Sabtu, 15 September 2012

[REVIEW] The Witch's Guide to Cooking with Children: Penyihir di Sebelah Rumah


Judul: The Witch's Guide to Cooking with Children: Penyihir di Sebelah Rumah
Penulis: Keith McGowan
Penerjemah: Tanti Lesmana
Ilustrasi: Yoko Tanaka
Desain Sampul: eMTe
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2012 (first published 2009)
Edisi: Bahasa Indonesia
Halaman: 192
ISBN: 978-979-22-8550-5

...perempuan itu menggeleng dan berkata, "Wah, anak-anak tersayang, siapa yang membawa kalian kemari? Masuklau dan tinggallah bersamaku, kalian akan aman dari marabahaya." Diraihnya tangan kedua anak itu dan dibimbingnya mereka masuk ke pondoknya.... Hansel dan Gretel membaringkan badan dan mengira mereka berada di surga.
Tetapi perempuan tua itu hanya berpura-pura baik hati. Sesungguhnya dia itu penyihir jahat. Dia suka mengadang anak-anak kecil dan rumah dari roti itu sengaja dibuatnya untuk memancing mereka. Begitu mereka jatuh ke dalam perangkapnya, habislah mereka dimasak dan dimakannya, dan baginya ini menjadi liburan yang sungguh menyenangkan.

Kenal cuplikan di atas? Ya, itu tadi kisah tentang Hansel dan Gretel. Mengapa ada cuplikan itu di sini? Karena buku yang ku-review hampir sama dengan cerita di atas. Dengan versi yang sedikit berbeda tentunya. Tidak ada rumah dari roti. Tidak ada Hansel dan Gretel. Tapi tentu saja ada penyihir yang suka memasak dan memakan anak-anak. Juga ada dua anak kecil, yang.. cerdas.

Sol dan Connie baru saja pindah ke apartemen baru mereka di kota Schoneberg yang panas. Sol anak yang cerdas dan tergila-gila pada ilmiah. Dia juga sering membuat peralatan-peralatan aneh yang, tentu saja, cukup berfungsi dengan baik. Karena itu dia pernah dijuluki ilmuwan edan di sekolahnya dulu. Sol berumur sebelas tahun, sedangkan adiknya, Connie, berumur delapan tahun. Kalau Sol anak lelaki yang memiliki rambut panjang sebahu, maka Connie adalah anak perempuan dengan rambut pendek--mirip seperti laki-laki. Connie tidak secerdas kakaknya, tapi dia lebih licik daripada kakaknya yang cerdas itu. Dan Connie suka sekali hewan.

Layaknya anak-anak yang ingin tahu lebih banyak, mereka jalan-jalan di sekitar perumahan itu. Tanpa sengaja, mereka bertemu tetangga yang tinggal tepat di sebelah rumah. Namanya Mrs. Holaderry dan anjingnya yang lucu, Swift. Ada yang aneh dengan wanita tua itu. Dan lagi, ada yang aneh pada tulang yang digigiti Swift. Setelah Mrs. Holaderry dan Swift pergi, Sol dan Connie langsung pergi ke Perpustakaan (sebenarnya mereka ke taman terlebih dahulu, anehnya tidak banyak anak-anak di sini). Di Perpustakaan, Sol mencari tahu tulang apa yang digigiti Swift dalam buku-buku anatomi yang dibacanya. Sol mulai merasa ada yang tidak beres setelah mengetahui bahwa tulang itu adalah tulang femur manusia..

Banyak orang yang gagal dalam hidup ini, tidak menyadari bahwa ketika mereka menyerah, sesungguhnya mereka sudah dekat pada kesuksesan. (page 22)

Buku ini bisa dibilang sejenis dongeng untuk anak kecil. Meskipun agak berat sedikit karena ada ilmiah-ilmiah ala Sol hehehe. Saat awal membacanya, aku sempat mengernyit sedikit. Membayangkan Mrs. Holaderry makan anak kecil (pastinya sudah dibumbui) adalah pemandangan aneh dan.. mengerikan. Apalagi saat tahu Sol dan Connie yang akan jadi sasaran selanjutnya. Meskipun aku sudah tahu bagaimana ending-nya nanti, buku ini tetap asyik dibaca.

Alurnya cepat. Dan kata-kata yang digunakan Keith dalam bercerita tidak berat dan mudah dicerna. cara penyampaiannya juga tidak membosankan. Sehingga membacanya beberapa jam saja sudah kelar. Lagipula buku ini juga kurang dari 200 lembar. Wajar bacanya cepat hehehe. Tapi itulah kekurangannya. Karena terlalu tipis, ceritanya terkesan terburu-buru. Bisa dihitung satu buku ini hanya memaparkan hidup Sol dan Connie empat hari di apartemen baru mereka. Eksplorasi karakter orangtua Sol dan Connie yang jahat pun masih kurang. Seakan-akan peran mereka hanya figuran, padahal mereka juga penting. (Namanya juga buku anak-anak. Elo maunya gimana lagi?)

Dan setelah aku menamatkan halaman terakhir. Aku cuman bisa bilang, "Udah? Segini doang ceritanya?"

Yah, well.. masih banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku. Dan masih banyak adegan ekstrim Sol dan Connie vs Mrs. Holaderry yang kuharapkan bakal terjadi. Tapi, meskipun penyelesaian konfliknya sederhana, aku sempat deg-deg-an juga sih huehehe. Terbawa suasana.

Untuk karakternya, Sol dan Connie adalah saudara yang saling melengkapi. Tapi, heran juga kenapa ada dua bersaudara yang frekuensi berantemnya nggak banyak gitu (lho?). Sedangkan Mrs. Holaderry, jujur saja dia tidak terlihat menakutkan. Malahan biasa saja menurutku. Tapi, kalau bagi anak kecil, Mrs. Holaderry mungkin sudah menjadi mimpi terburuk mereka. :p

Typografi-nya cuma 1:
...dia menyarankan supaya mreka meneruskan tradisi keluarga,... (page 54) seharusnya: mereka

Well-written. Nice illustration. And cute dogs! 4/5 stars cukup untuk Sol, Connie, permainan teka-teki dan anjing-anjing lucu! :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...