Senin, 07 Mei 2012

[REVIEW] Divortiare


Judul : Divortiare
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2008
Halaman : 328
ISBN : 978-979-22-3846-4

Commitment is a funny thing, you know? It's almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks with you hard and deep. (page 229)

Alexandra Rhea, seorang relationship manager di BorderBank, salah satu bank swasta asing di Jakarta. Kini ia berumur 29 tahun, 2 tahun setelah perceraiannya.

Beno Wicaksono, dokter bedah jantung yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Kini juga menjadi duda setelah perceraiannya dengan Alexandra.

Sometimes I wonder how his social skill is around his patients, because for a doctor who's supposed to fix people's heart, all he ever did was hurt mine. (page 145)

Berpisahnya mereka disebabkan oleh keegoisan masing-masing. Tuntutan pekerjaan. Tak sempatnya mereka menghabiskan sisa hari bersama, untuk sekadar berbagi cerita. Atau kalau pun sempat, paling hanya beberapa menit kemudian segera tidur karena lelah bekerja. Kekeraskepalaan mereka membuat situasi makin rumit. Hingga mereka memutuskan untuk bercerai. Meskipun setelah bercerai keduanya masih saling berhubungan karena Alexandra sering pusing dan pingsan. Dan Beno adalah dokter yang bisa dia percaya. Meskipun kerap kali keduanya adu mulut saling membentak satu sama lain.

But I guess you need more than love to survive a marriage, right? (page 98)

Segala cara sudah dilakukan Alexandra agar ia bisa melupakan Beno. Sampai ia menghapus tato di dada kirinya yang bertuliskan nama Beno, ia masih saja memikirkan pria sialan itu! Damn, Ben, why is it that even after I erase you physically from my body, you still haunt my mind? This is so not fair. Pikirnya.

Our scar has a way to remind us that the past is real. (page 77)

You know you must be doing really well at work when your personal life crumbles. -Alexandra (likes quote on The Devil Wears Prada)

Denny, teman kuliah Alexandra. Datang mengisi hati dan hari Alexandra. Dia sosok pria baik, sopan, tampan, tajir. Pokoknya semua hal yang membuat ia dengan mudah menaklukkan hati wanita manapun. Dan kini, dengan segala pesonanya, ia mencoba menarik hati Alexandra.

Alexandra sering menghabiskan waktu berdua Denny, meski awalnya ia tidak mau. Ia masih dibayangi masa lalu. Belum siap berkomitmen lagi. Dia tidak mau terburu-buru layaknya ia dan Beno 4 tahun silam yang kini berakhir dengan perceraian.

Choosing, however simple the choices are, is never really that simple. Choosing is like balancing the idiosyncrasy of ourselves with the mere existence of others. Seperti bersikap pretentious dan toleran pada saat bersamaan. (page 310)

Bagaimana akhirnya perasaan Alexandra? Maukah ia membuka hati untuk calon suami sempurna seperti Denny? Lantas, bagaimana dengan Beno yang belakangan juga dekat dengan seorang dokter wanita yang cantik dan sempat membuat Alex panas itu?

What is so bad about dating Denny?
Nothing.
He's perfect.
He's perfect in every single way possible.
Dia bukan Beno.
Dia sempurna karena dia bukan Beno.
Dia sempurna tapi dia bukan Beno.
How much I want to kill myself right now for having that last thought.
(page 132)

It's funny how you can't really choose where your life takes you, isn't it? Well, it's not really funny. It's tragic. (page 222)

Love is not for the faint of hearts. (page 252)

Pada akhirnya, siapa yang akan bersama Alexandra? Beno si dokter sok cool kurang ajar yang dengan mudahnya menyetujui gugatan cerai dari Alexandra, atau malah Denny yang so sweet dan merupakan kriteria yang nggak mungkin ditelantarkan oleh wanita normal. Kau akan tahu jika membacanya. Seru, addicted, apalagi dengan adanya sahabat Alexandra yang gila tapi asyik!

***

Ini adalah novel Ika Natassa yang pertama yang kubaca. Selain tertarik pada judul dan cover yang unik, aku juga ingin membuktikan tanggapan positif oleh teman-teman tentang novel ini. Dan pembuktian itu hari ini. Seharian membaca Divortiare (mumpung ga ada kuliah) dan meresapi setiap kata-katanya.

This novel is entertaining!

Judul setiap bab menggunakan bahasa-yang-entah-berasal-dari-negara-mana-pokoknya-keren termasuk unik. Aku suka meskipun berbagai istilah dunia banker yang bertaburan hampir di setiap bab membuatku kagok dan bingung, karena aku benar-benar masih buta soal kerjaan. Tapi untungnya, aku bisa tahu sedikit, walau kemungkinan besar dalam waktu kurang dari 24 jam istilah-istilah keren itu melarikan diri dari otakku.

Ide perceraian yang diangkat mbak Ika cukup menarik. Untungnya bukan kisah perceraian dimana si cewek mewek kayak nggak bisa hidup gara-gara ditinggalin laki. Men, sekarang pun sebenarnya masih bisa nafas tanpa didampingin cowok kampret! Ups, sorry my French. *ketularan Alexandra*

Tokoh Alexandra yang workaholic ini termasuk keren. Tapi, lebih keren temannya Alexandra, si Wina. Dia tipe sahabat yang baik. Yang sekaligus bisa menggandakan fungsi diri sebagai seorang kakak.

Some of her thoughts:
"You're young, you're beautiful, there are many fish in the sea, Lex. Go fishing!"
-Wina(page 58)

"Gue sadar kenangan nggak bakal bisa dihapus. Anggap aja kenangan itu bagian dari hidup gue yang dulu, yang juga membuat gue jadi gue yang sekarang. Gue cuma perlu mengalami kenangan-kenangan baru yang lebih indah. Hidup kita nggak harus ditentukan masa lalu kan, Lex?"
-Wina(page 258)

Nah, yang ini nih susah mau milih lebih suka yang mana. Denny atau Beno? Dua-duanya sama-sama hot dan oke punya. Tinggal pilih mau gebet yang mana dulu. Dan itulah yang bikin bingung, mau pilih mana. Aku saja bingung, apalagi Alexandra. Rasanya sayang banget ngelepasin salah satu.

Pokoknya novel ini entertaining banget. Memberi tahu kita tentang susahnya menyelaraskan kehidupan berkeluarga dengan karir. Dan saat dua hal itu mengukir suatu masalah, jangan langsung ambil keputusan. Pikir panjang dulu. Jauhkan rasa egois. Hindari pikiran negatif. Jadikan kisah Alexandra sebagai bahan pemikiran.

Some of my favorites:
..well, spare me the "nothing you confess can make me love you less" bullshit. Or "all you need is love." Or "you're all I need to get by." Or "it ain't over til it's over." Maaf kalau terdengar pedas, tapi menurutku orang-orang yang menulis lagu-lagu itu sama sekali tidak mengerti makna cinta, pernikahan, emosi. (page 196)

You know the feeling when you know what you want to do but you don't kow why, you just know that was the right thing? (page 311)

Sometimes, we do have to choose to settle down. But aren't we supposed to settle down with the one that we truly love, not the one that just happens to be there? (page 311)


Sayangnya, novel ini kurang menegaskan adanya peran Beno. Dia seperti antara ada dan tiada. Entah penggambaran sosok Beno yang seperti itu disengaja atau tidak. Yang jelas porsi Beno kurang. Padahal dia termasuk tokoh utama, kan? Well.. this time I just can give 3.5 stars out of 5 for this one! Hope the sequel will be better! :) *ngelirik Twivortiare*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...