Kamis, 18 April 2013

[REVIEW] The Host

Apa yang membuat cinta manusia ini teramat sangat kudambakan, dibanding cinta bangsaku sendiri? Jiwa menawarkan cinta dan penerimaan kepada semuanya. Ini cinta yang rumit; tak memiliki peraturan yang tetap dan pasti—bisa diberikan dengan cuma-cuma, seperti kepada Jamie, atau diperoleh melalui waktu dan kerja keras, seperti kepada Ian, atau benar-benar tak tergapai dan mematahkan hati, seperti kepada Jared. –Wanderer (page 584)

Judul: The Host
Seri: The Host #1
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009 (first published 2008)
Halaman: 770
ISBN: 978-979-22-4777-0
I rate it 4/5 stars

Dunia berubah. Makhluk tak kasat mata bernama Jiwa menguasai bumi. Eksistensi manusia mulai punah. Bukan karena mati. Namun, perlahan-lahan ‘mati’.. Jiwa—yang menganggap manusia pemberontak— lah yang mengambil alih tubuh mereka. Hanya segelintir yang tersisa. Bersembunyi. Mencuri makanan dari para Jiwa. Berharap ‘perebutan’ hak hidup ini selesai sesegera mungkin.

Melanie Stryder, salah satu manusia yang masih hidup dan mengandalkan ‘berburu’ makanan di rumah-bekas-manusia, tanpa sengaja suatu hari ditemukan oleh para Pencari. Daripada ‘mati’ diambil alih oleh Jiwa keparat itu, dia memilih mati dengan lompat dari bangunan tinggi usang saat ia dikejar oleh Pencari. Sayangnya, perbuatannya itu ‘hanya’ menyebabkan luka parah yang bisa dengan mudah disembuhkan oleh Penyembuh.

Penyisipan pun dilakukan. Wanderer, sang Jiwa legendaris yang pernah menjalani berbagai kehidupan di delapan planet, disisipkan dalam tubuh Melanie. Tubuh manusia dewasa biasanya sulit ‘dikalahkan’ oleh Jiwa. Begitu pula Melanie yang menolak untuk dimusnahkan..

Wanderer yang awalnya optimis mengalahkan Melanie, mulai khawatir sejak ia mengetahui bahwa Melanie menutup semua akses dalam otaknya. Melanie juga seringkali berbicara pada Wanderer di dalam pikirannya. Ditambah lagi, setiap malam.. Wanderer selalu memimpikan orang yang sama, Jared Howe. Wajah pria itu selalu terpampang di pikiran Melanie, yang sekarang merupakan pikirannya juga.

Adanya Penyimpangan yang terjadi menyebabkan Wanderer memutuskan hal besar. Ia pergi ke Chicago. Berharap menemui Penyembuh Fords untuk membunuh Melanie dan memindahkan Wanderer ke inang lain..

Akankah Wanderer berhasil melenyapkan Melanie? Mampukah Melanie mempertahankan hidupnya setelah tubuhnya diambil alih oleh Jiwa? Read this on your own because this book is way better than Twilight. :p

Kau tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang akan kaumiliki. –Melanie (page 101)

Iya, serius, buku ini jauh lebih bagus dibanding Twilight Saga, menurutku. Sampai-sampai di tengah cerita aku baca nama pengarangnya di buku The Host berkali-kali: “Ini beneran Stephenie Meyer yang nulis?” Hahaha ye maaf, kenyataannya memang begitcyuu. I’m not a big fan of Twilight Saga, aku juga bukan Anti-Fan Twilight Saga. Tapi aku rasa aku jatuh cinta sama buku Stephenie Meyer yang satu ini. ^^

Melanie and Wanderer. Dua jiwa dalam satu tubuh. Melanie jiwa asli pemilik tubuh, sedangkan Wanderer adalah Jiwa parasit. Saling berkomunikasi, namun juga mendirikan dinding pelindung sendiri-sendiri. Aku seneng banget baca percakapan-percakapan mereka, pikiran-pikiran Melanie, sejarah Wanderer.. Terkadang aku lebih memilih Wanderer, tapi lain waktu aku malah bersimpati sama Melanie. Difficult to choose between Melanie and Wanderer. Tapi kalau dipaksa untuk memilih, aku lebih memilih Wanderer. :p

Melanie and Jared. Okay, jadi aku agak kaget pas tahu kisah awal mula bertemunya Melanie dan Jared. Saking depresinya nggak pernah ketemu manusia lain, Jared langsung nyium Melanie gitu. Aku ngerti kok kalau dia seneng banget akhirnya bisa ketemu sama manusia. Tapi nggak usah segitunya kali. -_- My reaction at that time: “Umm.. okay, Jared. You’re so depressed! You’ve finally found Melanie. Congratulations!”

