Minggu, 06 Mei 2012

[REVIEW] Hafalan Shalat Delisa


Judul : Hafalan Shalat Delisa
Penulis : tere liye
Penerbit : Republika Penerbit
Tahun : 2005
Halaman : 248
ISBN : 978979321060-5

Tak ada yang perlu disesali. Bukankah semua sudah terjadi. Tak ada yang bisa mengembalikan waktu! Tidak ada yang bisa memutar ulang nasib, hidup dan kehidupan. (page 127)

Keluarga Abi Usman adalah keluarga yang bahagia tanpa kurang apa pun. Mempunyai istri yang salehah dan empat anak perempuan yang mempunyai hati dan rupa bagai mutiara, salehah pula. Fatimah, anak tertua yang dewasa, baik, dan suka membaca entah buku apa. Zahra dan Aisyah, si kembar yang bagai bumi dan langit. Zahra pendiam, tapi kreatif dan pintar menggambar. Sedangkan si Aisyah ini dari dulu memang usil, bandel. Suka mengganggu Delisa, si bungsu. Adapun Delisa adalah gadis kecil berumur 6 tahun yang mempunya paras menggemaskan. Matanya yang berwarna hijau dan rambut ikalnya yang pirang memang berbeda dari kakak-kakaknya. Keturunan kakeknya, mungkin. Abi Usman bekerja di tanker perusahaan minyak internasional, sehingga keluarganya hidup berkecukupan di tubir pantai Lhok Nga. Meskipun demikian, Abi Usman hanya bisa pulang ke Lhok Nga tiga bulan sekali. Dua minggu melepas rindu terhadap keluarga. Sekarang, Abi Usman berada di perantauan, bukan di Lhok Nga.

Ummi, Fatimah, Zahra, Aisyah, dan Delisa

Delisa adalah si tokoh sentral dalam novel ini, bisa dilihat dari judulnya. Delisa anak yang cerdas, periang, dan pertanyaannya seringkali membuat orang kembali bertanya-tanya: anak kecil kayak dia pertanyaannya kok ajaib banget? Butuh waktu minimal setengah jam agar ia puas dengan jawaban akan pertanyaannya.

Sekarang, Delisa sedang menghafal bacaan shalat. Aisyah, kakaknya yang usil, mendapat amanah dari Ummi untuk selalu shalat di sebelah Delisa dan membaca bacaan shalat keras-keras agar Delisa bisa mengikuti dan cepat hafal.

Akan tetapi, Delisa sulit menghafal bacaan tersebut. Sering tertukar-tukar, katanya. Hingga Aisyah lah yang akhirnya membuatkan tips menghafal bacaan shalat untuknya. Delisa menemukan kemudahan dari tips Aisyah. Apa tips-nya? Baca saja di novelnya. :p

Sebagai hadiah menghafal bacaan shalat. Ummi memberinya kalung. Dengan syarat Delisa harus lulus ujian menghafal bacaan shalat tanggal 26 nanti. Ibu Guru Nur yang akan menguji Delisa dan teman-temannya yang lain. Tentu saja Delisa antusias menghafal bacaan shalat tersebut.

26 Desember 2004
Hari dimana Ibu Guru Nur menguji hafalan shalat Delisa dan teman-temannya. Dan shubuh hari itu, anehnya Delisa tiba-tiba lupa bacaan sujud (meskipun Kak Aisyah sudah membacanya keras-keras). Empat kali sujud, empat kali pula Delisa tidak membaca bacaan sujud karena ia sama sekali tak ingat. Dan kali ini, Delisa yakin dia tidak akan lupa bacaan sujud seperti shubuh tadi.

Tiba giliran Delisa.
Ya Allah, Delisa siap untuk shalat yang sempurna untuk yang pertama kalinya kepadaMu. Delisa siap melewati ujian praktek ini. Delisa akan khusuk.

Persis ketika Delisa mengucapkan takbiratul ihram. Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA.

Tepat saat Delisa mengucapkan wa-ma-ma-ti dalam iftitahnya, lantai sekolah bergetar hebat. GEMPA.

Delisa gemetar. Tapi tidak menggubris gempa itu dan tetap melanjutkan shalatnya. Ibu Guru Nur tetap menemani Delisa sedangkan yang lain sudah berhamburan keluar ruangan. 

Saat Delisa mengucap bacaan ruku', gelombang tsunami sudah menghantam bibir pantai Lhok Nga. Memporak-porandakan apa saja. Bahkan meunasah yang indah, rumah Allah..


Ketika Delisa i'tidal, gelombang itu menyentuh tembok sekolah. Delisa tetap bergeming di tempat. Melanjutkan bacaan shalatnya. Dia benar-benar ingin melakukan sujud yang sempurna untuk pertama kalinya. Kali ini dia ingat bacaan sujud yang sempat lupa shubuh tadi.

Dan tepat saat Delisa hendak sujud, gelombang tsunami sudah sempurna membungkus Delisa. Menenggelamkannya. Mencabik tubuhnya yang kecil dan rapuh. Delisa tetap membaca bacaan shalat, dan berhenti ketika ia benar-benar tak sadarkan diri lagi.

