Kamis, 17 Januari 2013

[REVIEW] Sisters Red


Hidungnya menjadi panjang dan mirip anjing. Bibirnya merenggang semakin lebar. Dia menerjang maju dan menancapkan kedua tangannya—bukan, cakarnya—ke lantai. Sekujur tubuhnya tertutup rambut tebal yang berminyak. Dan baunya. Bau busuk mirip bangkai memancar keluar dari makhluk itu—si serigala jadi-jadian—sehingga kedua kakak beradik itu merasa hendak muntah. Dia melihat gadis kecil itu dengan tatapan lapar, dengan pandangan yang jahat. (page 10)

Judul: Sisters Red
Seri: Fairytale Retellings #1
Penulis: Jackson Pearce
Penerjemah: Ferry Halim
Penerbit: Atria
Tahun: 2011 (first published 2010)
Format: Paperback (Indonesia)
Halaman: 434
ISBN: 978-979-024-464-1
I rate it 4/5 stars

Dongeng dimulai dari kediaman Oma March di Ellison. Kakak beradik itu menyambut kedatangan orang asing di depan pondok kecil mereka. Well.. bukan menyambut, lebih tepatnya memandang pria itu dengan tatapan waspada. Scarlett, anak tertua, memandang tanda anak panah di pergelangan tangan pria asing itu. Oma March yang mengikuti arah pandang Scarlett mulai waspada, karena pria yang ada di depannya ini memang bukan manusia. Melainkan manusia serigala.

Manusia serigala itu jelas-jelas sedang kelaparan. Malang bagi Oma March dan dua saudari yang mengalami kejadian mengerikan itu. Manusia serigala tak lama kemudian berubah wujud menjadi serigala mengerikan. Oma March tercabik-cabik tanpa sanggup melawan. Tinggal dua saudari yang berusaha untuk hidup.. itupun jika mereka berhasil membunuh serigala yang kelaparan..

Aku ingin makhluk itu menderita. Aku ingin dia merasa tercabik-cabik. Aku ingin mencungkil matanya, seperti salah seorang teman kelompoknya mengambil mataku. –Scarlett (page 115)

Tujuh tahun lalu merupakan kejadian yang tidak bisa dilupakan oleh dua saudari itu. Terutama Scarlett. Ia membenci Fenris. Yah.. manusia serigala di sini dipanggil Fenris. Sejak saat itu, ia mulai hidup untuk memburu Fenris. Membunuh Fenris yang berkeliaran di Ellison. Sebelum jantungnya berhenti berdetak, dia berjanji akan terus membunuh seluruh Fenris!

Aku berutang budi pada Scarlett, dan kalau dia ingin menagihnya dengan mengharuskan aku menghabiskan seluruh hidupku dengan berburu bersama dia, maka itulah yang akan terjadi. Dia pasti akan mati bila dia sampai berpikir aku ingin berhenti. –Rosie (page 166) 
Namun, apakah memang tidak mungkin aku boleh melakukan sesuatu selain berburu? –Rosie (page 166)

Rosie juga berburu, sama seperti kakaknya, Scarlett. Namun, dia tidak memiliki obsesi yang sangat kuat terhadap Fenris. Dia berburu hanya untuk balas budi. Tidak seperti Scarlett yang dipenuhi pikiran untuk membunuh semua Fenris, Rosie dipenuhi bayangan Silas, sahabat kakaknya sejak kecil. Ia jatuh cinta pada pemuda itu. Namun, ia tak berani menunjukkannya karena ia takut rasa cintanya itu salah di mata kakaknya.

“..fase si Calon sudah dimulai. Kalau kita sampai lalai lagi kali ini ….” –Fenris (page 177)

Fenris, atau bisa disebut manusia serigala. Tolong ya, jangan membayangkan manusia serigala versi Twilight Saga a.k.a. Jacob dkk. Serigala yang satu ini BENAR-BENAR monster. Mereka memang ganteng, keren, pokoknya perfect. Tapi mereka memburu manusia, lebih tepatnya gadis-gadis remaja. Kali ini, mereka bukan hanya berburu gadis-gadis untuk dimakan, melainkan juga mencari Calon.

