Kamis, 28 Juni 2012

[REVIEW] The Thirteen Treasures (Thirteen Treasures #1)


Judul: The Thirteen Treasures
Series: Thirteen Treasures #1
Penulis: Michelle Harrison
Penerjemah: Endes Runi
Penerbit: Dastan Books
Tahun: Januari 2012
Halaman: 356
ISBN: 978-602-9267-47-1

   "Kau melihatnya." Suara Red berbisik pelan.
Tanya menurunkan pandangannya ke makhluk di tangan Red dan menahan jeritannya.
   "Aku tidak percaya," gumam Red, matanya tertuju pada Tanya. "Kau melihatnya. Kau bisa melihat mereka juga."
Tanya menatap balik Red. Momen kejelasan dan pemahaman terjalin di antara mereka ketika Red membisikkan sesuatu dengan pelan. "Kau mempunyai penglihatan kedua."

Tanya tidak ingat kapan dia memiliki kemampuan itu. Penglihatan kedua. Tapi Tanya tidak peduli, karena sekarang ia sudah terbiasa melihat para fairy yang selalu ada dimana-mana dan selalu tahu bahwa ia punya penglihatan kedua. Ah, kau harus ingat satu hal. Fairy ini bukan fairy baik yang siap membantu ketika kau kesulitan. Fairy-fairy ini jahat, selalu mengganggu dan mengejek Tanya.

Seakan keadaan belum cukup buruk di rumah, ibunya membawa paksa Tanya ke rumah neneknya. Ibunya selalu berpikir Tanya bersikap aneh dan membawa kekacauan. Siapa juga yang tidak kacau dan aneh kalau ia selalu saja diganggu para fairy? Nah, sekarang ia dipindahkan ke rumah neneknya? Uh, rumah itu bahkan lebih buruk. Tanya yakin seratus persen rumah tua itu aneh dan mengerikan, dan tentu saja banyak fairy. Nenek tanya, Florence, juga selalu memancarkan ekspresi tidak suka saat Tanya berkunjung ke rumahnya. Ini artinya kehidupan Tanya di sana tidak akan membaik sama sekali. Tambah parah iya kali!

Elvesden Manor, nama rumah itu. Entah dibangun sejak kapan. Yang jelas, tempat itu sudah tua sekali. Hanya beberapa ruangan yang masih di pakai, banyak kamar-kamar yang telah dikunci. Banyak pula jalan pintas dari ruangan satu ke ruangan yang lain ditutup. Konon, di rumah itu banyak terowongan rahasia yang bisa tembus ke berbagai tempat di sekitar sana. Termasuk jalan pintas ke Tickey End. Tanya tentulah penasaran. Tapi, berhubung ia tidak pernah menemukan terowongan itu, Tanya tidak percaya lagi dengan adanya terowongan yang diragukan keberadaanya. Ia yakin liburan di rumah Florence tidak akan seru dan menyenangkan. Ditambah lagi kehadiran Fabian, anak laki-laki yang suka melakukan penelitian itu benar-benar membuat Tanya kesal. Selalu mengagetkannya dengan muncul tiba-tiba. Dasar anak aneh!

Suatu hari, ia mendapati pintu perpustakaan Florence terbuka. Dipenuhi rasa penasaran, ia masuk ke perpustakaan diam-diam. Ada banyak buku di sana. Tanya mengambil buku yang kebetulan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Buku mengenai fairy. Di salah satu laci meja yang terdapat di perpustakaan, dia menemukan gelang dengan tiga belas bandul yang berusia sangat tua. Selain menemukan buku itu, ia juga menemukan potongan surat kabar yang dia yakini sudah berumur 50-an tahun karena warnanya yang sudah menguning. Disana dituliskan bahwa seorang gadis bernama Morwenna Bloom telah menghilang di Hangman's Wood, hutan terlarang dengan tujuh katakomba. Mengejutkan ketika mengetahui bahwa kakek Fabian, Amos, dituduh melakukan pembunuhan terhadap gadis itu.

