Senin, 28 Januari 2013

[REVIEW] Harry Potter and the Sorcerer's Stone


"Don't you understand? If Snape gets hold of the Stone, Voldemort's coming back! Haven't you heard what it was like when he was trying to take over? There won't be any Hogwarts to get expelled from! He'll flatten it, or turn it into a school for the Dark Arts! Losing points doesn't matter anymore, can't you see? D'you think he'll leave you and your families alone if Gryffindor wins the house cup? If I get caught before I can get to the Stone, well, I'll have to go back to the Dursleys and wait for Voldemort to find me there, it's only dying a bit later than I would have, because I'm never going over to the Dark Side! I'm going through that trapdoor tonight and nothing you two say is going to stop me! Voldemort killed my parents, remember?" –Harry

Harry Potter and the Sorcerer's Stone
Series: Harry Potter
Author: J.K. Rowling
Published: 26 June 1997
I rate it 5/5 stars

Everyone knows Harry Potter. Some of them (or all of us?) dream to be in Hogwarts—come to King’s Cross Station and get in to Hogwarts Express through platform nine and three-quarters. Iye nggak? Ngaku aja deh!! *maksa*

Kayaknya nggak perlu lagi aku ceritain sinopsis buku ini. Karena mungkin sebagian dari kalian udah pernah baca bukunya. Dan mungkin juga kebanyakan dari kalian udah nonton filmnya. Mungkin udah sampai berpuluh-puluh kali, sampai hapal setiap sisi Hogwarts atau malah hapal dialog dari awal sampai akhir film. (Oke, ini kebanyakan pakai ‘mungkin’). Aku sendiri belum nyampe lima kali nonton dan baca tapi berencana bakal nonton dan baca sampai 50 kali (kapan baca sama nontonnya aku juga nggak tahu). Entah apa jadinya aku nanti setelah proses nonton dan baca Harry Potter sebanyak 50 kali. Semoga saja nggak berubah jadi toad-nya Neville. (?)

Pertama kali aku kenal Harry Potter itu pas kelas 1 SMP (kalau nggak salah tahun 2005). Pokoknya telat banget. Itu pun proses perkenalan dengan Harry Potter sedikit terrible. SD aku ngapain aja kok nggak pernah tahu Harry Potter?

Jadi gini, dulu aku sekolah di tempat yang jauuuuuh banget dari kota. Bisa dibilang itu pedalaman—tapi aku bukan orang pedalaman dong, ya! -,- Wilayahnya sejenis perkebunan sawit. Kebetulan aja ada SD di sana. Jadilah aku sekolah di tempat itu apa adanya—bukan ada apanya (?). Kelas satu sampai kelas empat aku lewati dengan sekolah, bermain kasti (dimana aku yang selalu kena timpuk bola), ngutang es di warung sebelah, main jailangkung (sebenernya aku cuman punya mental buat ngelihatin mereka main doang, itu pun udah parno sendiri eheheh), mandi di sungai bareng temen, dan sampai rumah langsung tidur. Nggak pernah baca dongeng, atau novel, atau children literature! Nonton film? Yang ditonton cuman kartun Tom and Jerry sama sinetron Bawang Merah Bawang Putih doang. Temen-temen di sekolah juga nggak ada yang ngucapin mantra Alohomora atau Petrificus Totalus atau Wing-gaaaar-dium Levi-o-sa. Jangan tanya toko buku! Minimarket aja jarang! Malah nggak ada sama sekali kalau nggak salah.. *menyedihkan*

Aku bilangin nih ya, ini Hogwarts!
Bukan sekolahku yang ada di pedalaman itu!
Yaaa kali aja salah satu dari kalian mengira ini sekolahku dulu. ._.
#NgarepToTheMax

Kelas lima sama enam SD aku pindah sekolah ke tempat yang lebih makmur, tapi masih gitu-gitu aja. Masih saja pedalaman. Ya ampuuun, mungkinkah saat itu aku memang ditakdirkan hidup di pedalaman? Oke, lupakan. Saat itu pun yang kulakukan cuman main congklak, main lempar kelereng, belajar ngendarain sepeda sampai masuk got (untung nggak guling-gulingan di bukit). Nggak pernah kepo menjelajah setiap hutan di sana layaknya Harry, Ron, dan Hermione yang poinnya selalu dikurangin tiap kali mereka ketahuan menyelinap di tengah malam. Tapi kali ini ada kemajuan, tiap kali papa ke kota, aku selalu nitip beliin buku. Apa saja. Asalkan jangan buku pelajaran. Nggak! Papa nggak beliin tujuh buku HarPot yang harganya sejuta itu (lagian belum terbit semua kan, ya?). Tapi beliin Seri Tokoh Dunia sama Cerita Rakyat dari Nusantara. Jadi pas kecil aku ngumpulin seri sok pinter, bukan HarPot. Kan bukan aku yang menjelajah rak buku. Dulu juga nggak punya akun Goodreads buat browsing buku. *lagi-lagi masih menyedihkan*

Dengan demikian, pengalaman baca buku Harry Potter yang pertama adalah saat aku SMP kelas 1, saat Half-Blood Prince baru terbit. Itu pun bermodalkan pinjem temen yang nggak kebaca sampai habis (kena omel mama karena pulang sekolah langsung ngurung diri baca Harpot). Gimana mau baca sampai habis? Ceritanya udah dark gitu! Lagipula, banyak hal yang nggak aku mengerti karena langsung nyelonong baca dari buku keenam. Alasan paling mendukung kenapa nggak baca sampai habis adalah karena tuh orang nggak niat minjemin! Okay, fine! Aku balikin! Someday aku bisa beli buku ini!