Inilah yang menjadi masalah bagi tiga pemburu Fenris kita. Diciptakannya calon hanya berarti satu, yaitu malapetaka. Itu artinya jumlah Fenris akan meningkat. Usaha mereka selama ini sia-sia belaka. Scarlett, Rosie, dan Silas pun kemudian mencari Calon para Fenris. Tidak mudah mencari sang Calon. Petunjuk yang mereka punya hanya sedikit. Tidak mungkin mereka harus memeriksa setiap pria di kota itu. Mereka hanya bertiga, sedangkan Fenris yang ada berjumlah ratusan. Mampukah mereka menemukan sang Calon?

A very well written story! Aku langsung tertarik membaca sejak bab awal. Dan langsung kesal sama Fenris yang sembarangan makan orang. Juga membuat dua saudari itu meninggalkan hidupnya sebagai manusia normal.

Bukan berarti mereka nggak normal. Well.. mereka manusia normal, tentunya. Tapi hidup mereka udah nggak sama lagi sejak kejadian tujuh tahun lalu itu. Mereka harus menjadi dewasa sendirian tanpa Oma March, keluarga mereka satu-satunya. Untungnya ada keluarga Reinolds yang bersedia membimbing mereka berdua. Thank God, Silas were there. Silas Reinolds ini pemuda pandai kayu yang juga berburu bersama Scarlett dan Rosie. Pertama kenal Silas, entah kenapa aku jadi ngebayangin si Orlando Bloom. Muehehehe. :p #SalahFokus

Apakah aku akan berada di sana bersama mereka bila kejadian di masa lalu berbeda dengan yang aku alami? Aku memperhatikan kakiku dan berusaha membayangkan sedang memakai sepatu hak tinggi, mencoba membayangkan diri dalam balutan gaun dansa di atas kendaraan hias bersama teman-teman yang tidak tahu apa-apa mengenai serigala, dan memiliki wajah cantik jelita yang mulus tanpa cacat cela. Segalanya bisa berubah begitu cepat dan begitu mudah. –Scarlett (page 101)

Tokoh yang paling membuatku simpatik sejak awal adalah Scarlett March. Entah kenapa aku merasa kesal sekaligus salut sama dia. Okelah.. aku akui dia keras kepala banget. Obsesinya untuk membunuh Fenris itu kadang buat aku jenuh sama pengin muntah. Kenapa sih ada orang yang segitu niatnya ngebunuh Fenris? Why didn’t she just sit down there at home, watch tv, and eat some cookies? Kadang aku ngejulukin si Scarlett ini psikopat Fenris. She should take a rest! She should forget those freak Fenris.. even just for a while!

Tadinya aku juga mikir: kasihan banget nih anak nggak pernah ngerasain hidup sebagai cewek normal yang keramas di salon, medi-pedi, sama bersihin komedo dan ketek yang bau Fenris. Ye gimane dia mau ngurusin salon dan hal-hal ngabisin duit lainnya kalau Fenris itu dulu udah hampir bunuh dia dan adiknya. Malahan si Fenris itu ngebunuh Oma March! Di sini aku mulai simpatik dan mendukung tindakan Scarlett untuk ngebunuh Fenris.

Kalau aku jadi dia, aku juga pasti begitu. Gimana kagak?! Memangnya kalian mau diam aja kalau ada orang yang nyongkel sebelah mata kalian tanpa perasaan gitu? Iyeee.. si Fenris bejat itu nyongkel sebelah matanya Scarlett. Well.. this isn’t spoiler because you’ll know about this since the first part of this book. *ngelus-ngelus bahu Scarlett* Yang tabah ye, Nak..