Tanya yang dipenuhi rasa penasaran, mencoba mencari tahu tentang Morwenna. Terlebih karena wajah Florence yang memucat dan mengeras saat mendengar nama itu. Juga ayah Fabian, Warwick, yang bertingkah aneh. Belum lagi saat ia tersesat di hutan bersama Fabian karena mencari anjingnya yang menghilang, Oberon, mereka melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Morwenna Bloom. Bagaimana mungkin Morwenna Bloom ada di sana padahal dia sudah menghilang berpuluh-puluh tahun yang lalu? Bagaimana mungkin Morwenna masih terlihat muda?

Berbekal kompas tua yang diberikan Mad Morag dan informasi dari Red, Tanya beserta anjingnya dan tentu saja Fabian, mencoba menulusuri hutan terlarang itu, mencari tahu tentang Morwenna Bloom. Juga mencari tahu siapa Tanya sebenarnya sehingga bisa memiliki kemampuan seaneh itu..

Aku suka karakter anak kecil seperti Tanya dan Fabian. Penasaran, berani, saling membenci tapi bisa bekerja sama dengan baik, dan tertarik pada hal-hal mistis (meskipun aku sendiri takut akan hal mistis seperti hantu atau sebagainya). Untung saja di buku ini tidak ada hantunya. -___-

Oh ya, ini kalimat Fabian yang aku suka:
"Aku tidak punya ponsel. Warwick tidak mengizinkanku. Dia bilang aku terlalu muda. Florence juga tidak memasang internet. Aku seperti hidup dengan dinosaurus." -Fabian (page 60)

Menurutku, alur yang dipakai novel ini cepat. Langsung ke pokok permasalahan. Penggambaran para fairy pun cukup jelas, meskipun aku tidak kenal para fairy aneh itu (minta digampar sama Mrs. Harrison). Pendeskripsian setting cukup menarik dan jelas. Tahukah kau? Aku merinding saat membaca buku ini. Apalagi saat mereka mencoba menebak siapa Morwenna Bloom. Aku langsung pasang aksi seribu, mataku mengawasi sekitar, takut Morwenna Bloom nangkring di belakangku, intinya ngeri sendiri. *penakut*

Sebenarnya, di bagian awal aku cukup bosan dan mengantuk. Entahlah, butuh waktu berhari-hari membaca bagian awal. Tapi, ketika sampai ke bagian kedua (spoiler: buku ini di bagi menjadi dua bagian), aku mulai menggebu-gebu membacanya. Tidak sampai setengah hari pun selesai. Bagaimana pun juga, bagian tengah sampai akhir memang harus seru, kan? Kalau tidak, novel ini pasti sudah kubakar!

Aku belum pernah membaca versi bahasa Inggris novel ini. Tapi, aku yakin, terjemahannya kurang mantep. Banyak penggunaan kata yang berlebihan. Belum lagi typografi-nya. Uuuuh.. kesal sendiri. Ceritanya udah bagus, kok terjemahannya kayak gini.
Contoh:
Perjalanan ke Tickey End memakan waktu lima belas menit dengan pemandangan menyenangkan, walau udara sekitar berbau seperti kotoran di padang sekitar.
Ada lagi kalimat lain yang kurang efektif, tapi biarlah, tidak perlu dicantumkan semuanya.

Di bagian akhir, saat mereka berkejaran dengan waktu, suasananya memang menegangkan. Menegangkan, tapi kurang seru. Ada yang perlu dipoles. Mungkin berhubungan dengan terjemahan yang kurang bagus. *Memangnya terjemahan yang bagus pegimane, Lin? Elu daritadi protes mulu. Kayak lo bisa nerjemahinnya aja!*

Intinya, ceritanya lumayan enak dinikmati. Tapi, sabar saja dengan kalimat terjemahannya yang kurang efektif. Aku kali ini hanya bisa memberikan 3/5 bintang. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...