Sabtu, 15 September 2012

[REVIEW] Cinderella Tuathina


Judul: (AMORE) Cinderella Tuathina
Penulis: Mimosa Q
Desain Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia
Terbit: 2012
Halaman: 208
ISBN: 978-979-22-8720-2

Dulu sekali, Sadira Devi pernah jatuh cinta pada Zeus. Jangan heran saat tahu namanya yang.. wow. Zeus: tampan, keren, kaya, cerdas, pokoknya lelaki impian para wanita lah. Tapi sori ya, lelaki seperti Zeus bukan lelaki impianku. Eh, maaf ngaco. Okay, back to the topic!

Ya, Sadira pernah mencintai Zeus. Pernah! Tapi sekarang ia dan Zeus sudah tidak bersama-sama lagi. Zeus tiba-tiba menjauhi Sadira seakan Sadira itu kuman atau penyakit. Tanpa alasan, Zeus pergi. Meninggalkan Sadira dalam tanda tanya.

Tapi.. takdir mempertemukan mereka kembali. Sadira mendapatkan pekerjaan di Tuathina--dimana setahu Sadira, Zeus ada di sana. By the way, Sadira ini seorang housekeeper. Di Tuathina pun ia menjadi seorang housekeeper di salah satu hotel. Di sanalah ia bertemu Zeus kembali. Dan anehnya, Sadira masih berharap Zeus masih mencintainya. (Susah banget ya, move on dari orang se-perfect Zeus? Bukan susah! Sadira cuman pengen tahu alesan Zeus menjauhinya, kok..)

Dalam pertemuan yang kebetulan itu, Zeus mengajak Sadira makan malam. Sadira yang berpikir mungkin dengan ini dia bisa tahu alasan Zeus menjauhinya dulu pun langsung mengiyakan. And yeah.. it's a romantic dinner. Tapi nggak lagi setelah Zeus mencium Sadira dan tiba-tiba mengusirnya pergi dengan kasar!!

Kalau kalian ada di posisi Sadira, gimana perasaan kalian? Pengen banget nampol tuh orang, kan? Yah, begitulah perasaanku pas baca adegan Zeus mengusir Sadira. Nggak jelas tuh orang. Dewasa ababil. *eh

Di tengah keterpurukan, Sadira bertemu Alvaro (gimana cara mereka bertemu? I won't tell you that! Hah, baca sendiri!). Alvaro ini sahabat baiknya Zeus. And.. you know what? Setelah tahu perilaku Zeus terhadap Sadira, Alvaro langsung menawarkan diri untuk menjadi pacar pura-pura Sadira. Untuk memberi pelajaran pada Zeus! Nah, bersediakan Sadira menerima tawaran itu? Benarkah niat Alvaro membantu Sadira semata-mata hanya untuk memberi pelajaran pada Zeus? Baca sendiri. :)

Hehehe belakangan ini aku milihnya novel tipis dan ringan mulu, ya. Maaf deh. Lagi nggak mood baca buku tebal. Jadi malu. :p

Baca bab pertama, agak ngantuk. Yah, tapi kalau di skip, aku nggak akan tahu seluk beluk hubungan Zeus dan Sadira. Pas mulai ke bab-bab selanjutnya, baru deh nggak bisa ngelepasin ini buku. Alurnya cepat. Cara menyampaikannya lumayan menurutku. Bacaan yang ringan dan asyik untuk diikuti.

Mengenai karakter Sadira. Jelas dipaparkan di buku ini. Pantang menyerah, oke. Yang nggak aku suka.. kegoblokannya Sadira nerima ajakan Zeus untuk makan malam yang berakhir dengan dia dicampakkan lagi. Seharusnya dia bisa belajar dari pengalamannya yang sudah-sudah. Zeus bukan tipe cowok yang baik-baik. Meskipun pada akhirnya aku tahu alasan mengapa Zeus sebegitu kejamnya sama Sadira, alasan itu nggak merubah persepsiku ke Zeus. Yah.. he's just not my type. (Emangnya si Zeus mau sama elu, Lin?) The lovely man here is Alvaro. Kekejamannya sama housekeeper di awal memang sedikit "usil". Tapi dia ini sebenarnya baik banget. Masalah fisik nggak kalah sama Zeus. Mapan iya juga. Dan.. satu lagi poin plus untuk Alvaro, ceritanya dia ini penulis Harlequin. Hahaha. :D

So, this novel looks very good? Not yet. Aku belum selesai ngomong. Ada kesalahan penulisan nama di sini.
Sadira menautkan alis. "Tapi... bagaimana dengan dirimu?"
Zeus menggeleng dan memiringkan kepala, seolah bertanya. (page 84) seharusnya: Alvaro!

Selain itu, saat di akhir.. ada ketidakjelasan antara hubungan Zeus dan Sadira. Aku bingung sendiri.. kemana si Zeus? Tiba-tiba ngilang. Memangnya urusan dia sama Sadira udah selesai? Aku sampai bingung, jangan-jangan ada halaman yang hilang atau apa. (Alibi! Padahal ngarep Zeus sama Alvaro baku hantam sampai babak belur. Lho?) -____- Okelah, Zeus bukan tipeku. Tapi bukan berarti dia bisa ngilang tanpa penjelasan gitu dooong.

Novel ringan dan asyik ini kuberikan 3.5/5 bintang. :)

Favorite quotes:
Diabaikan barangkali lebih baik daripada diberi perhatian kemudian dicampakkan. (page 38)
Beginilah rasa cinta itu, menyerang tiba-tiba, tanpa logika. Cinta yang membuatnya tenang dan nyaman, namun tetap menimbulkan debar dan gelenyar di seluruh badan. (page 169)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...