongan-potongan kecil penyembahan atau kepercayaan yang masih bisa kita temukan. Dan bertahan hidup sebisa kita. … Dewa-dewa tua, di negeri baru tanpa dewa ini.” –Wednesday (hal. 193)

Respon yang aku berikan saat membaca buku: Gaiman ini tangan dan otaknya terbuat dari apa sih, kok bisa menulis kisah yang intinya sederhana namun menjadi keren begini.

Respon yang aku berikan menjelang akhir buku: anjiiiiiiir, jadi dari awal aku kena tipu nih sama Wednesday?!

Respon setelah membaca buku: *speechless* *hanya bisa tersenyum sambil mendekap buku* :))

Ini adalah karya kedua Gaiman yang aku baca setelah Good Omens. Yah, dua buku itu sama-sama aneh, sama-sama cakep kayak Gaiman. Tapi lebih cakep American Gods dong. Kalau kalian suka sama karya-karya Gaiman atau sama Gaimannya, kalian pasti menjadikan buku ini sebagai favorit. Aku saja yang tadinya memiliki perasaan yang biasa-biasa aja sama Gaiman, eh, maksudnya bukunya, sekarang jadi kebelet pengin ngumpulin SELURUH buku-buku yang ditulis Gaiman. Tadinya sebelum jadi fans berat gini memang udah niat ngumpulin bukunya sih, tapi sekarang rasanya beda. Yang kemarin-kemarin cuman sekadar pengin-punya-seluruh-buku-Gaiman, sekarang menjadi aku-HARUS-punya-semuanya.

Buku ini mengandung bermacam-macam elemen yang nggak bisa aku sebutin satu-satu. Tapi elemen yang paling kuat itu yaaa mitologinya. Tangan Gaiman lincah banget memainkan setiap potongan mitologi. Menggabungkan potongan-potongan mitologi itu menjadi satu kesatuan yang aneh, namun utuh. Yah, kesan aneh tapi keren memang sulit untuk dilepaskan dari buku-bukunya Gaiman. :p

American Gods termasuk buku yang tebal. Tebalnya buku ini bukan karena ada adegan action serupa perang atau apa, meskipun adegan yang menegangkan itu memang ada. Sebab utama tebal buku ini mungkin karena Gaiman yang memang ingin membuat sebuah kisah yang berliku-liku, rumit, namun hasilnya tetap saja membuat pembaca puas. Ketebalan buku ini tidak membuatku bosan. Malah, aku merasa kurang! Aku menantikan berjalan santai dengan Shadow di Lakeside saat musim panas. Ini serius, aku memang jatuh hati sama tokoh yang satu itu! Tebalnya buku inilah yang aku suka. Diselipi berbagai macam mitologi. Diselingi beberapa kisah dari masa lalu, masa kini. Kisah-kisah lepas yang tak sepenuhnya lepas dari American Gods sarat makna, dan terkadang meninggalkan sakit hati. Iya, ada beberapa bagian dalam kisah yang membuatku merasa teriris-iris. Salah satunya adalah kisah yang diawali dengan: Ada seorang gadis dan paman gadis itu menjualnya.

Aku suka karakter Shadow, karakter utama yang tidak sempurna, yang merupakan mantan narapidana, yang bukan penjual bualan, yang berbicara apa adanya, bersikap apa adanya, namun juga keras dan to-the-point. Aku suka hampir seluruh karakter lain di American Gods, yang namanya nggak bisa aku sebut satu per satu karena mungkin jumlahnya lebih dari 10. Yah, tapi aku memang paling suka Zorya Polunochnaya (CMIIW, namanya susah banget dieja). Aku juga suka Wednesday, tapi sekadar suka. Rasa suka biasa yang nantinya akan hilang kalau nggak diingat-ingat lagi. Aku lebih suka Mr. Nancy. Kok aku barusan mikirnya Mr. Nancy itu cocok yaa jadi bapaknya Shadow. #abaikan #udahmalem #lagierror

Yang suka fantasi berat-berat, yang suka kisah aneh-aneh, baca deh American Gods! Nggak usah takut atau mual sampai mau muntah pas tahu buku ini tebalnya hampir 800 halaman. Sayang banget kalau buku sekeren ini dianggurin di toko buku atau dibiarin di timbunan buku kalian. ;)