Tsunami Aceh tahun 2004 lalu.. ;(

Hari itu pagi Ahad, 26 Desember 2004. Penduduk dunia mencatatnya!
Hari itu pagi Ahad, 26 Desember 2004. Penduduk langit mencatatnya. Mencatat manusia-manusia terbaik..

Dan hari memang berjalan lebih cepat setelah berbagai kesedihan yang menimpa. (page 150)

Ganasnya tsunami meratakan Aceh dan sekitarnya, seganas itu pula tsunami melumat habis orang-orang yang disayang Delisa, begitu pula kaki kecilnya. Dengan kondisi cacat dan hanya bersama Abinya, sanggupkah Delisa melanjutkan kehidupan di tengah-tengah Lhok Nga yang rata dengan tanah? Bagaimana dengan hafalan shalatnya? Kau tidak akan menyesal jika membaca buku ini. Bahkan kau akan belajar banyak hal. Belajar arti ikhlas dan menerima. :)

***

It's unquestionable if tere-liye's novels are amazing and worth-buying. Ini adalah kedua kalinya aku membaca novel tere-liye setelah Sunset Bersama Rosie. Sungguh apa yang ada di pikiranku hingga baru saat ini aku mencomot Hafalan Shalat Delisa? Aku baru membelinya, cetakan ke-18. Dan langsung tidak bisa menahan untuk tidak membacanya.

Sejak bab awal, aku sudah terpesona, terharu. Seperti biasa, cengeng-mode-on. Nggak bisa nggak nangis kalau baca novel tere-liye. Hingga halaman 74, aku ragu untuk melanjutkan karena mataku pasti akan sembab dan bengkak nantinya. Salah satu teman kampusku bilang: kalau kamu nangis kayak gitu gara-gara novel udah nggak wajar lagi, Lin..

Lah, nggak wajar gimana? Kalo sama sekali nggak nangis baru nggak wajar. Sebegitu kerasnya kah hatimu sampai air mata setetes pun tidak keluar dari matamu? Ah, sudahlah. Lupakan basa-basi ini.

Some chosen quotes:
Marah dan menangis itu satu jenis. Kalian akan menangis jika saking marahnya. Menangis itu juga satu jenis dengan senang. Kalian akan menangis jika saking senangnya. Dan tentu saja menangis itu benar-benar satu jenis dengan sedih. Kalian akan menangis kalau sedih. (page 31)

Kecemburuan itu bagai api yang membakar semak kering. Cepat sekali menyala. Melalap apa saja di sekitarnya. (page 221)

Novel tere liye selalu mengambil tema sederhana. Tetapi, ia selalu berhasil mengubah tema itu menjadi tema luar biasa. Seperti temanya kali ini. Kisah seorang gadis kecil berumur 6 tahun dilatar belakangi tsunami tahun 2004 lalu yang terjadi di Aceh dan sekitarnya. Mengharukan menyimak gadis kecil itu. Terkadang terselip rasa iri terhadap Delisa. Iri akan Delisa yang cepat belajar dan mengerti akan musibah yang menimpanya. Iri karena Delisa adalah sosok dewasa dalam diri seorang anak kecil. Novel yang luar biasa ini menyajikan sosok Delisa tanpa melebih-lebihkan dirinya. Diceritakan dengan luwes dan apa adanya. Mengalir begitu saja. Honestly, aku sama sekali nggak nyangka bakal nemuin ending kayak gini.

Oh ya, satu lagi yang menjadi nilai lebih dari novel ini. Foot-note yang diselipkan tere-liye benar-benar JLEB! Setiap foot-note benar-benar mengena di hati dan membuat kita berpikir akan maksud kita berada di dunia, manusia penghuni dunia. Menyisipkan pelajaran moral. Menyisipkan bekal untuk dipikirkan. Tak ayal aku juga menitikkan air mata saat membaca foot-note itu. Rasa haru dan malu berkumpul menjadi satu. Yang paling mengena dan bersarang di dalam otakku adalah sejak foot-note ke-20 sampai akhir.

Some chosen foot-note:
20) Tetapi Ya Allah, Delisa baru 6 tahun. Kanak-kanak yang kesehariannya seharusnya lebih banyak diisi dengan bermain. Bukan masa-masa untuk bertanya. Pertanyaan yang entah kapan ia akan mampu menjawabnya... Jikapun ada jawaban entah kapan ia akan mampu memahaminya... Dan jikapun ia bisa memahaminya, entah kapan ia bisa menerimanya...

24) Malaikat Atid—sang pencatat keburukan, membuka buku raksasanya. Mengeluarkan penghapus raksasanya. Butuh dua belas hari untuk menghapus dosa itu. Dua belas hari langit, setara dua belas ribu tahun bumi...

Meskipun ada sedikit typo, tidak masalah. Tidak mengganggu progress. Tanpa berpikir dua kali aku menghadiahi 5 bintang untuk novel ini. Ah ya, bila perlu 6 bintang sekalian! :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...