Senin, 06 Agustus 2012

[REVIEW] When Darkness Comes

Judul: When Darkness Comes
Seri: Guardians of Eternity #1
Penulis: Alexandra Ivy
Penerjemah: Lely Citra Maharani
Penerbit: Dastan Books
Tahun: 2010 (first published 2007 by ZEBRA BOOKS, NY)
Halaman: 416
ISBN: 978-602-8723-14-5

*elap keringat* *langsung istighfar*
Kalau dipikir-pikir, ngebaca buku ini lama banget. Pas udah selesei rasanya oh akhirnya.. aku udah nggak sabar pengen mendinginkan otak begitu. Kenapa? Yah, cekipret lah, kita simak review ini. Sebenernya males banget mau nge-review. Bawaan puasa, bawaan males, pengennya tidur aja sampe adzan maghrib, lagipula mengingat-ingat jalan cerita buku satu ini membuat pahala puasa berkurang. Tapi, nggak pa-pa deh, cuman nge-review doang, kan? Bukan disuruh baca ulang? :p
Iblis sudah menguasainya. Iblis telah menguasai rumahnya dan telah berani menodainya. Satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah penyucian kembali dengan melakukan serangan tanpa ampun. (page 5)

Mereka telah menjanjikan kesembuhan untuknya. Dan mengakhiri wabah yang telah menggerogoti hidupnya. Dan semua itu akan dibayar dengan menyerahkan putrinya. (page 6)

Tadinya, Abby Barlow adalah seorang pelayan di rumah Selena. Tapi, setelah kejadian aneh yang menyebabkan rumah itu hancur dan Selena pun di temukan tewas di kamarnya karena kejadian aneh itu, hidup Abby Barlow berubah seratus delapan puluh derajat.

Selama ini ternyata Selena adalah seorang Chalice, wanita yang terpilih untuk menghancurkan kegelapan di muka bumi dimana di dalam tubuh Chalice terdapat roh Phoenix. Seorang Chalice pada umumnya tidak bisa mati, atau bisa kita bilang makhluk abadi. Akan tetapi, kematian Selena ini adalah cerita lain. Bisa jadi penyihir jahat yang membunuhnya, atau mungkin Selena mengucapkan mantra yang salah. Kematian seorang Chalice ini harus segera digantikan dengan Chalice baru. Maka, Selena memindahkan roh Phoenix ke tubuh Abby--yang tidak tahu apa-apa--sebelum ia benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.

Seorang Chalice ini tidak hidup sendirian. Dante, vampir tampan ini, adalah pelindung Chalice. Bagaimana Dante tidak senang kalau yang menjadi Chalice-nya sekarang adalah Abby? Sudah lama ia memendam perasaan pada pelayan Selena itu. Dengan Abby menjadi seorang Chalice, dia bersumpah melindungi Abby dari serangan para penyihir jahat, sang kegelapan, dan para iblis (ketiga jenis ini dikontrol oleh Sang Pangeran Kegelapan) yang memang berniat menghancurkan seorang Chalice. Meskipun nyawa taruhannya--dan agak rancu karena vampir bahkan tidak mempunyai nyawa.

Sejak saat itu, hidup Abby tidak aman lagi. Dia dihadapkan pada dongeng yang dulunya hanya ada dalam cerita. Bayangkan? Dia baru tahu Dante adalah vampir, padahal tadinya dia kira Dante hanya manusia biasa yang super tampan, menawan, seksi, dan si penakluk wanita saja. Oh, sadarlah Abby, ketampanan yang super duper begitu kan memang tidak normal. Dan lagi, berhentilah bersenang-senang dengan Dante, pertarunganmu dengan para penyihir, sang kegelapan, dan para iblis akan segera dimulai.

Tadinya aku berharap buku ini akan luar biasa karena sinopsis yang benar-benar menarik. Dan memang luar biasa. Luar biasa sekali inti ceritanya mungkin hanya sepertiga bagian isi buku. Dua-pertiganya adegan ehem antara Abby dan Dante--pasangan yang nggak bisa nahan napsu sama sekali. Masa di kamar mandi juga.. ehem! Mungkin hidup mereka berdua didedikasikan untuk ehem doang. Tapi karena aku masih kecil dan masih unyu-unyu dan polos, maka dua-pertiga bagian itu di skip and skip and skip--biar dosa yang udah numpuk nggak tambah numpuk. Heran juga walaupun di skip tapi baru selesai baca buku ini sebulan kemudian, saat buku ini sudah jenggotan di rak buku.