Namanya Wanda, bukan makhluk itu. Kau tidak boleh menyentuhnya. Bekas apa pun yang kau tinggalkan padanya, aku akan menggandakannya pada kulit tak berhargamu. –Ian O’Shea (page 362) 
Bukan wajah itu, tapi ekspresi di wajah itu. Bukan suara itu, tapi apa yang kau ucapkan. Bukan bagaimana penampilanmu dalam tubuh itu, tapi hal-hal yang kau lakukan dengan tubuh itu. Kau cantik. –Ian O’Shea (page 481)

Wanderer and Ian. Aku nggak tahu kenapa dari awal aku pengiiiin banget mereka berdua jadi pasangan. Mungkin karena sikap Ian yang lovable dan berpotensi menjadi best-boyfriend-in-fiction. Cintanya juga tulus banget. Nggak lihat fisik. Huwaaaa.. I love you, Ian. *mabok* Jared sebenarnya keren, sih. He’s the bad guy. Itulah yang membuatku heran, kenapa kali ini malah lebih suka Ian (cowok baik-baik) daripada Jared.. -,-

Wanderer, Melanie, and Jamie. Yes! Yes! I do love Jamie, too. Jamie is my most favorite character here, of course. Rasanya aku nggak heran kalau Wanderer si Jiwa parasit itu juga sayang sama Jamie, wajarlah.. karena Jamie ini unyuuu banget. :)) Hubungan mereka bertiga.. love it! Oh, hampir lupa, Jamie Stryder ini adiknya Melanie. :D

Karakter-karakter di buku ini bisa dibilang lumayan banyak. Dan Meyer berhasil menggali setiap karakter dengan porsi cukup. Rata-rata tiap karakter kebagian ‘tempat’. Jared yang ‘keras’ namun bertanggung jawab. Uncle Jeb yang sinting namun menyenangkan—he’s one of lovable characters here, too. Kyle yang keras kepala. Ini beneran ya, aku pengin banget jitak Kyle! Doc yang sangat baik sampai-sampai ia selalu menangis ketika ia gagal menyelamatkan pasiennya. :') Tapi, aku masih bingung membedakan Melanie dan Wanderer. Apa mungkin karena mereka satu tubuh makanya punya sifat yang cenderung sama? Sama-sama tangguh.. sama-sama rela berkorban.. sama-sama cerdas.. Aku masih bertanya-tanya sebenernya sifat-sifat itu milik Melanie atau Wanderer.

Pace-nya juga lambat. Salah satu penyebabnya, banyak banget detail panjaaaang mengenai planet-planet yang dihuni Wanderer. Aku sih nggak keberatan, soalnya aku memang haus sama imajinasi-imajinasi tentang planet lain (yang dalam keeksisannya nggak nyata juga sebenernya -_-), hobi malah baca yang beginian. Aku sukaaaa banget sama nama planet-planet dan kehidupan yang unik di sana. Karena cerita tentang planet-planet inilah aku jadi pengin ikutan duduk disamping Wanderer dengerin dia cerita. X)

Balik ke pace lambat tadi.. buat yang nggak suka pace lambat, buku ini memang kurang cocok. Ada beberapa adegan yang nggak penting (IMO) yang buat halaman buku ini jadi tebel sampai seksi gituh. Itulah mengapa aku cuman ngasih 4 bintang, nggak jadi 5.

Recommended! Nggak melulu pamerin cara-iris-leher-lalu-masukkan-Jiwa dan adegan romantis doang, di sini ternyata aku bisa ngambil pelajaran: di sini kita belajar tentang membangkitkan rasa percaya ditengah kebencian. Salut buat Wanderer dan Melanie yang pantang menyerah.

