Minggu, 02 Februari 2014

[REVIEW] The Last 2%

Jeongha meneruskan aktingnya. Dia begitu mendalami perannya sampai-sampai dia benar-benar membayangkan ada seorang pria yang menyeretnya ke tempat tidur. ... Tanpa disadarinya, Jeongha saat ini sedang bertatapan dengan seorang pria yang berada di teras kamar sebelah. Pria itu tampak menikmati pertunjukan Jeongha tadi. (hal. 47)
Judul: The Last 2%
Penulis: Kim Rang
Penerjemah: Sitta Hapsari
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun: 2014
Halaman: 424
ISBN: 978-602-7742-24-6
Harga: IDR 65.000
I rate it 2/5 stars

Eun Jeongha dijuluki ratu undian. Keberuntungannya selalu saja membuat dia menang di tiap undian yang dia ikuti. Sampai-sampai 80% barang-barangnya di rumah merupakan hasil menang undian. Kali ini, Jeongha memenangkan hadiah kedua undian Agen Perjalanan Orion yang baru saja diikutinya: menginap satu malam di Hotel Arizona. Awalnya, ia ingin mengajak Minsu, pacarnya, untuk pergi ke Hotel Arizona bersamanya. Namun, Jeongha mendapati Minsu berselingkuh saat Jeongha diam-diam menjemput Minsu di bandara. Minsu sendiri tidak menyadari kalau Jeongha ada di sana. Akhirnya Jeongha pergi ke hotel sendirian.

Tak disangka, Minsu menelepon Jeongha di hari Jeongha menginap gratis di Hotel Arizona, menanyakan jadi atau tidaknya Jeongha mengajak Minsu. Jeongha yang kesal, langsung saja berbohong kalau kini ia sedang bersama seorang pria di hotel tersebut. Untuk meyakinkan Minsu, Jeongha berbicara seolah-olah sedang bersenang-senang dengan pria khayalan yang sedang bersamanya. Minsu kesal dan balik menutup telepon Jeongha.

Tanpa Jeongha sadari, di balkon hotel kamar sebelahnya, ada seorang pria tampan yang memperhatikan tingkah aneh Jeongha saat menelepon Minsu tadi. Jeongha yang malu langsung kembali ke kamar dan berharap tidak akan bertemu orang itu lagi. Nama pria itu adalah Hyeon Seungwoo. Berbeda dengan Jeongha, Seungwoo menganggap Jeongha menarik. Ia bahkan berharap bisa bertemu dengan Jeongha lagi. Ceritanya Seungwoo ini jatuh cinta pada pandangan pertama ke Jeongha.

Peristiwa Jeongha lupa mengambil kunci kamar hotel saat hendak keluar, membuat mereka bertemu lagi. Dua kali Jeongha lupa membawa kunci dan dua kali pula ia bertemu dengan Seungwoo gara-gara hal itu. Yang kedua kalinya ini yang parah. Saat Jeongha terjebak tidak bisa masuk kamar sedangkan Minsu sedang berjalan dengan tatapan marah ke Jeongha, spontan Jeongha mengetuk pintu kamar Seungwoo, berharap pria itu mau mengikuti permainan pacar pura-pura agar Minsu percaya ia sedang bersama pria lain. Tanpa Jeongha duga, Seungwoo mengerti dan dengan sukarela menjadi pacar pura-pura Jeongha. Yang membuat Jeongha terkejut, pria itu juga menciumnya. Di bibir. Memang sih Minsu langsung speechless hingga Minsu memutuskan untuk pergi saja dari Jeongha. Tapi Jeongha juga demikian terkejutnya. Masa iya orang yang belum lama dikenalnya langsung menciumnya, di bibir pula!

Selepas Minsu pergi, Seungwoo mengajak Jeongha untuk mampir ke kamarnya, menenangkan diri sambil makan cokelat. Saat Jeongha ingin pergi, Seungwoo menahan Jeongha dengan alasan minta imbalan atas bantuannya tadi. Tahu apa imbalannya? Kisseu!

Apakah kisah Jeongha berakhir begitu saja setelah ciuman panas yang terjadi malam itu? Tentu saja tidak. Seungwoo terus-menerus mengejar Jeongha, dimana Jeongha juga senang dikejar-kejar. :p Dan apakah kisah di buku ini hanya kisah cinta mereka berdua? Ini juga tidak!

