Minggu, 01 Januari 2012

New Year, New Life, New Spirit

Happy New Year 2011..
*guling2an di kembang api*


Bagaimana malam tahun baru kalian? Menyenangkan?
Aku kira malam tahun baruku akan suram, ternyata luar biasa super sekali. Semangat baru pun muncul. Yah, ini berkat firework-nya mbak Katy. Kalau mbak Katy bisa ngeluarin kembang api dari dadanya, maka aku bisa ngeluarin kembang api dari ketek. Nggak percaya? Nih..
*ngangkat tangan tinggi2*

Seperti biasa, aku akan berbagi cerita. Mulai dari bangun tidur kemarin pagi sampai tidur lagi—dengan semangat baru di tahun 2012. Aku akan mendongeng super duper banyak pagi ini. That's why.. jangan lupa bawa popcorn sama softdrink biar nggak bosen.

Rencananya sih aku mau publish entri ini tadi malem. Tapi, aku terlalu terpesona sama indahnya firework yang nge-bom di sana sini. Setelah terpesona dan persediaan firework yang ku lihat secara gratis habis, aku langsung masuk kamar sambil senyum-senyum sendiri dan.. tidur. jadilah baru sekarang aku publish.

* * *
Sebelumnya, thanks buat papa beserta teman-teman kantornya, cewek yang namanya tak ku ketahui, dan thanks juga buat Galih. You all have made my new year celebration amazing!!

Aku bangun dengan gusar pagi ini. Bukan karena mimpi buruk. Melainkan tidak bisa tidur lantaran kepanasan. Aku baru bisa tidur menjelang pagi. Itupun kedinginan. Tidurku tidak nyenyak. Aku benci itu.

Aku juga memikirkan nasib malam tahun baru 2012. Cricom Dansen tidak membuat acara. Sedangkan kelasku punya acara. Sekadar barbeque. Tapi aku tidak bisa datang. Mama melarangku. Yah.. meskipun dia berada berkilo-kilo meter jauhnya dari sini, aku tetap merasa bersalah jika nekad merayakan tahun baru di kost-an temanku. Aku rasa malam tahun baru ini akan menjadi momen suram.

Aku menjalani pagi itu dengan penuh lelah, padahal aku tidak melakukan apapun. Mungkin itu yang membuatku lelah. Aku bermain game sampai siang, dilanjutkan blogging, kemudian googling. Aku bisa saja gila karena bosan.

Sorenya, sekitar jam 5, papa menelepon. Dia mengajak kami ke perayaan tahun baru di kantornya. Tanpa berpikir lagi, aku langsung meng-iya-kan tawaran itu. Rasanya senang bisa jalan-jalan keluar.


Dan ini pertama kalinya aku pergi hanya dengan papaku. Aneh sekali, bukan?

Aku mengajak Ela dan Mbak Tari untuk ikut, jauh sebelum papa menyuruhku mengajak mereka. Tapi mereka menolak. Ayolaaah, untuk apa berdiam diri di rumah merenungi nasib? Itu membosankan. Lagipula di luar pasti indah sekali. Apalagi jam 12 malam nanti. Aku bisa jamin yang satu itu.

Aku sebenarnya kesal mereka menolak untuk ikut. Bahkan Ela marah. Dasar kekanak-kanakan. Yang seharusnya marah itu siapa? Aku bahkan tidak marah. Dia hanya merusak mood-ku, sedikit. Tapi aku yakin sekali, lepas tengah malam aku tak akan kesal padanya lagi. Karena.. sulit untuk benar-benar marah pada keluarga dan sahabat sendiri.

Jam setengah 9, aku dan papaku pergi ke kantornya. Sebelum naik mobil, mataku melayang kemana-mana. Berusaha melihat seluruh firework yang bertebaran di angkasa. Saat di mobil pun mataku tak berhenti melihat ke segala arah. Papa membiarkanku. Tidak banyak tanya. Aku suka itu.

Acara tahun baru dirayakan di parkiran sebelah kantor. Sebenarnya aku cukup parno. Sebelum pergi kesini, aku membayangkan hal-hal aneh yang mungkin terjadi karena aku tidak punya teman untuk diajak kesini selain papaku. Aku hanya membayangkan orang-orang sibuk tertawa dan menyanyi, sedangkan aku duduk merana sendirian sambil membakar jagung dan sate untuk mereka. Aku tersudut. Diabaikan. Dan.. ah, sudahlah! Apakah aku gila? Tentu. Tapi aku akan lebih gila lagi kalau terus bertapa di rumah.