Kalau bicara soal tokoh favorit, I don't have one in this book. Abby ini sumpah plin-plan banget. Tadi benci dan ngeri saat tahu kalau Dante itu vampir. Pas si Dante muji dia, nyium dia, eh, yang paling nepsong malah si Abby. Heran deh, sama Abby. Imannya payah banget. Kalo si Abby ini puasa di bulan Ramadhan, pasti puasanya batal terus. About Dante, okelah dia vampir dan vampir memang super tampan. Tapi.. vampir kok lemah gitu? Okelah kalau sebabnya karena kekuatan si Dante ini diambil penyihir. Persoalan tentang dia nggak minum darah manusia juga oke. Terserah si Dante mau minum apaan. Minum air wc juga terserah dia. Tapi, masa kemampuan vampir cemen gitu. Ngadepin iblis aja nggak sampe tuntas, malah si Abby yang turun tangan. Trus juga, keahlian si vampir Dante ini apaan? No information about this. Perasaan kemampuannya sama aja kayak si Viper, temen Dante yang juga vampir. Bedanya dimana? Tingkat napsu mereka? Geez.. Terserah mereka aja deh.

Meskipun demikian, isi buku ini nggak melulu kisah cintanya Abby sama Dante doang--dan tentang karakter mereka yang nggak kuat iman itu. Yah, itu tadi, adanya pertarungan antara Sang Chalice dan sang kegelapan. Okelah pas pertarungan Abby-Dante dengan prajurit atau pengikut Sang Pangeran ini, cukup seru juga. Apalagi dengan para penyihir jahat. Dan lagi, saat pertarungan mereka dengan penyihir lain yang sama sekali tidak menyembah Sang Pangeran ini juga seru. Tapi sayang, mana pertarungan Chalice dengan Sang Pangeran? Mana? Duhh..

Kalau saja tidak ada pertarungan yang seru antara immortals itu, mungkin aku akan membuang buku ini ke kotak sampah dan hanya aku berikan 1/5 bintang--hanya sebagai penghargaan untuk penulis yang sudah menulis capek-capek. Tapi karena ada pertarungan yang seru meskipun agak tanggung dan nggak jelas, maka aku berikan 2/5 stars saja.

Maaf ya, mbak Ivy. Ini bukan seleraku, sih. Hehehe. Tentang baca the next Guardians of Eternity series, aku nggak janji, lho. Memang sih, seri selanjutnya berkisah tentang hal berbeda, bukan tentang Abby ataupun Dante lagi. Tapi tetap saja ragu. *minta digampar sama mbak Ivy*

Bagi kalian yang kepengin baca buku ini, tolong lihat kalender. Itung umur kalian udah 17 tahun ke atas atau belum. Yang masih di bawah umur, bacanya nanti-nanti aja ya, adikku sayaaang. Satu lagi, bacanya jangan pas puasa. Buku ini tidak baik dibaca saat berpuasa ataupun saat ngabuburit, apalagi kalau kalian mempunyai imajinasi tinggi. Tapi terserah deh mau baca buku ini atau kagak. Aku nggak ngerekomendasiin, lho, ya. *nb: setidaknya buku ini tidak separah Fifty Shades of Grey* :p

--------------The next paragraph is not related to the review above---------------

Sebelumnya, aku mohon maaf dulu. Mungkin aku bakalan hiatus baca buku entah untuk berapa lama. Yah, semoga saja tidak lebih dari dua minggu. Kenapa? Mood lagi berantakan banget. Takutnya, pas baca malah nggak konsen hehehe. I'm so sorry. Don't worry because this is not good-bye for forever. Nanti aku datang lagi. Jangan kangen ya, hahahaha. :D

2 komentar:

  1. Cover sama isi bukunya kok jauh banget ya? hehehe :)

    BalasHapus
  2. ilustratornya lagi mabok mungkin.. #eh ._.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...