Kamis, 01 Mei 2014

[REVIEW] Rumah Kopi Singa Tertawa

Mengingat si Murphy sialan itu membidik kita dari sudut mana pun, dan ia bisa datang kapan saja, jagalah dirimu dengan laku baik. (hal. 171)

Judul: Rumah Kopi Singa Tertawa
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana
Tahun: 2011
Halaman: 172
ISBN: 978-978-1079-26-6
Harga: Rp40.000,-
I rate it 3/5 stars

Rumah Kopi Singa Tertawa merupakan kumpulan antologi yang terdiri dari 18 kisah yang saling terpisah. Mau baca dari kisah yang ke empat lalu lompat ke kisah pertama juga sebenarnya tidak apa-apa, asalkan dibaca semua. Rasanya rugi kalau melewatkan satu kisah saja di dalam buku ini.

Tiap kisah dalam buku ini memiliki daya tarik dan pesan sendiri-sendiri. Kisah pertama yang berjudul Cara-cara Mati yang Tidak Aduhai misalnya, menunjukkan pada kita bahwa kematian itu sungguh tidak bisa ditebak. Bisa saja dokter memvonis umur kita tinggal dua bulan lagi, masih hidup setelah dua bulan ya bersyukur, kalau malah berhenti bernafas sebelum habis waktu dua bulan, ya mau diapakan lagi? Dan kalau pun tidak memiliki penyakit, belum tentu juga kita berumur panjang, bukan? Tidak ada yang tahu kapan kematian datang. Karena kita tidak mengetahui kematian itulah, jangan suka bertindak sembarangan. Nggak mau kan meninggal dalam keadaan lucu? Kisah pertama di buku ini merupakan salah satu favoritku, anyway. :D

Kisah lain favoritku adalah Tiga Lelaki dan Seekor Anjing yang Berlari yang diambil dari novel Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Kisah ini lumayan membuatku pengin muntah membaca beberapa bagian yang bikin mual dalam kisah ini, tapi selain itu kisah ini menghibur. Terserah sama kata umpatan anjing yang diucapkan tanpa rasa bersalah. Kefrontalan memang bumbu dari buku ini. Kisah ini menceritakan tentang perjalanan Raden Mandasia, Sungu Lembu yang berperan sebagai aku, Loki Tua (yang sering di-anjing-i oleh Sungu Lembu -_-), dan anjingnya yang bernama Si Manis (yang namanya tidak sesuai sama sekali dengan penampilan anjing aneh itu). Aku tidah tahu pasti alasan menyukai kisah ini, mungkin karena kisahnya paling menghibur diantara kisah lain.

Penyakit-penyakit yang Mengundang Tawa juga merupakan salah satu kisah yang tidak boleh dilewatkan. Ada rasa geli sekaligus kasihan karena tingkah aneh para penderita penyakit diakhiri dengan nasib mengenaskan seperti kematian (yang disengaja). Kalau kita mempunyai penyakit-penyakit seperti tokoh di kisah itu, kira-kira apa yang akan kita lakukan? Tiga Maria dan Satu Mariam merupakan salah satu kisah favoritku. Empat cerita dalam satu kisah yang miris lalu kemudian manis. Salah satu Maria membuatku ingin memeluknya, rasanya kok kasihan sekali Maria itu. :'(

Keunikan bisa kita dapat di kisah Rumah Kopi Singa Tertawa, kisah yang memiliki judul sama dengan buku ini. Aku juluki unik karena dalam kisah itu bukan seperti kisah biasanya: setiap scene ditandai dengan MEJA 1 dst, mendeskripsikan apa-apa saja yang sedang dibicarakan setiap orang di meja-meja tersebut, yang menurutku juga sebagian menggambarkan buku ini. Tiap meja dalam warung kopi memiliki kisah sendiri-sendiri, tiap kisah dalam buku ini juga mempunyai kisah sendiri-sendiri. Akhir dari kisah Rumah Kopi Singa Tertawa membuatku tergelak. Akhir dari kisah yang lain ada yang membuatku meringis, sedih, malu, geleng-geleng kepala, atau bahkan lega. Buku ini ibarat es campur yang punya rasa macam-macam. Atau seperti yang kukatakan tadi, ibarat warung kopi dengan berbagai kisah berbeda di tiap mejanya. Satu buku, banyak cerita, banyak rasa.

Hampir seluruh kisah mengambil sudut pandang dari sisi laki-laki, jadi jangan kaget kalau kata-kata di buku ini sedikit kasar bahkan tak jarang vulgar. Beberapa kisah di buku ini juga menggunakan bahasa yang tergolong jadul atau terkesan seenak jidat saat penulisan, bahkan ada satu kisah yang tak kumengerti sama sekali karena penempatan tanda bacanya seolah sengaja dihilangkan (atau memang begitu bahasanya? Ah, aku tidak tahu pasti). Digolongkan bahasa yang berat, tidak juga, karena tidak perlu menguras pikiran saat mencoba mengerti suatu kalimat.

Bagi yang kurang suka sastra, tidak disarankan membaca buku ini. Meskipun sebenarnya buku ini juga bisa dinikmati oleh mereka yang bukan penikmat sastra, aku nggak berani merekomendasikan genre yang oh-so-not-you, guys. Tapi kalau kalian pengin keluar dari zona nyaman, this book is recommended. Apalagi kalau kalian lagi malas baca buku tebel karena waktu hura-hura yang nggak seberapa seperti aku, cocok rasanya memilih buku ini sebagai bacaan pilihan. Selain satu kisah dan yang lain bisa dibaca dalam interval waktu suka-suka-kalian-saja, kebanyakan kisah dibuku ini juga lumayan menghibur dan memiliki banyak pelajaran yang bisa diambil. :)

"Aku benar-benar sedang ingin membaca. Buku-buku ini utang yang ingin kubayar sebelum mati. Aku dulu beli untuk membacanya, tidak menimbun." (hal. 14) 
"Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan tidur sebelum disembelih." (hal. 49)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...