Minggu, 15 September 2013

[REVIEW] Cinta. #VirtualBookTour

Apakah cinta yang sudah dimiliki orang lain, masih boleh kita cintai? Apakah cinta yang menjadi milik orang lain, boleh kita ambil? Apakah cinta yang kita berikan kepada seseorang, yang sudah dicintai oleh orang lain, masih bisa disebut sebagai cinta? Bukankah itu cinta yang “salah”? Lalu, bagaimanakah cinta yang “benar” itu? (hlm 131)

Judul: Cinta.
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Bukune
Tahun: Agustus 2013
Halaman: 324
ISBN: 978-602-220-109-0
I rate it 2/5 stars

Sejak tragedi yang terjadi antara Ayah dan Ibunya, Nessa telah membangun dinding kokoh untuk melindungi hatinya yang rapuh. Dia tidak mudah untuk mempercayai lelaki dan selalu berusaha untuk tidak salah langkah dalam menjalin hubungan. Hal ini membuat sang Ayah cemas hingga ia memutuskan untuk menjodohkan Nessa dengan anak sahabatnya, Endru. Ia takut anaknya menjadi perawan tua karena tak kunjung mendapatkan tambatan hati.

Apakah selama ini Nessa memiliki tambatan dalam hatinya?

Tadinya sih tidak. Namun, sekembalinya ia dari Pontianak ke Yogyakarta, ia bertemu dengan seorang pria berambut gondrong bernama Demas di dalam pesawat. Bermula dari Demas yang menawarkan pekerjaan pada Nessa di perusahaan penerbitan—EPILOG—, hubungan mereka pun semakin dekat. Nessa sendiri merasa dinding yang telah ia bangun perlahan runtuh.

Sayangnya, takdir tak berbaik hati perihal hubungan mereka. Setelah insiden ciuman-di-bibir itu, barulah Demas mengakui pada Nessa kalau Demas sudah bertunangan dengan seorang pramugari bernama Ivon. Namun, Demas tak mau melepaskan Nessa begitu saja. Ia mengakui bahwa ia sudah bertunangan, tapi ia juga ingin Nessa menjadi miliknya..

Bagaimana sikap Nessa mengenai hal ini? Jika ia memutuskan pergi dari kehidupan Demas, ia tidak akan sanggup karena ia begitu mencintai lelaki itu. Dan jika ia memutuskan untuk tinggal, itu sama saja dengan perselingkuhan, dengan Nessa yang jadi orang ketiganya.

Jika ibarat naskah mentah di hatinya dengan banyak sekali kesalahan di sana sini, Nessa adalah bagian yang tidak ingin ia revisi. (hlm 182)

Sebelumnya, aku ingin berterima kasih pada Bukune dan Mas Bara untuk bukunya. Aku senang bisa menyicip Cinta. karya Mas Bara. Ini bukunya yang pertama kali aku baca lho. Pendapatku mengenai buku ini sebenarnya agak timpang sebelah. Lebih banyak bagian yang tidak kusuka daripada yang aku suka.

Jadi, bad or nice part first? Biasanya sih aku lebih memilih bad part-nya dulu.

Kepribadian Demas yang egois. Aku nggak bisa nyalahin Demas yang egois untuk mencintai dan memiliki Nessa, karena yang namanya cinta memang nggak bisa diatur-atur mau datang kapan, dimana, dan sama siapa. Cinta juga nggak mengenal kondisi. Demas berhak untuk mencintai Nessa dan mempertahankan hubungan dengan Nessa meskipun ia masih memegang status sebagai tunangannya orang. Perselingkuhan kan bukan hal yang nggak biasa lagi. Jadi adegan perselingkuhan wajar saja buatku meskipun aku juga tidak menyukai hubungan terlarang itu. Yang bikin aku kesal adalah si Demas baru memberi kejelasan statusnya ketika Nessa telah terlanjur jatuh hati sama Demas. Aku tahu Demas memang jenuh akan pertunangannya dengan Ivon, tapi kan penyelesaian nggak harus dengan selingkuh. Nessa bukanlah satu-satunya jalan terang! Jahat banget kamu, Demas.. :(

