Kamis, 05 April 2012

[REVIEW] Down The Little Abbey

Judul : Down The Little Abbey
Penulis : Ginger Elyse Shelley
Penerbit : Leutika
Tahun Terbit : Januari 2012
Halaman : 191
ISBN : 978-602859-765-4

"When Abbey was knitting.. and the prince was asleep. There suddenly appearred a delicate lights of divine. Upon curiosity, Abbey and the prince touch it. Then suddenly, a little girl transported into prince's chamber! He smiled and took her hand. Then they make a very good friend."

Abbey Le Talbot, sejak kecil dibesarkan di gereja yang merangkap menjadi panti asuhan. Hidupnya bahagia, meskipun jauh dari kesempurnaan materi. Abbey jarang berkomunikasi dengan teman-teman se-panti asuhan. Namun, bukan berarti dia tidak mau berteman. Hanya saja sulit baginya berkomunikasi langsung dengan orang lain. Dia lebih suka berbincang-bincang dengan Papa Tree, pohon oak tua yang disapanya setiap pagi, kelinci, bunga, dan semua hewan serta tumbuhan yang ada di taman sekitar gereja itu.

Ingat-ingatlah siapa yang akan terus bersamamu ketika semua berbalik meninggalkanmu. Ingatlah, dan semua akan baik-baik saja. Dan aku akan terus mengulurkan tangan padamu sampai kau bisa berjalan sendiri di dunia ini. (page 69)

Adelfo d'Or, pangeran yang tinggal di istana tak jauh dari gereja yang ditinggali Abbey, benar-benar benci dengan statusnya yang menjadi raja. Ia bukan anak kandung keluarga itu, melainkan anak yang berasal dari panti asuhan, ini kata orang tua angkatnya (atau bisa kita bilang Raja). Ratu sendiri tidak punya anak karena dia toh tidak mencintai suaminya. Sang Ratu bunuh diri karena bosan hidup dengan segala yang tidak dia inginkan (contoh: sang Raja yang tidak dia cintai sama sekali). Adelfo benci siapa pun yang ada di istana. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, dia berteman dengan seorang anak tukang kebun istananya, Ivan Forbes. Adapun saat Adelfo diangkat jadi raja, Ivan diangkat menjadi penasihatnya, meski Ivan sendiri dan anggota kerajaan yang lain tidak setuju.

Kenapa kamu berbicara dengan kelinci? Apa kata seledri-seledri air yang kamu ajak bicara di pasar waktu itu? Apakah lobak memang bersaudara dengan wortel? (page 103)

Abbey bertemu dengan Adelfo saat ia sedang berbicara dengan kelinci di taman dekat tembok pagar gereja. Dia menemukan Adelfo yang sedang memanjat pagar gereja itu menyapanya. Awalnya Abbey takut, tapi, melihat kelinci yang bersamanya tidak berlari sama sekali, Abbey akhirnya membalas sapaan Adelfo yang ramah. Adelfo memperkenalkan namanya sebagai Adele, dia tidak mau Abbey tahu siapa dia sebenarnya. Dia tidak mau Abbey berteman dengannya karena dia seorang raja. Tapi, di pertemuan yang berikutnya, Adelfo memberi tahu Abbey nama aslinya. Mengejutkan sekali. Bahkan Abbey tidak tahu bahwa dia adalah raja di daerah mereka.

Adelfo selalu menympatkan waktu untuk bertemu Abbey, meskipun sulit dan rentang waktu mereka terakhir bertemu dengan pertemuan mereka yang berikutnya terbilang jauh. Bersama-sama, mereka selalu bertukar cerita. Sampai suatu hari, Adelfo berjanji akan mengajak Abbey ke rumahnya untuk memainkan piano bersamanya. Tapi, janji tinggallah janji. Sudah 3 tahun berlalu, tapi Adelfo tak kunjung mengundang Abbey. Menemuinya pun tidak. Abbey kecewa, dan mulai melupakan Adelfo.

***
...Lempar aku ke dasar jurang, aku akan mencoba mendaki kalau kamu mau menungguku di atasnya. Buang aku ke tengah lautan, aku siap berenang kalau kamu ada di tepinya... (page 165)

Ini adalah cerita persahabatan yang manis antara Abbey dan Adelfo. Meskipun tempat kejadian tidaklah nyata, melainkan hanya imajinasi penulis, tapi kisah ini mengalir mulus seperti layaknya dongeng indah yang sering kita dengar maupun baca sebelum tidur. Yah.. meskipun si penulis terlalu merendahkan dirinya di sini, seperti jenis pengarang minder, jenis pengarang sarkastis, jenis pengarang tidak bertanggung jawab, jenis pengarang penjilat, jenis pengarang terbelakang, dll di hampir setiap foot-note-nya. -___-

Karakter Abbey dan Adelfo pun terkesan kuat. Pokoknya, nggak ada kata bosan saat membacanya. Ini termasuk dongeng yang harus dibaca setidaknya sekali. Meskipun novel ini berlatarkan gereja dan sebagainya, aku tidak keberatan. Memangnya kenapa kalau tentang gereja? Wajar saja lah. Setidaknya novel ini tidak memaksaku untuk pindah agama.

Meskipun kisah ini menarik, ada saja kekurangan dari suatu karya. Konflik yang ada kurang kuat. Bahkan hampir tidak terdekteksi. Kisah mereka berjalan datar dan hanya diselingi dengan konflik tipis yang tidak mengguncang emosi. Ada baiknya jika dibumbui lagi dengan konflik yang lebih kuat biar pembaca gregetan (misalnya garam atau kecap asin #lho). Kalau seperti ini, sama saja kita sedang membaca dongeng biasa. Bahkan dongeng yang biasanya dijual dipasaran agak mendingan lagi. Aku harap, mbak Ginger akan bersedia menulis dongeng yang lebih enak daripada Down The Little Abbey lagi nantinya. By the way, your work gets 3 stars out of 5 stars, sistaa.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...