Selasa, 19 Maret 2013

[REVIEW] Where She Went

The boogeyman sleeps in your side of the bed
Whispers in my ear: "Better off dead."
Fills my dreams with sirens and lights of regret
Kisses me gently when I wake up in a sweat
BOO!

COLLATERAL DAMAGE, LAGU 3

Judul: Where She Went
Seri: If I Stay #2
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2011
Halaman: 240
ISBN: 978-979-22-7650-3
I rate it 4/5 stars

*beware spoiler!*

…bagaimana aku memberitahu mereka semua, bahwa musik, adrenalin, cinta, semua hal yang membuat segala kesulitan ini terasa ringan, sudah lenyap sama sekali? Yang tertinggal hanyalah pusaran. Dan aku persis di tepinya. –Adam (page 29)

Dasar masa remaja! Sekalinya patah hati, pasti ada saja misi ‘pelarian diri’. Adam Wilde juga termasuk di dalamnya. Merasa ditinggalkan dan patah hati, ia menyendiri. Pulang ke tempat orangtuanya. Meninggalkan band-nya, Shooting Star. Dan tanpa disadari, ia sudah menciptakan banyak lagu yang mengungkapkan betapa terlukanya ia karena ditinggal pergi.

COLLATERAL DAMAGE, nama album itu. Melejitkan namanya. Membawanya pada popularitas. Membangkitkan band kecilnya menjadi band besar yang sukses. Hidupnya sempurna. Ia punya banyak uang, ia mempunyai pacar seorang model, ia juga selalu dikelilingi banyak fans. Namun, hidupnya terasa sepi, hambar, dan kosong. Hanya karena ketiadaan seorang gadis yang sangat berharga dalam hidupnya kini, dia sangat rapuh.

The clothes are packed off to Goodwill
I said my good-byes up on that hill
The house is empty, the furniture sold
Soon your smells was decay to mold
Don't know why I bother calling, ain't nobody answering
Don't know why I bother singing, ain't nobody listening
DISCONNECT
COLLATERAL DAMAGE, LAGU 10

Tiga tahun yang menyakitkan sudah berlalu. Sekarang bukannya membaik, perih dihati malah semakin menganga. Apalagi saat dilihatnya poster konser cello seorang gadis somewhere in New York. Tanpa berpikir panjang, melupakan segala masalah hidup yang membuat kepalanya pecah, ia datang ke konser itu. Rela dapat tiket untuk duduk dimana saja. Asalkan ia bisa MENDENGARKAN gadis itu memainkan cello. Ya, asalkan ia bisa mendengarkan Mia Hall memainkan cello, seperti yang selalu ia dengar dulu..

Dan tanpa ia sadari, ternyata Mia tahu dia ada di sana. Memperhatikan permainan cello-nya untuk yang pertama kali di New York. Hal itu pula lah yang membuat Mia ‘nekat’ memanggil Adam setelah konser untuk sekadar berbincang dan berjalan di sekitar New York.

Bagaimana perasaan Adam menanggapi hal itu? Gadis itu yang dulu mencampakkannya hingga ia sakit hati. Namun gadis itu pula yang tiba-tiba muncul dan mengajaknya untuk berjalan-jalan seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Akankah mereka bersatu? Atau melanjutkan hidup sendiri-sendiri?

“Kau merokok sekarang?” aku bertanya.
“Tidak,” jawab Mia. “Tapi aku baru saja melalui pengalaman menegangkan dan aku diberitahu bahwa rokok bisa menenangkan saraf.”
“Kadang aku merasa seperti itu setelah pertunjukan.”
“Yang kumaksud bukan konser, Adam. Yang kumaksud dirimu.”
(page 66)

Mereka bilang seri yang kedua ini ditulis melalui sudut pandang Adam Wilde, makanya aku tertarik. Jarang banget kan ada PoV-nya cowok? Kerennya itu Forman berhasil membawakan sosok Adam menjadi otak dari buku ini, IMO. The first thing I love from this book!

Hal kedua yang membuat aku tambah suka: karakter Mia juga udah berkembang. Dia bukan gadis yang harus dikasihani lagi. Malahan dia adalah gadis yang patut diacungi jempol karena berhasil bangkit dari keterpurukan. Okay, aku juga masih kangen Teddy di sini. Soalnya Adam sekali dua nyeritain Teddy sih.. ;(

You crossed the water, left me ashore
It killed me enough, but you wanted more
You blew the bridge, a mad terrorist
Waved from your side, blew me a kiss
I started to follow but realized too late
There was nothing but air underneath my feet
BRIDGE
COLLATERAL DAMAGE, LAGU 4

Hal terakhir yang membuatku totally in love with this book is.. of course Collateral Damage. Album ini keren! Yah.. jangan tanya aku pernah mendengarnya atau nggak karena jawabanku sudah pasti ‘nggak pernah’. Meski demikian, aku sudah jatuh cinta sama album ini sejak baca secuil lirik dari setiap lagunya yang dipaparkan di awal beberapa bab. Dalem banget artinya. Aku sangat berharap bahwa lagu-lagu itu beneran ada.

Untuk keseluruhan ceritanya? Still the same Forman. Still the same translator. Enak bacanya. Jenis bacaan ringan yang langsung habis saat dibaca waktu senggang, sama seperti buku sebelumnya. Selain itu aku nggak mendeteksi adanya tipografi. Syukurlah..

So, this is one of the book that you should read! Dijamin kebanyakan dari kalian pasti wondering if you could have a boyfriend like Adam Wilde. *much love for him!*

“Yeah, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa kaukendalikan, tidak peduli seberapa keras kau mencoba.” –Adam (page 80)
“…orang-orang yang berniat baik pada akhirnya malah memasukkan kita ke kotak yang sama membelenggunya seperti peti mati.” –Mia (page 167)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...