Jeongha ini bermimpi ingin menjadi penulis naskah drama. Kali ini pun ia mengikuti lomba penulisan naskah drama yang diadakan oleh Walden Pictures, anak dari Walden Korea, dimana tanpa sepengetahuan Jeongha, Seungwoo adalah direktur di perusahaan Walden Pictures itu. Oh Inyoung, mantan sahabat Jeongha yang pernah mencuri naskahnya dulu, sekarang telah menjadi penulis terkenal. Kali ini Inyoung menulis naskah Samak, di bawah nama Walden Pictures. Posisi Jeongha jelas-jelas tidak aman. Inyoung yang sekarang adalah musuhnya, menjadi salah satu juri di perlombaan itu. Inyoung juga tergila-gila pada Seungwoo. Bagaimana kisah mereka selanjutnya?

Rindu. Iya. Jeongha rindu. Dia tidak tahu kenapa dia bisa merindukan seseorang yang baru ditemuinya satu kali saja. Tapi Jeongha yakin yang dirasakannya adalah rindu, karena dia hanya ingin bertemu dengan Seungwoo. (hal. 104) 
"Ketika aku memikirkanmu, napasku sesak, jantungku berdebar. Kuping dan mataku pun tertutup. Aku seperti tak bisa melihat siapa-siapa selain dirimu. Kupingku juga seperti menolak untuk mendengar apa-apa. Lalu senyumku pun terasa aneh. Benar-benar ada yang salah dengan tubuhku." —Seungwoo (hal. 146)

Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih untuk Haru. Tanpa Haru, mungkin aku tidak akan pernah berkenalan dengan Kangho, sahabat baik Jeongha, juga tertawa melihat tingkah konyol Jeongha sendiri. Setelah mengucapkan terima kasih, aku juga ingin minta maaf, because I ended up feeling so-so after reading this book.

Cinta yang terlalu instan antara Jeongha dan Seungwoo. Karena terlalu instan itulah, aku tidak merasakan chemistry yang kuat antara mereka berdua. Bahkan mie goreng bulgogi pun punya proses saat memasaknya, dan versi aku, nggak usah masukin bumbu banyak-banyak, secukupnya saja. Biar rasanya nggak berlebihan, juga nggak kekurangan. Enaknya pas. :p

Seungwoo ini cowok korea tapi blasteran Amerika, tingginya 190cm. Aku ingat banget tingginya karena sejujurnya aku takut kalau pacaran sama cowok terlalu tinggi begitu, takut keinjek. Aku kan pendek. -_- Sebenernya Seungwoo ini cowok yang baik banget dan nggak bisa dipandang sekilas doang (sayangnya sekarang status dia udah off-limit huehehe). Aku suka sikap perhatian Seungwoo. Aku juga suka karena dia nggak mempan sama kecantikan a.k.a godaan cewek lain, setia banget kan? Tapi... aku nggak suka sikap Seungwoo yang terlalu posesif. Contohnya langsung curiga pas Jeongha jalan sama pria lain, dia nuntut penjelasan 'sekarang juga', padahal Jeongha lagi nggak ada waktu untuk ngejelasin. Seungwoo ini juga nepsongan orangnya. Entah kenapa saat Seungwoo itu digambarkan udah thirty-something dan sikapnya begitu pula, aku jadi mikir "wajar dia nepsongan, udah lama jadi perjaka dan sekarang kebelet kawin sih ya". ._.

Jeongha adalah tokoh yang apa-adanya. Dia orangnya asal bunyi, selalu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Aku suka sikap Jeongha yang itu. Tapi, Jeongha juga nepsongan, bawaannya pengin nerkam Seungwoo terus. Apalagi pas Seungwoo maksa pengin nginep di tempat Jeongha untuk semalam. (Ahelah Lin, ini kan novel dewasa, rasanya wajar kalau mereka saling nafsu.) Okay, ini novel dewasa, mereka udah dewasa, dan mereka juga penginnya begitu terus, tapi please... I need the chemistry! Aku nggak masalah mereka mau ngapain aja, asal ada chemistry-nya. Aku rasa chemistry mereka berdua akan lebih dalam kalau Seungwoo nggak langsung ngejer-ngejer Jeongha sedemikian rupa dan andai saja Jeongha tidak dengan mudahnya membuka hatinya untuk Seungwoo.

