Kamis, 10 Mei 2012

[REVIEW] Skripshit

Judul : Skripshit
Penulis : Alitt Susanto
Penerbit : Bukune
Tahun : 2012
Halaman : 296
ISBN : 978-602-220-031-8

Bertahan hidup sebagai mahasiswa abadi gak gampang, gue kudu pinter ngeles dari pertanyaan umum yang ditanyain orang-orang di sekitar gue.

"Lo kuliah kok gak lulus-lulus? Emang ngambil apa sih?"
Gue jawab,
"Ngambil hikmahnya..."

Atau kalau ada adek-adek MABA yang nanya,
"Kakak angkatan berapa?"
"Dua ribu tua..."
"..."

Tapi sebenarnya, tidak lulus dulu adalah pilihan gue. For your information, gue paling takut dapet gelar "Pengangguran". Di mata gue, sebutan "Mahasiswa" itu lebih enak didengar daripada "Sarjana Pengangguran". Ditambah lagi pepatah dari negeri seberang yang selalu terngiang di telinga:

"Wisuda adalah pengangguran yang tertunda."

Ini gue, sang Tuna-Wisuda, dan cerita gue tentang bertahan hidup di belantara kampus...

--------------

Cuplikan di atas adalah sebagian dari pendahuluan sekaligus sinopsis yang disuguhkan Penulis. Bagi kalian yang masih labil dan sering galau (baca: plin-plan menentukan sesuatu), tolong banget jangan tersentuh oleh bujuk rayu bang Alitt yang minta ditemani menjadi seorang MA (baca: Mahasiswa Abadi)! -____-

It's wasting time and energy. But I believe this is just a chapter of my life. I just need to go on... keep doing my best, and let God do the rest... . (page 80)

Kenapa?
Karena bisa saja kalian jadi males jalanin hari-hari di kampus tanpa niat untuk wisuda. Soalnya kalian berasa punya kawan senasib sepenanggungan. Padahal, jadi MAPALA (Mahasiswa Paling Lama) itu nggak ada untungnya kecuali kalau kalian memang punya cita-cita ngeliatin junior imut setiap tahun dan mengabdikan diri kepada Universitas Tersayang sepanjang hidup kalian..

Dan jangan pula kalian jadi takut untuk menjadi seorang mahasiswa. Jadi mahasiswa itu asyik banget sebenarnya. Jadwal kuliah nggak kayak jadwal sekolah (kecuali Bang Alitt), tugas tinggal copy-paste dengan lebih brutal, bisa bolos tanpa dilaporin ke mami-papi, bisa jalan-jalan ke mall tanpa diusir satpam karena kita sama sekali nggak pakai seragam sekolah lagi, trus kita juga bisa dateng telat tanpa dihukum guru piket! *ajaran sesat* *terpengaruh Skripshit*

Apa yang kita tebar... itu yang akan kita unduh. (page 105)

Jadi, apa inti tulisan barusan? Silahkan resapi sendiri. Karena aku cuman mau me-review buku. Bukan mempengaruhi mahasiswa dan calon-mahasiswa.

Skripshit berisi tentang kisah nyata bang Alitt dan beberapa tips dari bang Alitt. Intinya, buku ini adalah lahan curhat bang Alitt tentang suka-duka menjadi seorang mahasiswa yang ujung-ujungnya memang harus berkenalan sama skripsi. Bukan hanya tentang skripsi dan tips, dalam salah satu bab ada juga yang menceritakan kehidupan sosialnya (bersama jenis teman yang mungkin juga merupakan jenis teman yang sama yang ada di sekitar kita).

Membaca buku ini seperti ditawari dua-hal-yang-kontras-namun-berkesinambungan. Bab-bab awal dijamin bakalan bikin kita tertawa dan mengangguk setuju karena cerita-cerita itu kerap kali kita temui di kehidupan nyata. Sedangkan di penghujung bab kita ditawarkan cerita yang mengharukan dan tentu saja berisi pesan moral yang ingin disampaikan oleh penulis. Dan bab penghujung adalah bab favoritku. Mengapa? Karena menurutku, tanpa adanya kisah itu, aku rasa bang Alitt tidak akan menjadi seperti ini.

Menurut gue manusia itu makhluk fleksibel, yang pastinya punya potensi untuk berubah demi sesuatu yang lebih baik. Dan manusia memiliki ego yang berperan penting untuk merubah fleksibilitas tersebut menjadi sebuah kekakuan. Ya, nggak ada keadaan yang nggak bisa dirubah... yang ada hanyalah manusia yang nggak mau ngerubahnya. (page 239)

Apalah artinya kita hidup di dunia, kalau kita selalu mengandalkan keajaiban? Hidup bakal terasa hambar. Seakan-akan kita hidup di dunia ini cuma numpang lahir, boker dan mati. I think it's enough for miracles session. I'd find a way to create my own miracle. (page 259)

Honestly, I can't stop my eyes moving from one word to another. Sama seperti blog bang Alitt, buku ini pun nangkring di jajaran favoritku. Bukan cuma karena ceritanya yang asyik, namun juga karena akhirnya bang Alitt bisa menerbitkan buku yang nasibnya jauh berbeda dari buku pertamanya. Hehehehe. :p

Seperti buku lainnya, buku ini pun mempunyai kekurangan. Salah satunya adalah kesalahan teknis di ilustrasi bab Teachers Thriller (yang sudah dijelaskan kak Yulian di blognya). Selain itu, ummm.. hmmm. apa lagi ya? Entahlah, kalian baca sendiri saja! Inget, beli! Bukan minjem! Contoh aku ini lho, patungan sama temen beli buku ini. *ups* ._.


Last but not least, cuman mau bilang CEMUNGUUUD aja buat bang Alitt biar skripsinya kelar, rejeki juga lancar! Jangan takut sama lapangan pekerjaan yang jumlahnya lebih kecil daripada para sarjana ye, bang. Tunjukin sama dunia kalau bang Alitt mampu buka lapangan kerja sendiri yang SUKSES. Pokoknya semangat deh, bang! Oh ya, I'll be happy giving this book a 4-stars out of 5! :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...