Nessa yang plin-plan. Susah memang yang namanya move-on setelah tahu sang pacar udah tunangan.. err anggap aja pacar meskipun mereka sebenernya belum pacaran tapi nggak sengaja ciuman. :p Yah, meskipun demikian, ada baiknya Nessa berani mengambil keputusan. Tadinya lagi usaha menjauh dari Demas, eh beberapa saat kemudian malah luluh karena sikap Demas yang —menurut Nessa—so sweeeet. Orang yang plin-plan itu ngeselin banget buatku, terkesan nggak punya pendirian. #NoOffense

Ada beberapa kekakuan bahasa yang aku temukan di sini. Contohnya ini:
“Kalau dia selamanya, mungkin saya jadi tidak sesuka ini sama dia. Karena dia sementara, jadi saya menunggu dia. Karena dia cuma sebentar, jadi saya mau mengabadikannya.” (hlm 22)
Ada kekakuan yang aku rasakan saat menggunakan kata ‘jadi’ pada percakapan di atas. Lebih enak kalau kata ‘jadi’ itu dihilangin sih, IMO. Terus yang ‘menunggu dia’ itu menurutku lebih enak kalau jadi ‘menunggunya’. Percakapan barusan adalah percakapan Nessa dan Demas saat pertama kali mereka bertemu. Aku juga agak bingung, ini sengaja dibuat kaku karena mereka pertama kali bertemu, atau karena kalimatnya terlewat oleh si editor. Tapi ada juga kalimat yang kaku di halaman 59 dan kalimat gado-gado (artinya nyampur bahasa Inggris dan Indonesia dalam satu kalimat utuh, ini istilah buat sendiri sih hehe) di halaman 134. Kalau kesalahan tipografi yang huruf-hurufnya ketinggalan atau penggunaan tanda kutip yang nggak sesuai sih aku masih bisa wajar. Tapi kalau kalimat yang kaku, aku merasa nggak nyaman bacanya.

Meskipun demikian, buku ini juga punya nice part-nya yang sejak awal baca sampai sekarang pun masih aku suka.

Aku suka ide Mas Bara yang menaruh objek buku dan puisi ke dalam Cinta. ini. Apalagi bawa nama Pablo Neruda. *langsung melting baca Sonnet XVII* Puisi yang paling aku suka (selain kutipan puisinya Neruda, tentunya) adalah puisi yang dibuat atas nama Endru, tunangannya si Nessa. Eh, iya, jadi lupa sama Endru huehehe. Boleh jujur kan ya? Selain Bian—sahabatnya Nessa yang liar tapi tahu diri dan aku rasa asyik diajak ngobrol—, aku juga suka sama sosok Endru. Baik banget meskipun dari luar terkesan dingin dan suka seenaknya. Tapi dia ini jujur! That’s why I loved him. Kalau saja Bian belum menikah, aku bakal ngejodohin Endru sama Bian. *maunya Bian ini* Selain itu, aku juga suka wordplay antara Endru dan Nessa di halaman 164-165. Sayangnya, Nessa nggak niat melanjutkan wordplay itu. :( Dari sekumpulan wordplay ini, ada satu yang paling aku suka, buatannya Endru (lagi).

My favorite part is the lyric, while yours is the music. The distance makes me sick, but there’s no option I can pick. (hlm 165)

Alasan suka sama kalimat barusan? Karena aku rasa kalimat itu langsung buat aku ber-“oh, that’s right, distance” sambil nyengir. x)

Di dalam Cinta. kita bukan hanya disuguhi dengan puisi jatuh cinta dan patah hati. Kita juga diberi pencerahan sama Mas Bara kalau kesalahan pada perselingkuhan itu tidak selalu karena satu pihak. All of them deserve to be blamed. Selingkuh itu juga nyusahin banget, ada banyak hal yang buat kalian pusing dan stress. Jadi tolong, usahain jangan pernah terlibat dalam perselingkuhan. Nggak baik bagi kesehatan pikiran dan jiwa. :p