Untuk Inyoung, sebagai antagonis, peran Inyoung masih disayangkan. Dia kurang jahat, dan dirinya terkesan tenggelam. Akan lebih baik lagi kalau porsi Inyoung ditambahkan, dan akan lebih baik lagi kalau Inyoung ini lebih agresif dan jago adu mulut sama Jeongha. Kalau demikian, aku rasa kisahnya jadi lebih menarik lagi. Aku ini orangnya selalu menaruh perhatian sama antagonis, soalnya si antagonis inilah yang jadi bumbunya biar kisahnya menarik. :p (Alasan lain: karena tiap drama di sekolah dulu, Linda ini selalu jadi orang pertama yang direkomendasikan jadi si antagonis! *info nggak penting*)

Perkembangan hubungan Jeongha dan Seungwoo jika dibandingkan dengan karir Jeongha sebagai penulis juga cukup disayangkan. Pernah nonton short k-drama Unemployed Romance? Buku ini hampir sama dengan drama itu. Bagian karir sebagai penulis drama itu kurang porsinya. Lebih banyak romance (FYI, banyak banget scenes flashback yang terus-menerus diulang sehingga membuatku jenuh, padahal kalau bagian itu diisi dengan scenes lain, film ini cukup menarik. Iseng doang sih ngasih seputar info tentang drama ini. :p). Aku tidak terlalu suka romance, mungkin karena itu aku menyayangkan bagian lain dalam buku ini. Bagi kalian yang menyukai romance, mungkin akan menyukainya. :)

Ada kata-kata yang diulang lebih dari dua atau tiga kali. Misalnya saja kalimat "aku menyukaimu", semacam itulah. Memang, yang namanya romance nggak pernah absen dari kalimat yang satu itu. Tapi, kalau "aku menyukaimu" diucapkan berkali-kali, lama-lama arti dari kalimat itu jadi memudar dan akhirnya hilang. Ada pula deskripsi karakter yang sebenarnya sekali ditulis saja sudah cukup. Tidak masalah kalau ditulis kembali, tapi dengan kalimat berbeda, begitu lebih baik. Menurutku ada baiknya pengulangan deskripsi karakter diisi dengan scene lain yang bisa membuat buku ini menjadi padat. Ini saran doang sih, kalau aku yang disuruh nulis, aku belum tentu bisa. x)

Anyway, karakter favoritku di The Last 2% adalah Kangho, sahabat baik Jeongha. Dia ini orangnya asyik buat diajak ngobrol. Malah aku merasa chemistry antara Kangho dan Jeongha ini yang terasa banget! Good job buat Kim Rang-eonnie yang berhasil membuat chemistry antara Kangho dan Jeongha sebagai sahabat ini. :) Kangho juga berhasil membuatku sebagai pembaca sekaligus pengagumnya tersenyum. Pernah suatu kali dia dengan santai membawakan tiga kaleng bir untuk dirinya sendiri dan terutama untuk dua orang yang lagi berantem. Alasan dia bawa bir itu: biar otak yang tadinya panas, jadi dingin. x)

Terjemahannya sudah baik, aku tidak menemukan kalimat yang janggal atau susah dimengerti. Mekipun ada satu atau dua typo, itu pun tidak mengganggu. Salut deh sama penerjemahnya. Untuk bagian romance, yang paling berat cuman kissing sih (mungkin udah disensor kali ya), tidak seperti novel dewasa lain yang adegan kipasnya diumbar beneran. Tapi tetap saja, The Last 2% baru appropriate dibaca sama mereka yang umurnya udah di atas 18 tahun. :p Oh iya, setelah 3/4 membaca buku ini, aku punya pertanyaan, pakaian dalam yang available-to-eat itu beneran ada ya? Kok kedengarannya aneh... *hening*

Yang suka romance, silahkan baca buku ini. Yang suka baca romance dengan catatan kipas-will-be-needed, rasanya nggak bisa berharap lebih sama The Last 2 %. :p Untuk arti dari The Last 2% ini, silahkan dibaca hingga akhir bab. Ini karena aku yang lemot kali ya, baru bisa nangkep maksud dari judul "the last 2%" itu apa pas di bab-bab akhir. Untuk kalian, aku sih nggak tahu. x)))

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Ada orang-orang yang mendapatkan kesuksesannya dengan cepat, ada juga yang terlambat. Kau tidak perlu memikirkan kenapa teman-temanmu lebih cepat berhasil dibandingkan dirimu. Semua ada waktunya. Kau tinggal menunggu saja kapan waktu itu akan datang untukmu." —Ayah Jeongha (hal. 201)

4 komentar:

  1. belum pernah baca buku-bukunya haru :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekali2 cicip buku Haru mas. Jgn baca buku yg berat2 mulu.. :p

      Hapus
  2. Cover buku haru ini selalu bikin mupeng, sayangnya terjemahannya gak asik >.<

    BalasHapus
  3. Ahahahah selama ini aku sih nyaman2 aja baca terjemahannya Haru, mbak. Yang ini aku kurang cocok sama temanya. :D

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...