Kamis, 30 Agustus 2012

[REVIEW] Hex Hall

Judul: Hex Hall
Seri: Hex Hall #1
Penulis: Rachel Hawkins
Penerjemah: Dina Begum
Penerbit: Ufuk Fiction
Tahun: Oktober 2011
First Published: Januari 2010
Halaman: 420
ISBN: 978-602-9346-10-7

Nggak sia-sia memilih buku ini sebagai bacaan saat mudik. Ceritanya asyik, lucunya nggak lebay, dan aku pun mendadak jadi mabuk sihir.

Hecate Hall atau lebih enak disebut Hex Hall, adalah tempat bagi para remaja bandel Prodigium sejak mereka mendapatkan kekuatan pada umur 12 sampai 18 tahun. Prodigium itu sendiri adalah para penyihir, warlock, peri, dan shapeshifter. Vampir sebenarnya tidak termasuk. Tapi di Hex Hall ada dua vampir. Satunya guru dan satunya lagi seorang murid yang.. yah, nasibnya malang kurasa, karena ia berbeda dari yang lain. Di Hex Hall juga ada hantu-hantu yang dulunya Prodigium. Jujur, aku sedikit merinding dibuatnya.

Sophie Mercer sial sekali karena ia harus masuk ke sekolah yang seperti rumah para monster itu. Bukan karena dia penyihir. Tapi karena dia menggunakan mantra cinta yang payah dan akhirnya membuat segalanya kacau. Memang begitu adanya. Seorang Prodigium yang memamerkan kekuatannya kepada manusia akan langsung dimasukkan ke Hex Hall.

Di Hex Hall, Sophie Mercer akan mengajak kita berkenalan dengan dunia sihir yang sebenarnya tak seenak yang kita pikirkan. Sophie juga akan memperkenalkan kita pada tiga penyihir hitam yang, sumpah, cantik seperti dewi. Tentu saja nanti ada warlock tampan bernama Archer Cross yang dihari pertama sudah membuat Sophie kesal sekaligus terpesona. Dan.. kita juga akan diperkenalkan dengan satu-satunya vampir di sekolah yang sekaligus teman sekamar Sophie, Jennifer Talbot (atau lebih akrab dipanggil Jenna).

I don't know what to say but this book is fabulous. Aku bilang begini bukan karena ratingnya di Goodreads tinggi ya. Tapi buku ini memang bagus. Dan.. tidak bisa membuatku berhenti membaca. Bagaimana bisa? Kalimat di akhir bab selalu saja membuat penasaran. Tadinya aku bilang, "Habis bab ini udah dulu ah.." tapi, setelah bab yang itu selesai, aku malah bilang, "Anjir. Ini ngapa sih ending bab bikin penasaran mulu. Yaudah, lanjut aja, toh belum malem." (padahal udah hampir jam sebelas malam).

Percaya nggak sih, kalau dalam waktu seminggu aku udah baca buku ini dua kali? Sekali pas mudik, sekali lagi habis mudik. Hahaha. Maruk? Iya.

Karakter Sophie yang kocak, apa adanya, setia kawan, dan nggak menye-menye adalah salah satu faktor kenapa aku ingin melanjutkan membaca sekuelnya. Sophie juga nggak ngebosenin dan.. jujur saja, aku iri padanya. Bukan karena dia penyihir. Tapi karena.. dia mempunyai sahabat baik seperti Jenna. Yeah! My favorite is JENNA TALBOT. Gimana ya? Jenna itu asyik banget diajak ngobrol. Meskipun ada satu sifatnya yang nggak ku suka. Dia.. tidak suka laki-laki. (Sumpah demi apa lo? Demi Archer yang menawan!) -___-"

Archer Cross memang keren sih. Tapi, aku jadi ragu mau jatuh hati sama Archer. Kesannya disini he's a wolf in sheep's clothing gitu. Awalnya baik, tapi pas di akhir.. I do think so many possibilities and questions about him. Archer Cross penuh dengan tanda tanya. Kalau Callahan.. eits, panggil Cal aja ya. Kalau Cal juga masih misterius. Dia itu pemuda lulusan Hex Hall yang jadi pengurus kebun Hex Hall. Aku masih bertanya-tanya tentang sosok Cal yang kayaknya nggak jauh beda kerennya sama Archer. Semoga ada penjelasan lebih mengenai Cal di sekuelnya. *harap-harap ngarep (?)* Don't ask me why I care to that "hex-hall's herder"! ._.

Alur ceritanya cepet. Langsung ke permasalahan. Langsung seru. Meskipun belum banyak konflik disini, melainkan pengenalan tentang Hex Hall. Cara Hawkins menyampaikan ide buku ini melalui sudut pandang Sophie pun asyik. Dan aku langsung jatuh cinta dengan tulisannya. Dibaca berkali-kali juga nggak ngebosenin. Tuh buktinya udah baca dua kali.. dan masih pengen baca lagi. Kekurangannya ya cuman itu, belum banyak konflik. Serunya belum stadium empat!

Now, kita talk about mantra. Mantra sihirnya bukan mantra yang khusus-khusus gitu. Coba dibuat bahasa-bahasa aneh gitu buat mantranya. Biar lebih kerasa sihirnya. *mikir-mikir* Tapi, ujung-ujungnya jadi mirip HarPot juga ya kalo pake mantra-mantra aneh bin keren. Hahaha. Yaudah, nggak apa-apa nggak pake mantra aneh-aneh. Asal jangan Archer-nya yang aneh. (?)

Terjemahannya bagus, tapi typonya lumayan.. banyak. Berikut salah tiganya:
1) Sembilan belas begara bagian selama enam belas tahun usiaku. (Seharusnya: negara) -page 32
2) Aku sebenarnya tidak ingin mendengar Archie mengoceh secara puitis tentang Elodie... (Well.. namanya itu Archer atau Archie? Aku sudah mencari-cari di setiap bab tapi namanya tetap Archer. Hanya ini yang berubah. Mungkin editornya lagi kesengsem sama Archie a.k.a David Archuleta? ._.) -page 204
3) ...dia mengoceh panjang lebar kepada Anna tentang gaun yang rencananya akan dia dibuat untuk dipakai ke pesta... (Seharusnya: dia buat) -page 250
Selain scenes yang belum terlalu menegangkan (tapi cukup membuatku penasaran) dan typonya, buku ini baik-baik saja. Cocok banget dibaca buat penggemar sihir. Yang suka YA? Buku ini juga pas buat kamu. :)

Berikut ada beberapa kalimat yang aku suka.

"Archer sudah tidak keren lagi," aku membalasnya. "Dia mencoba membunuhku, dan dia pacaran dengan Setan." -Sophie (page 198)
Aku ingin tahu mengapa kita selalu ingin mendengarkan orang lain yang membicarakan kita, bahkan kalau pembicaraan itu menjelek-jelekkan kita. -Sophie (page 265)
"Karena aku... Begini, ini kedengarannya bodoh, tapi aku benar-benar menyukainya, dan aku tidak ingin dia balas menyukaiku hanya karena, misalnya, gara-gara semacam mantra." -Sophie (page 305)

Cover? Perfecto! At the end, I give 4/5 stars for Sophie Mercer and Jenna (Archer juga hahaha)!

2 komentar:

  1. Kemarin lihat di Togamas, jadi pengen :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cepetan dibeli deh, mbak, sebelum stoknya habis. Soalnya denger2 Ufuk ada masalah. Beli buku ini juga nggak rugi kok. Menurutku seru bangeeeet! :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...