Salut sama Scarlett yang pantang nyerah, tahan dibanting Fenris, dan aksi brutalnya ngebacok Fenris! *merinding pas inget Scarlett megang sisa siku cewek yang baru dimakan Fenris. Hiyy..* Yeah, I do pity her so much that she doesn't dress like the real girl. Nor She feels the love. She just.. thinks about Fenris, Fenris, and Fenris all the time.

Cuma kau yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri. –Rosie (page 392)

About Rosie.. yeah, she’s pretty. Yeah, she cooks well. Yeah, she’s soooo different from Scarlett. Bukan berarti aku nggak suka sama sosok Rosie. Aku suka sama passionnya dia, kemandiriannya, rasa berani yang Rosie miliki, juga rasa percaya dirinya yang tinggi. Aku juga kagum sama Rosie yang bisa ngelempar pisau tepat ke sasaran. Tapi aku nggak suka cara dia merhatiin Silas. *okeh, aku nggak cemburu lho, ya* Aku rasa dia lebay banget. I ever felt in love. I felt that butterflies on my stomach, too.. sampe mau muntah malah, padahal ketemu manusianya juga belum. *kalo masalah ini kayaknya lebih lebay aku daripada Rosie.. -__-* Gini aja deh ya, masa kakaknya lagi pusing dan dalam keadaan nggak nyante lagi ngejer Fenris, dia malah pacaran sama Silas? *jungkir balik dari kursi* Nggak tahan ya, Neng?

Okay, it’s definitely your life, Rosie. Yah terserah si Rosie lah mau pacaran sama Silas berhari-hari. Kalau mereka mau make-out ya.. terserah juga. Itu urusan mereka. Yang penting Rosie udah beraksi dengan keren di bagian-bagian terakhir! I like it! Kapan lagi ada cewek yang segitu pemberani? Aku juga pengin berani begitu.. :3 *tapi kalau disuruh ngebantai Fenris, ogah!*

Pada hakikatnya, aku adalah pandai kayu. Namun, itu bukan berarti aku harus menjalani hidupku melulu sebagai pandai kayu. Sama seperti kau, yang jago dalam urusan berburu. Itu bukan berarti kau harus selalu hidup untuk tujuan itu. Jadi, mungkin kadang kala melepaskan diri selama beberapa jam dari kegiatan berburu bisa membantumu untuk mencari tahu apakah berburu memang benar-benar cocok untukmu atau tidak. –Silas (page 165)

Nggak usah bahas Silas banyak-banyak deh, ya. Sosoknya? Bayangin aja Orlando Bloom. Huahahaha. One thing I love from Silas is.. dia itu santai banget. Slow but sure. Dia juga yang mengajarkan Scarlett dan Rosie untuk nggak terlalu terobsesi sama berburu. Yang namanya manusia wajib bersenang-senang sesulit apapun keadaan mereka. Iye, nggak?

I love this book. Sayangnya, terjemahannya ada yang agak ngawur dikit. Doesn’t mean I wanna explain that because I’ve talked too much. Hehehe. Seru? Of course! Aku merinding juga bacanya, padahal waktu itu baru bab 2. You know what? Pas aku lagi serius-seriusnya baca dan merinding, aku nggak sengaja lihat anjing masuk ke halaman rumah. *tumben bangeet* Aku inget waktu itu aku kaget setengah mampus! Kirain Fenris gitu. Syukurlah bukan. Fiuh.. -,-

Recommended for you who loves fantasy! :))

p.s.: this book is listed on my 2013 TBRR Pile: A Fantasy Reading Challenge

4 komentar:

  1. eh covernya keren tapi belum pernah liat nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku nemunya juga nggak sengaja di toko buku hehehe. :p

      Hapus
  2. Setuju banget! Bukunya emang super keren!
    Tapi nggak setuju kalo Silas = Orlando Bloom.. :D
    Kurang gagah.. hehe aku malah bayangin yang jadi Peeta Mellark...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Josh Hutcherson? Tapi dia pendek. Huehehe. >,<

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...