Minggu, 22 September 2013

[REVIEW] Dimi is Married

Aku dipaksa menikah! Dengan perempuan yang bukan pacarku! Tahu apa artinya? Tidak cantik, tidak mulus, tidak gaul, tidak modis, tidak cemerlang, tidak kelas, dan tidak segalanya. Singkatnya, dia itu si kampungan dari zaman batu! -Garda (hal. 6)

Judul: Dimi is Married
Penulis: Retni S.B.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2010
Halaman: 384
Harga: Rp52000,-
ISBN: 978-979-22-6277-3
I rate it 3.5/5 stars

Gara-gara ibu pacar-pacar centilnya protes ke Papa, Garda dipaksa oleh papanya untuk cepat-cepat menikah! Tapi, ada tapinya. Garda HARUS menikah dengan gadis pilihan Papa, yaitu Dimi!

Garda yang merasa hidup sempurnanya sebentar lagi hilang karena status pernikahan, jadi kesal setengah mati. Ia membenci Dimi. Sangat membenci gadis belia yang masih 23 tahun itu, lebih muda 8 tahun darinya. Namun, ujung-ujungnya Garda bersedia melamar Dimi, hanya untuk satu alasan. Dia ingin Dimi menjadi ALAT sebagai pelunak hati papanya. Agar nantinya ia bisa menjadi pewaris utama Utamaraya Pulp and Paper!

Dimi yang awalnya ragu dan heran atas permintaan tiba-tiba sahabat Ayahnya itu, lama-lama setuju juga dilamar Garda. Siapa juga yang nolak dilamar sama cowok ganteng, kaya, dan dewasa seperti Garda? Orang buta iya, kali. Mana Garda sikapnya manis dan romantis (diawal) gitu lagi.

Maka, menikahlah Dimi dan Garda. Dimi dengan harapan besar mendapatkan kehidupan rumah tangga yang mawaddah dan sakinah, sedangkan Garda dengan harapan nantinya ia akan menjadi pewaris utama perusahaan Papa.

Namun, apakah harapan mereka masing-masing nantinya terpenuhi, ketika salah satu pacar Garda yang menganggap-dirinya-paling-cantik-dan-paling-berhak-mendapatkan-ini-itu (panggil saja dia Donna) tiba-tiba memasuki kehidupan mereka yang awalnya baik-baik saja (sesuai keinginan Garda)?

Aku seperti mendadak kena serangan topan badai. Cewek sok Prancis tadi ternyata pacar Garda!! -Dimi (hal. 124)

Gilak! Itulah salah satu hal yang keluar dari mulutku saat baru mulai membaca buku ini. Ya Tuhaaan.. jahat banget si Garda! Tega gitu menjadikan pernikahan sebagai alat untuk mendapat jalan cerah dalam karir. Tega banget dia ngorbanin kebaikan seorang gadis mungil polos bernama Dimi.

Itu yang pertama.

Yang kedua, aku nggak bisa berhenti baca buku ini. Err.. berhenti sih berhenti. Tapi nggak sanggup berhenti baca lama-lama, penasaran banget ini si Garda mau ngeluarin rayuan macam apa, si Dimi sikapnya bakal bagaimana, dan si Donna bakal asbun apa lagi (dan geleng-geleng kepala sendiri menyaksikan cewek mirip pec*n ini beraksi).

Yang terakhir, Dimi is Married menggunakan sudut pandang dari dua orang, Garda dan Dimi. Tapi pergantian sudut pandang itu nggak buat kepalaku berdenyut, nggak buat aku pusing atau bingung atau apalah. Di sini jelas banget dibedakan antara pikiran Garda dan Dimi. Bukan hanya font yang membedakan, namun cara Mbak Retni menyampaikan isi cerita melalui dua tokoh itu. Yang namanya menyampaikan suatu kisah melalui dua sudut pandang itu sulit, aku rasa Mbak Retni udah berhasil membagi porsi dan bertukar peran. Aku malah bersyukur buku ini disampaikan melalui dua sudut pandang. Kita jadi mengerti apa yang dipikirkan dua orang yang dari karakter aja udah sangat bertolak belakang.

Tema yang diambil dari buku ini memang sudah biasa, malah sudah berjamur di masyarakat. Tapi tetep aja nggak ngaruh sama aku. Yang penting gaya penulisannya enak, nyaman untuk dinikmati. Aku juga menikmati perubahan sikap dari dua karakter utama kita, yaitu Garda dan Dimi. Tadinya aku khawatir kalau sikapnya Dimi bakal alim-alim saja menghadapi Garda, dan oh thank God si Dimi alimnya cuman di awal doang. Soalnya aku memang kesel kalau Dimi bakal oke-oke aja sama sikap Garda!

Secara keseluruhan, aku suka buku ini. Tapi sayangnya, konfliknya KURANG nendang!!! Emang sih, yang kejadian di akhir itu sempet ngejutin juga, dan kesannya heroik. Tapi menurutku agak maksa. Mungkin sengaja dibuat gitu ya biar penyelesaian antara Dimi dan Garda mudah, nggak ribet Garda harus begini-begitu lagi. Lalu kemunculan orang lain seperti Edgar dan perasaan Rio (yang tiba-tiba) itu, rasanya agak aneh buatku. Juga kemunculan Donna yang nggak maksimal. Padahal seru banget kalau Donna nggak cuma begitu doang. *eh* Yasudahlah! Yang penting aku suka buku ini. Dan yah.. harus kuakui aku jatuh hati juga sama Garda meski awalnya benci setengah mati! :p

Pengin baca tentang Garda novel-novel Mbak Retni yang lain lagi! Ada rekomendasi?

...kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu milik kita jika sesuatu itu sudah hilang dari kehidupan kita,... (hal. 319)

5 komentar:

  1. Pengen banget baca novelnya, tp udah cari kemana2 novelnya udah gak dijual lagi...bs referensi gak novelnya bs dibeli dimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huehehe ini aja aku dapet secondhand, Mbak.. :)))

      Hapus
    2. Buku nya mau di jual lagi ga ? :D aku pengen bacaa soalnya tp ga dapet lg bukunya,,,

      Hapus
    3. Sorry, Put.. aku sayang sama buku ini, jadi nggak aku jual. Maaf ya. :)

      Hapus
    4. yaaa, padahal baru aja mau beli pengen cari ke gramedia matraman

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...