Sekali lagi, terima kasih untuk bukunya. Meskipun aku tidak menyukai buku ini to-the-max, buku ini mempunyai kesan yang dalam untukku. Aku juga tidak keberatan untuk membaca buku Mas Bara yang lain. Mungkin aku nanti akan mencoba Milana. Penasaran berat sama buku itu huahaha. :D

Eh, Mas Bara, ada niat untuk buat buku khusus puisi nggak? Cuman nanya doang sih huehehe. x)

“Kalau aku menunggu terus sampai ada yang benar-benar pas, aku tidak akan pernah menikah, Nes. Kamu yang membuat pasanganmu menjadi pas denganmu, bukan hanya menunggu.” —Bian (hlm 114) 
Jangan merebut kebahagiaan orang lain, Nak. Carilah kebahagiaanmu sendiri.” —Ayah Nessa (hlm 240) 
Tetapi, siapa di dunia ini yang bisa mengendalikan hati?
Tidak ada, tidak mungkin ada.
(hlm 254)

9 komentar:

  1. Wah..kamu berhasil dapat buku ini untuk virtualbook tour itu ya...
    Selamat !!

    BalasHapus
  2. Wah, congrat ya berhasil dapetin Cinta di program #VirtualBookTour.
    Ini WW-ku minggu lalu, semoga suatu saat bisa baca buku ini ;)

    BalasHapus
  3. Huehehe makasih mbak desty. Makasih mbak luckty. x)
    *ini ngucapin makasihnya kayak apa aja deh*

    BalasHapus
  4. Halo, Linda... Jadi tadi pas main2 ke Gramedia aku juga iseng baca halaman2 pertama buku ini, mumpung ada buku yg terbuka, hehe. Jujur aku agak jengah karena admin Bukune overtwit about this book. Promo yg beruntun biasanya memang bakalan nempel di otak yg baca, ya. Tapi berhubung aku sudah pernah baca novel Bara sebelumnya yg Kata Hati, aku jd skeptis (baca resensinya di sini: http://dinoybooksreview.wordpress.com/2013/04/01/kata-hati-by-bernard-batubara/). Oke, balik, jadi setelah baca prolognya jujur ya, aku terpikat dan mau banget baca halaman2 berikutnya. Tapi sebagian dari diriku yg lain seolah mengingatkanku akan trauma paska baca Kata Hati yg juga cuma kuberi 2 bintang. Ketakutanku apa? Emm, bakalan banyak kalimat-kalimat melankolis, seperti puisi yg diparagrafkan. Apalagi Kata Hati tuh tokoh utamanya cowok, jadi menye-menye banget gituu. Jadi ya gitu deh tadi pas intip Cinta. kayak orang tertarik tapi tetep skeptis, hehe. Apalagi kamu juga sebutin banyak puisi di sini. Menurutku sih puisi dalam novel nggak masalah asal proporsinya tepat, kalau kebanyakan ya muak alias eneg juga nggak, sih? Hoho, tapi kalau timbunanku udah berkurang banyak tetep mau sih baca buku ini, apalagi kalau dapat gratisan juga, hahaha. Aku yakin sih skill Bara (seharusnya) lebih baik di novel terakhirnya ini. Btw Bara juga udah pernah nerbitin buku kumpulan puisi deh, belum baca tapi ada di profil goodreadsnya. Well, dia memang basicnya penyair, sih. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena ini buku baru terbit kali yak, makanya Bukune overtwit gituh. :) Huehehe iya Din, di sini banyak puisinya. Kalau kamu lagi jengah sama puisi dan kata-kata melankolis, mendingan jangan baca dulu deh. Nanti2 aja. Apalagi pasca trauma gitu. *eh* :p
      Aku sih kunikmatin aja kemelankolisannya, meski pun nggak senikmat puisi Pablo Neruda huahahaha. xD

      Hapus
  5. aku telat daftar, huhuhuhu tapi penasaran nih, apalagi ceritanya tentang pertunangan, aku sukaaaa :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...