Sabtu, 02 Februari 2013

[REVIEW] Our Story


“Yang cowok terkenal sebagai preman, yang cewek terkenal sebagai pelacur. Jumlah murid yang di-DO lebih besar daripada yang lulus. Lo tau apa sebutan buat sekolah ini, Yas?”
“Apa?”
“TPS. Tempat Pembuangan Sampah. Ya, itu membuat kita semua sampah. Sampah masyarakat.” (hal 52)

Judul: Our Story
Penulis: Orizuka
Penerbit: Authorized Books
Tahun: 2010
Halaman: 240
ISBN: 978-602-96894-1-9
I rate it 4/5 stars

Gara-gara Haryo—orang kepercayaan Raymond—salah mendaftarkan Yasmine ke SMA Budi Bangsa, Yasmine jadi terdampar di sekolah bobrok itu. Harusnya ia ke sekolah SMA Bukti Bangsa—sekolah standar internasional—, lah ini?

Belum sejam dia berada di sekolah itu, ia dihadang oleh serombongan cowok preman yang cukup bikin Yasmine pengin segera kabur ke kantor Kepala Sekolah untuk mendiskusikan kesalahan pendaftaran ini. Sayangnya, ayah Yasmine sudah mengeluarkan banyak uang masuk sehingga ia tak mungkin minta pindah sekolah. Jadilah ia terjebak di SMA Budi Bangsa.

Baru kali ini Yasmine digoda oleh seseorang. Tapi bukannya seorang anak laki-laki normal yang baik hati, pengalaman pertamanya justru dengan seorang anak laki-laki preman yang menakutkan. (hal 35)

Ia kira ia tak akan bertemu dengan cowok preman tadi, nyatanya mereka sekelas. Mau pindah kelas? Nggak mungkin. Kalau mau turun kelas baru mungkin. Hanya ada satu kelas XII di sana. Yasmine tidak ada pilihan lain. Bangku yang kosong hanya satu pula, itu pun di sebelah ketua preman sialan, Nino. What a bad day!

Bukan cuma segerombol preman, Yasmine lambat laun menyadari bahwa sekolahnya sekarang adalah sekolah yang di cap miring oleh masyarakat sekitar. Sekolah yang sering terlibat tawuran, cewek-cewek yang udah di-‘pake’, bahkan sebagian murid nge-drugs. Dia rasa sekolah yang ini tak jauh beda buruknya dengan sekolahnya dulu di Amerika..

Karena… dateng ke sekolah adalah satu-satunya hal yang bisa bikin gue merasa gue masih tujuh belas tahun. Papan tulis, bangku sekolah, seragam. Hal-hal kecil yang bikin gue merasa rindu kalo gue lagi… nggak sekolah. –Mei (hal 130)

Our Story bukan hanya memusatkan cerita pada Yasmine-Nino melainkan sebagian besar anak SMA Budi Bangsa. Kebobrokan sekolah itu menggambarkan sebagian besar sekolah dan sebagian remaja di Indonesia. Nggak jarang kan denger anak SMA tawuran, nge-drugs, jadi pecun, dan ngelakuin seks bebas? Nah, buku ini membahas sebagian besar hal-hal tadi.

Miris banget bacanya. Meskipun ini fiksi, tapi aku yakin manusia yang ‘begini’ memang masih ada. Banyak malah. Jaman sekarang kan tambah aneh-aneh aja. Pernah denger balita yang merokok habis entah-berapa-bungkus sehari? Itu balita udah salah gaul. Gimana kalau udah gede nanti? #KokMalahIngetBalitaAnehIniSih -,-

Selain hal-hal tadi, di sini juga menyinggung tawuran dan bullying.

Siapa sih yang nggak tahu tawuran? Yang lempar-lemparan batu sampai kepala pecah itu. *oke, ini jangan dibayangin, muntah lo ntar* Yang bikin para cowok merasa hebat dengan membuat lawan babak belur. Yang lempar-lemparan telur sama sagu di tengah jalan ituuuh. #SalahFokus Ini nggak hebat, bro! Ini nggak dewasa namanya. That’s my perception when I hear that word—tawuran.

“Karena gue anak napi!!” sahut Nino emosi. “Lo normalnya nggak mau deket-deket sama anak napi, kan?”
“Hah? Kenapa harus gitu? Lo anak napi bukan berarti lo juga napi, kan?” (hal 92)

Kenapa mereka ngelakuin hal-hal nyeleneh begitu? Aku juga nggak tahu alasan pastinya apa. Ada yang bilang kurang perhatian orangtua, gegara diputusin mantan calon gebetan (?), banyak masalah, depsresi, dll. Kalau kasus Nino, cowok ganteng ketua preman sekolah ini ikutan tawuran—dia ketuanya, meskipun dia selalu nolak jadi ketua—dan hobi nindas orang karena ayahnya nge-drugs dan kemudian jadi narapidana saat Nino masih SMP. Sejak itu dia dijauhi sama temannya. Tak terkecuali Ferris, sahabatnya.