Dari paragraf panjang itu bisa ditarik kesimpulan: cuman pernah baca Harry Potter and the Half-Blood Prince! Selebihnya nonton film-nya doang (meskipun diulang-ulang mulu teteeeep aja doyan nontonnya). :D

Barusan aku curcol, ya? -___-

You couldn't have everything in life. –Ron


Finally, I 'met' Harry Potter (although it's through movies). Terima kasih, ya Allah, aku bisa kenal Harry Potter sejak itu. *lebay* Kalau aku masih jadi orang pedalaman, mungkin aku nggak akan tahu betapa nakalnya Dudley (sampai-sampai aku jejingkrak kegirangan pas di pantat Dudley tumbuh ekor tikus mwahahaha), betapa mirisnya hidup Harry sebelum menerima surat dari Albus Dumbledore, betapa menyebalkan Aunt Petunia dan Uncle Vernon, betapa mengagumkan platform nine and three-quarters (dan betapa lucunya mereka yang mencoba untuk masuk ke sana setelah baca atau pun nonton Harry Potter), betapa setianya Ron dan Hermione meskipun mereka belum lama kenal Harry, betapa menegangkan Quidditch dengan Harry sebagai The Seeker (badanku kadang refleks ngikutin arah sapu terbang *kanan, kiri, atas, bawah* kayak orang bego), dan betapa jelek Voldemort yang masih jadi parasit di tubuh Pro-prof-professor Qu-qu-quirrel (kepalanya gabung gitu hiyyyyy).


Harry Potter and the Sorcerer’s Stone adalah awal mula segalanya. Dimana orang tua Harry dibunuh oleh VOLDEMORT (aku bukan penakut yang manggil dia You-Know-Who, padahal kalau saja VOLDEMORT benar-benar ada, hal paling ringan yang kulakukan adalah pipis di celana atau mungkin langsung tendang hidungnya keras-keras dan bilang nggak sengaja) dan Harry selamat dari kejadian itu hingga Dumbledore memutuskan untuk menitipkan Harry di rumah keluarga Dursleys di Privet Drive number 4. He’s the boy who lived. Mungkin dia harus terima kasih sama VOLDEMORT karena dengan adanya kejadian itu, dia bisa punya tato keren di kening yang berbentuk seperti halilintar cetarrrr membahana badaaaainya Syahrini. (?)

As much money and life as you could want! The two things most human beings would choose above all—the trouble is, humans do have a knack of choosing precisely those things that are worst for them. –Dumbledore

Harry Potter and the Sorcerer's Stone adalah kisah yang paling 'cerah', menurutku. Di sini kita masih bisa ketawa guling-guling karena Ron. Juga pertengkaran Ron dan Hermione (nggak pernah nyangka nantinya mereka bakal nikah gitu). Kita juga masih bisa menikmati berbagai hal ajaib di sini. Tanpa perlu khawatir tentang ini-itu. Rasanya nggak siap kalau harus baca Harry Potter yang kelima, keenam, blablabla. :(

Okay, forget that for a while! Di Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, kita bisa kenalan sama Albus Dumbledore, Professor McGonagall, dan Hagrid (I love this man!) di awal bab. Mengenal mereka saja entah kenapa buat aku senang. Beda kalau ketemu keluarga Dursleys, bawaan emosi mulu. Pengen banget nyihir mereka jadi kuning pakai mantranya Ron: “sunshine, daisies, butter mellow. Turn this stupid, crazy Dursley yellow!” yah.. meskipun it’s useless banget. Nanti kita juga bakal ketemu sama si tukang fake Prof-prof-professor Qu-quirrel dan si sinis Professor Severus Snape.

Kita juga bisa kenalan sama berbagai macam makanan aneh yang nggak ada di dunia nyata—dan malah jadi ada setelah Harry Potter terbit dan para manusia demam Harry Potter. Kita sebut saja Bertie Bott's Every Flavor Beans yang dicicip oleh Harry pertama kali bersama Ron di dalam perjalanan ke Hogwarts. Bertie Bott ini memang bener-bener segala rasa. Ada rasa bayam, stroberi, mint.. bahkan ada rasa upil, muntahan, sama kotoran telinga. Yaiks! Selain Bertie Bott yang sebagian rasanya bisa bikin muntah itu, ada juga Chocolate Frogs. Ron kerjaannya ngumpulin kartu yang berisi famous-witches-and-wizards dari Chocolate Frogs tadi. Lucu aja dengerin dia ngejelasin ke Harry tentang makanan-makanan aneh itu. Yah.. Ron awalnya memang tahu lebih banyak daripada Harry. Kakak-kakaknya Ron kan murid Hogwarts semua. Lah, Harry? Tahu dari siapa? He has no parents. Just Dudley and Uncle Vernon, and Aunt Petunia. Mereka bertiga nggak bisa diharapkan!