By the way, buku keduanya lama banget nggak rilis padahal ini udah 2013 aja. Jarak buku pertama dan buku kedua jauh banget, yak, 5 tahun kalau dihitung sampai tahun 2013. -_- Tapi, sejujurnya aku lebih seneng buku ini selesai di sini aja sih. *trauma buku selanjutnya malah nggak seru* Muehehe.. nah, kalau Stephenie Meyer mau ngelanjutin buku selanjutnya, boleh request, kan? Aku pengin kenal Burns Living Flowers yang berasal dari Fire World lebih banyak lagi. :D

Selama beribu-ribu tahun manusia tak pernah memahami cinta. Seberapa banyak yang fisik, seberapa banyak yang berada di dalam benak. Seberapa banyak yang kebetulan, dan seberapa banyak takdir? Mengapa pasangan-pasangan sempurna bubar dan pasangan-pasangan yang mustahil sanggup bertahan? Aku tidak lebih mengetahui jawabannya daripada mereka. Cinta adalah cinta. Inangku mencintai inang Curt, dan cinta itu tidak mati ketika kepemilikan benaknya berganti. –Kathy, Penghibur (page 57) 
Aku, jiwa yang disebut Wanderer, mencintaimu, manusia yang bernama Ian. Dan itu takkan berubah, tak peduli akan menjadi apa aku nantinya. –Wanderer (page 715) :’)

P.S.: makasih buat Fani yang udah bersedia meminjamkan buku ini. Someday, I'll buy this book and own it. Bingung aja mau beli dimana karena susah banget nyari buku ini. Catatan: meski buku ini sudah difilmkan dan kemungkinan bakal diterbitin lagi, aku nggak mau beli The Host dalam cover filmnya. -,- Please.. Gramedia, make it in origin cover, please. Satu lagi, tolong, kertasnya dibagusin dikit. :p
P.S.: buku ini dibaca untuk diikutsertakan dalam Read Big Challenge. :))

7 komentar:

  1. Wah, congratulation udah nyelesaiin buku ini <:D Waktu aku baca buku ini, it took a really long time to finish. Bagiku sih bikin ngantuk, ngebosenin, dan entah kenapa nggak langsung nancep ke otak :( Lebih suka bahasa yg dipake di novel Meyer lainnya.

    BalasHapus
  2. Aku juga sukaaaa banget The Host! Lebih bagus dibanding Twilight. (Tapi aku mengakui Wanda emang Mary-Sue =_=) sayangnya film-nya gak sebagus bukunya. :|

    BalasHapus
  3. Ratri: bab-bab awal emang agak ngebosenin sih. Tapi pas Wanda mulai bisa mendengar pikiran-pikiran Mel, aku malah lanjuuut baca. Huehehe tergantung selera kali yak. Ada yang lebih suka Twilight, ada juga yang lebih suka The Host. :D

    Aul: Aku belum nonton filmnya. Dua hari yg lalu nyari dvdnya tapi habis. :( Ga sebagus bukunya yah, Aul? Wajar kali ya karena ketebelan huehehe. -,-

    BalasHapus
  4. bner sih, si Jared berlebihan sampe nyium Melanie gara2 ga pernah ketemu manusia lain haha... Pace novel ini emang lambat, makanya ada bagian yg bikin bosen. Oh, Ian lovable banget. Aku dari awal biasa aja malah sama si Jared. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sampe geleng2 kepala pas baca adegan yang satu itu huahaha. Yes, Ian is absolutely sooo lovable! Kita tos dulu dong!!! #TeamIan :D

      Hapus
  5. Lebih suka sama buku ini daripada Twilight. Tapi emang tebel bener dah ni buku, kejatohan bisa pingsan kali ya? Paling suka Wanda-Ian. Tapi belom nonton filmnya, soalnya kata temen filmnya gak bagus. Jadi milih nonton film lain waktu itu. Takut kecewa juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ihihih iyak, filmnya kurang bagus (untung ada temen yg donlotin filmnya, jadi ga repot2 buang uang ke bioskop). Chemistry mereka pada kurang dapet. >.<

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...