Bukan pilihan. Kau sudah berjalan jauh dan tidak bisa kembali lagi. Jadi teruslah berjalan. Jalani hukumanmu sendiri… (hal. 216) 
Mereka mungkin kotor, dan pelit, dan makanan mereka mungkin rasanya seperti kotoran, tetapi setidaknya mereka tidak bicara klise. Dan dia berpikir dia lebih memilih atraksi jalan, tak peduli betapa murah, betapa kacau, atau betapa menyedihkannya, daripada shopping mall, kapan saja. (hal. 240) 
Fiksi membantu kita menyelinap ke dalam kepala-kepala lain, tempat-tempat lain, dan melihat keluar melalui mata yang lain. Lalu dalam kisah itu, kita berhenti sebelum kita mati, atau kita pura-pura mati, tanpa terluka sedikit pun, dan di dunia di luar kisah itu, kita membalik halaman atau menutup buku, dan kembali meneruskan hidup kita. –Mr. Ibis (hal. 426) 
Seperti salah satu mimpi yang mengubah dirimu. Kau menyimpan sebagian mimpi itu selamanya, dan kau tahu beberapa hal jauh di dalam dirimu sendiri, karena itu terjadi padamu, tetapi saat kau mulai mencari-cari detail, semuanya seperti hilang begitu saja dari kepalamu. –Shadow (hal. 706)

14 komentar:

  1. Barau baca dua buku Gaiman si, Caroline dan Stardust. Suka banget yang Caroline tapi yang Stardust bagiku ku jelek banget ._. Entahlah, jadi meskipun orang sudah pada ribut membicarakan Gaiman saya belum tertarik mengoleksi bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. *tepok jidat* Aku juga pernah baca Coraline kalo ga salah (minjem sih, jadi lupa kalo pernah baca) huehehe. Aku suka sama Coraline, kereeeeen. Aku kasih 5 bintang, dan belum di-review soalnya udah lama bacanya dan.. lupa. Belum pernah baca Stardust, tapi pengin coba baca ahhh~ :p

      Hapus
  2. Buku ini......................

    ......................

    ......................

    bisa buat bobok

    .......................

    sekian.

    wkwkwk..aku spamming banget... :))

    Bukunya gaiman yang paling bikin aku penasaran smp skrg baru The Graveyard Book.. *_*

    BalasHapus
  3. punya sejak tahun lalu, tapi.....masih belum mood untuk baca, padahal dulu ngidam banget, nunggu mood dulu deh daripada nanti berasa jelek bacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, buku ini buku bagus, biar tambah bagus bacanya pas mood lagi baik aja. :D

      Hapus
  4. udah baca Gaiman yang Graveyard Book dan suka, terus pas baca Good Omens tiba-tiba kurang suka karena entah males atau apa itu novel aku diemin di sepertiga buku-_- tapi kayaknya yg ini seru, ada mitologinya, terus namanya unik._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good Omens lumayan sih. Nggak keren tapi bagus buat hiburan, lumayan bikin geli soalnya. :p

      Hapus
  5. sdh lama pengen baca buku ini tp belum kesampaian :(
    eh..salam kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga dalam waktu dekat kamu kesampaian baca buku ini juga. ^^

      Hapus
  6. baru baca stardust aja, good omen sama american gods ini masih leyeh-leyeh dirak, belum kesentuh.. hahaha.. habis baca review ini agak tergoda buat baca,, :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga nantinya bukan 'agak' lagi, tapi jadi 'sangat'. :p

      Hapus
  7. lagi nyari review american gods dan nemu postingan ini .. makasih ya .. jadi buku ini lumayan rekomendasi buat genre fantasy mythology kan .. ? soalnya baru nemu di toko buku ..
    Gara gara baca buku beliau yg the ocean at the end of the lane itu (yg menurutku aneh dan menyisakan byk pertanyaan) jadi agak gimana gitu kalo mau beli bukunya ... :D salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku-bukunya Neil Gaiman memang aneh semua, termasuk buku ini lho. Jangan heran yak. Tapi itu memang ciri khas-nya Gaiman. ^^

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...