Aku menarik napas dalam-dalam. Menghancurkan khayalan bodoh dan meyakini diri sendiri semua akan baik-baik saja. Ada Galih yang menemaniku di sms. Terus saja memainkan hape. Dan.. memasang earphone, seperti yang disarankannya—ini kebiasaanku juga sih.

Aku berjalan di samping papaku. Berusaha ramah dan tersenyum lebar seperti yang dilakukan mamaku saat bertemu orang. Well.. tidak terlalu sama dengan mamaku. Caraku tersenyum lebih cocok disebut nyengir kuda. Aku tidak yakin orang-orang ini akan menyukaiku.

Awalnya aku duduk 3 baris di belakang papaku, tapi kemudian pindah tepat di belakangnya saat dia setengah berteriak menyuruhku duduk di dekatnya. Tidak terlalu buruk. Dia berbicara dengan temannya yang ternyata membawa anaknya yang seusia denganku. Aku bahagia.. sekaligus kesal—itu artinya aku harus berbicara dan tersenyum seramah mungkin padanya, juga mencari topik apa yang sedang hangat untuk dibicarakan.

Aku tidak berhasil berbicara banyak. Hanya berbicara tentang hal yang umum dilakukan orang saat pertemuan pertama. Kami hanya membicarakan kampus. Lagipula banyak suara di sini. Bukan saat yang tepat untuk ngobrol. Aku tidak mau dia meminta aku mengulangi apa yang ku bicarakan. Aku bahkan lupa apa yang telah ku bicarakan. Kau tahu? Hal bodoh saat itu adalah.. aku lupa menanyakan namanya—apa dia sama bodohnya dengan ku hingga dia juga lupa menanyakan namaku? #eh

Acara di sini tidak begitu buruk. Mereka membakar jagung. Mereka juga memberikan souvenir untuk yang bersedia karaokean di depan. Aku ingin menyanyi. Apa kalian pikir aku tidak bisa menyanyikan lagu dangdut? Kalian salah. Aku cukup bisa. Lagu yang selalu nyaman di telingaku adalah 'Sakit Gigi'. Itu lagu andalan. Tapi niatku untuk menyanyi urung sudah. Teman yang namanya tak kuketahui menolak untuk menyanyi. Entah mengapa dia selalu menolak. Saat ku ajak makan sate yang telah disediakan, dia juga menolak. Padahal aku lapar sekali. Aku malu mengambil sendiri. Sungguh, aku ini bodoh sekali.

Aku tidak tahu papa itu malu atau apa. Dia tidak mau menyanyi. Padahal, entah berapa kali MC memanggil namanya, tapi dia hanya menunjuk orang lain untuk menyanyi. Dia juga menunjukku dan berkata, "David Archuleta.." -_- Oh, ayolah papa. Generasi mereka yang seumuran denganmu belum tentu tahu tentang dia. Lagipula, mana mungkin ada CD David Archuleta di kotak CD mereka. Aku yakin itu. Papaku aneh sekali. Yah.. meskipun aku menyukainya menyebut nama David Archuleta. :p (happy new year, Dave :* hihihi..)

Menjelang jam 11, mataku mulai lengket. Daritadi aku hanya duduk dan memperhatikan orang menyanyi. Aku juga makan jagung bakar tadi. Meskipun aku makan tidak sampai separuhnya dan kemudian membuangnya. Aku cukup menikmati rasanya yang pahit dan.. aneh. Aku tidak suka jagung bakar versi mereka. Tapi.. SUNGGUH! Yang penting di tahun baru bukan jagung bakar atau apapun. Yang paling aku nantikan di tahun baru adalah rasa kebersamaan dan.. FIREWORK!

Aku kesal sama teman yang tidak kuketahui namanya. Dia bilang dia tidak mau makan. Tapi nyatanya dia makan banyak sate. Ternyata diambilkan dulu, baru dia mau makan. Dia mirip dengan adikku yang baru beranjak dari balita. Aku hanya meringis saat dia menawarkan. Kesal. Harusnya tadi dia mau ke meja makan mengambil makanan bersamaku.