Harry Potter and the Sorcerer’s Stone menunjukkan kita tempat shopping keren seperti Diagon Alley. Ya ampuuun.. beneran deh ya, kalau aku ada di sana, aku pengin beli Nimbus Two Thousands, owl, and magic wand! Sebodo amat bisa pakenya atau kagak. Mampir ke tokonya Madam Malkins juga ah.. mau beli seragam Hogwarts. *ngarep* Wajar kalau ngarep begini. Memangnya siapa yang nggak mau diajak sekolah di Hogwarts? Ayo, tunjukkan hidungmu! Tapi ternyata ada nggak enaknya juga sekolah di sana. Pas ujian malah dikasih AntiCheating Spell. Gimana mau nyontek? *eh* -__-

The truth. It is a beautiful and terrible thing, and should therefore be treated with great caution. –Dumbledore

Harry Potter and the Sorcerer’s Stone membuat kita terkagum, atau lebih tepatnya mulai mengagumi Hogwarts. Tampak seolah nyata dan mudah digapai dengan kereta api (dengan mobilnya Weasley juga bisa huehehe). Kita juga tahu bahwa Hogwarts hanya sekadar cerita, meskipun jauh dalam lubuk hati kita juga berharap bahwa tempat itu nyata. Tempat itu ada. Quidditch which looks like soccer or rugby. Bedanya Qudditch lebih cruel tapi seru. Potions which looks like chemistry. Bedanya potions lebih keren dan berbahaya. Herbology yang hampir mirip sama biologi, etcetera, etcetera bla bla bla. Hal yang paling aku kagumi dari karya Rowling yang satu ini adalah foto. Iya! All the photos are alive. Semuanya bergerak. Bukan cuman foto dengan figur yang diam di tempat. Pokoknya the photos versi Hogwarts memang paling keren. Jangan coba samakan photos versi Hogwarts dengan file gambar berekstensi .gif!


Berani jamin, kalau udah baca buku yang pertama ini, pasti bakal nggak sabar baca yang kedua (meskipun semakin ke atas ceritanya makin rumit). Dan berani jamin juga, meskipun buku ini dibaca berulang kali, kita nggak akan pernah bosan. Bukannya bosan, tapi malah kangen berat tiap kali menutup bukunya! Aku yakin sebagian dari kalian bilang: we want Harry Potter. We wanna live in Hogwarts)!!! Tapi pas kita teriak begitu, Rowling cuman bisa bilang: “can you say that word again when you know that live in Hogwarts is not always peaceful? Now you should move on because I have something new for you, The Casual Vacancy.” (?)


It does not do to dwell on dreams and forget to live, remember that. –Dumbledore

Okeh, abaikan kata-kata Rowling yang ngaco berat barusan. Pokoknya sejak awal baca seri ini, aku jadi punya niat untuk meracuni calon anak-anakku bertahun-tahun lagi dengan Harry Potter mwahahaha. *emak-wannabe yang nggak bener*

By the way, posting-an ini dibuat dalam rangka Hotter Potter: event baca bareng dan review Harry Potter series dari bulan Januari 2013 sampai Juli 2013. And by the way lagi, aku baca versi English, biar greget! Udah nonton film-nya nyampe tiga kali masa nggak berani baca versi English? Kan lumayan buat improve my English. (Tapi mulai buku lima aku nggak berani baca versi English! Sumpah!) Selain Hotter Potter, this book is also listed on my What's in a Name Challenge 2013! :))

10 komentar:

  1. i loveee the .gifs hihiii mukanya Hermione itu loh emg SOK BGT yahh hihii I LOVE HER A LOTs :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huehehe nggak sengaja nemu di tumblr. :D
      Me too. Meskipun sombong tapi tuh anak baik banget!

      Hapus
  2. haha, setuju sama storyofcamelcow, gif nya hermione itu imut bangett!! setelah dipikir2 emma emang cocok meranin hermione..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Can't imagine if Hermione was not Emma Watson!!!

      Hapus
  3. really like your review :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiiih. Jadi malu+terharu at the same time. ;)
      *lebay

      Hapus
  4. Habis baca bukunya jadi kepengen nonton filmnya juga >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku langsung kutonton lagi, Ky. Nggak tunggu besok-besok! :D

      Hapus
  5. Huaaa reviewnya panjaaang dan banyak curcolnya... tapi lucu dan aku enjoy bacanya :D Welcome back to Hogwarts!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mhihihi makasih banget udah ngadain event ini, Mel. XD
      Yup! WELCOME BACK!

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...