Intinya sih, mereka ngelakuin hal-hal nyeleneh tadi sebagai pelarian dari masalah. Wah.. cemen ini namanya. Masa bisanya lari dari masalah doang? Iya, aku ngerti hidup mereka susah dan nggak seberuntung remaja-remaja lain. Dan yang mereka lakukan adalah pelarian-pelarian tadi. Tapi masalah nggak akan selesai bro. Masalah itu dihadapin dengan positif. Masalah itu ada untuk ngubah kita jadi lebih baik. Bukannya lebih ancur gini. #MaafJadiCeramah

Ada lagi satu hal yang disinggung di sini. Hal yang udah lama disinggung masyarakat dan sampai sekarang pun masih eksis. Kunci jawaban Ujian Nasional. Aku geleng-geleng kepala aja pas kepala sekolah Budi Bangsa nyuruh Ferris buat kunci jawaban, soalnya Ferris memang yang paling normal. Oke, aku akui dulu aku juga kesenengan ada kunci jawaban gitu. Yang jadi persoalan adalah, kenapa kepala sekolah yang ini begitu rendahan banget? Sementara tanggapan salah satu murid (salah satu anggota preman yang hobi tawuran) yang mau UN malah begini: “Ogah gue sih, mending belajar sendiri! Kalo ada yang nggak ngerti, baru deh nanya!” Dan tanggapan itu disetujui oleh semua anak-anak nggak bener tadi. Keren, kan, mereka? Kepala sekolahnya yang gantian nyeleneh. -_- Tapi.. kayaknya jaman sekarang ada juga kepsek yang begitu. Aku yakin!

Bokap gue ngamuk, tapi gue ngancem gue akan berhenti sekolah kalo nggak pindah ke sini. Gue nggak peduli lagi. Gue nggak peduli apa kata bokap gue. Gue nggak peduli image bokap gue. Yang gue peduliin cuma gimana caranya biar Nino maafin gue. –Ferris (hal 80)
Apa gunanya beda status kita? Toh sekarang kita sama-sama ada di sini. Dan soal apa gunanya belajar kalo masa depan lo suram, gue rasa lo salah logika. Supaya masa depan lo nggak suram, makanya lo harus belajar. Jangan pikir lo bakal jadi apa, pikir lo mau jadi apa. –Ferris (hal 121)

Nilai persahabatan di Our Story juga kental banget. Terlepas dari perbuatan-perbuatan nyeleneh tadi, mereka semua punya hati. Mereka tahu cara memaafkan. Mereka peduli satu sama lain. Mereka menyediakan telinga untuk mendengar keluh kesah sahabatnya. Mereka juga mempunyai tangan, baik untuk membantu maupun bekerja sama. Mereka adalah satu. Mereka punya niat untuk lulus bersama. ;)

Kisah cinta yang terdapat di buku ini juga lumayan manis, menurutku. Nino si preman dan Yasmine si polos. Mei si pecun dan Ferris si Ketua OSIS. Geli sendiri baca percakapan mereka. Lucu, apa adanya, dan asyik banget buat diikutin.

Overall, this book is definitely worth to readI recommend this to you, especially teenagers. Mengungkap permasalahan remaja yang sering terjadi. Membuka mata kita agar tidak menatap mereka sebelah mata dan mungkin ikutan bantu mereka biar mereka nggak terjebak lebih jauh lagi ke dunia yang 'gelap' itu. Setelah membaca buku ini, dijamin kita bakal flashback sebentar. Mengingat kembali masa-masa SMA yang telah lama berlalu namun tak pernah usang. Mbak Ori, once again you make me in love with your masterpiece!

“Mimpi juga bagus. Kita bisa mengejar mimpi kita untuk masa depan kita.”
“Mimpi itu nggak nyata. Kita hidup dalam kenyataan, Ris. Gue nggak bisa bertahan hidup hanya dengan bermimpi.” (hal 82) 
Balas dendam itu nggak akan menyelesaikan masalah, No. Balas dendam itu cuma akan menimbulkan dendam baru yang nggak aka nada habisnya. –Yasmine. (hal 194)

2 komentar:

  1. Hahaha kok bacanya sambil marah2 gitu sih Lind?? hiihihi kupikir ini buku cuma ngomong masalah ce i en te a, tapi ngga juga ya ternyata..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kesannya emosian gitu yah? Hahaha. XD
      Maaf deh. Huehehe tapi bukunya worth-to-read, Ana. Ho-oh, nggak melulu soal cinta-cintaan anak SMA. Bagus lho. #promosi

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...