Jam 11 lewat 15 aku mengajak papa pulang. Dia meng-iya-kan. Papa baik sekali hari ini. Biasanya susah mengajaknya pulang jika dia sudah berkumpul dengan teman-temannya. Sekali lagi, aku mencoba untuk tersenyum semanis mungkin dan memberikan salam perpisahan pada mereka. Senang sekali rasanya merayakan tahun baru dengan mereka. Fiuh.. akhirnya aku kembali ke mobil dan menyapukan pandangan ke seluruh jalan.

Malam ini kota ramai pada tempat tertentu. Tentu saja. Aku yakin mereka juga menantikan momen firework itu.

Kantor gubernur dengan halaman seluas lapangan bola itu juga mengadakan acara. Tidak hanya untuk pejabat, tapi juga untuk rakyat biasa. Siapapun bebas masuk ke sana. Aku ingin ke sana. Tapi tidak jadi. Aku yakin di rumah akan lebih cantik dan lebih nyaman daripada di sana.

Papa melajukan mobil pelan-pelan. Aku menikmati pemandangan firework yang muncul satu-satu melalui kaca mobil—sungguh! Jika aku tidak keluar malam ini, mungkin aku telah kelewat gila karena depresi. Aku mencoba mengabadikan momen itu selama di jalan melalui lensa kamera handphone-ku yang ketinggalan jaman—handphone ini menyimpan banyak kenangan lho, hehehe. Tapi hasilnya malah berantakan. Harusnya tadi aku bawa kamera. Dasar bodoh!

Di sepanjang jalan, papaku sibuk merutuki para remaja yang konvoi dan dengan tiba-tiba melaju mendahului mobil kami. Aku ingin tahu, apa yang akan dikatakan papaku jika dia tahu dulu aku juga pernah konvoi bersama teman-temanku. Ironi sekali.

Aku baru menyadari di flyover kita bisa melihat kembang api dengan jelas saat mobil kami melewatinya dan kami melihat banyak pasangan maupun rombongan yang berjejer di pinggir flyover. Ya, di sini akan sangat jelas sekali. Mengingat ini tempat yang tinggi dan tak ada gedung di sekitar yang bisa menghalangi mata melihat firework yang berwarna-warni. Jujur saja, aku sedikit iri. Aku ingin berkumpul bersama teman-temanku dan jika mungkin, bersama pacarku—dan nyatanya aku nggak punya pacar. Tapi jauh dari itu semua, aku ingin berkumpul bersama keluargaku. Bukan hanya bersama papa. Ah, sudahlah! Seharusnya aku bersyukur karena hari ini papa baik sekali.

Sesampainya di rumah, aku langsung turun dari mobil, membuka pagar, lalu berdiri di kursi taman yang tinggi. Firework-nya mulai banyak. Aku tidak sabar lagi. Aku nyaris berlari saat papaku membuka kunci rumah. Aku langsung membuka jilbabku di kamar karena kepanasan, mengambil es krim di kulkas yang sengaja kubeli untuk malam tahun baru, kemudian secepat kilat aku berlari ke balkon di atas rumah.

Aku duduk di sana. Memasang earphone di telinga. Menyetel lagu-lagu David Archuleta—jadi berasa tahun baruan sama David-ku sayaaang #eh. Dan tak lupa menyetel lagu yang merupakan inti dari momen malam ini. Mbak Katy Perry dengan Firework-nya.

Well, kembang api di balkon sebelah sini tidak terlalu banyak. Aku kurang terpesona. Aku lalu pindah ke balkon lain di sisi samping rumahku.

Kau tahu? Di sini indah sekali. Aku langsung tiduran di atap rumah dan menyaksikan firework menari-nari dengan indah di atasku. Mereka LUAR BIASA INDAH. Aku juga tak menyadari sudah berapa lama papa ikut menyaksikan firework itu. Tepat waktu. Inilah puncaknya. Aku tidak membeli firework—hemat dikit, kalau ada yang gratis ngapain beli? Hahaha. Menyaksikan yang bertebaran di langit sudah lebih dari cukup. Aku mencoba dengan sangat keras untuk mematri momen itu di dalam otakku.


ini sebagian kecil dari apa yang aku lihat tadi malam.. :)

Firework 2012 berbeda dengan tahun sebelumnya. Apa mungkin karena baru kali ini aku mencoba untuk menatapnya sambil berbaring? Atau mungkin karena mitos 2012? Entahlah. Tapi intinya, aku mencintai hari ini. Aku akan tidur, nanti, setelah tidak ada firework lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...