Sabtu, 25 Februari 2012

[REVIEW] The Shadows (The Books of Elsewhere #1)

Author: Jacqueline West
ISBN: 9786029159882
Format: Paperback
Tebal: 282 halaman
Cetakan Pertama: November 2011

Sejak pindah ke rumah Victoria peninggalan Ms. McMartin, Olive merasa ada yang salah dengan tempat itu. Jelas-jelas udara siang itu panas, tapi Olive merasa bulu kuduknya berdiri saat pertama kali memasuki rumah tua itu. Sungguh! Meskipun apartemen lamanya lebih kecil daripada rumah itu, dia lebih menyukai apartemen lamanya.

Ada yang aneh dengan rumah itu. Olive merasa ada yang mengawasi. Olive juga merasa aneh saat melihat banyak lukisan di rumah itu. Yah.. wajar saja jika orang memiliki hobi melukis. Tapi bukan itu yang membuat Olive merasa aneh, tapi lukisan itu yang seolah hidup. Lukisan itu terlihat tak bersahabat. Seperti menyuruh Olive untuk pergi. Anehnya lagi, lukisan itu tidak bisa digeser, dipindahkan, apalagi dilepaskan.


Minggu pertama Olive di rumah barunya, dia berkeliling. Memeriksa setiap ruangan. Memeriksa setiap laci dan lemari. Ada banyak ruangan kosong yang tidak digunakan di rumah itu. Dan itu membuat Olive takut. Suatu malam, saat ia tidak bisa tidur, Olive melihat ada kucing berbulu oranye masuk ke kamarnya. Satu hal yang membuat Olive terkejut, kucing itu BISA BICARA. *ah.. kalau saja aku tidak takut kucing, pasti aku akan sangat menyukai kucing oranye bernama Horatio ini. Mungkin pengecualian untuk kucing yang satu ini hahahaha*

Akhirnya, karena penasaran, Olive memeriksa segala penjuru ruangan dengan lebih teliti. Ia menemukan sebuah kacamata tua di kamar berdinding violet. Saat dia memakai kacamata itu, entah perasaanya atau bukan, dia melihat lukisan seorang wanita muda cantik yang ada di meja rias tersenyum padanya. Tapi, saat ia melepas kacamatanya kembali, lukisan itu tidak sedang tersenyum. Olive keluar dari kamar itu dan melihat lukisan lain yang ada di rumah itu. Lukisan pertama yang dia coba adalah lukisan hutan pada malam hari. Olive melihat ada sesuatu dalam lukisan itu. Yang tanpa kacamata pun dapat ia lihat dan rasakan. Olive mendekati lukisan itu. Itu dia! Olive menemukannya. Ada seorang anak laki-laki yang berlari menjauh, seolah ingin bersembunyi dari Olive. Selain itu, Olive merasakan angin hutan berhembus di wajahnya. Olive pun mencoba menempelkan wajahnya di lukisan itu. Dan dia bisa merasakan dirinya tembus disana.

Olive mengambil boneka kesayangannya, Hershel, untuk uji coba. Kemudian, dia mencoba untuk menguji dirinnya sendiri. Olive masuk dalam lukisan. Ajaib! Di dalam lukisan itu, persis hutan pada malam hari. Udaranya dingin. Olive mencoba mencari anak laki-laki tadi. Olive merasa seperti main petak umpet. Olive rasa, rumah ini tidak terlalu buruk. Dengan meyakinkan anak itu bahwa dia tidak akan menyakiti anak itu, akhirnya anak laki-laki itu menunjukkan dirinya. Anak laki-laki itu bernama Morton.

Sejak saat itu, Olive keluar-masuk lukisan. Menjelajahi seluruh lukisan. Juga berbincang dengan beberapa orang yang terbuat dari cat itu. Ada satu hal yang menghantui pikiran Olive. Entah kenapa Olive merasa orang-orang disana takut pada seseorang yang mungkin saja mendengar apapun yang mereka bicarakan. Olive mencari tahu. Mempelajari seluk-beluk rumah lebih saksama. Ingin mencari tahu siapa dalang di balik lukisan dan kacamata ajaib itu.

Olive berusaha merangkai berbagai petunjuk untuk menyelamatkan para penghuni lukisan dari nasib buruk mereka. Namun, dia terjerumus dalam renca yang lebih gelap dan lebih berbahaya dari dugaannya. Dia juga berhadapan dengan kekuatan yang ingin menyingkirkannya dengan segala cara. Bisakah Olive menyelamatkan rumah itu dari kegelapan, sebelum cahaya hilang selama-lamanya?
***
".. tentu saja, jika bukan karena rasa ingin tahu, kita tidak akan berani mencoba sesuatu yang bisa menjadi penemuan hebat. Jika kau tidak memiliki rasa ingin tahu, kau akan belajar apa? Hanya hal-hal yang harus kau pelajari di sekolah." (page 172)

Baru bab I membaca buku ini, aku ikut merinding. Penggambaran suasana rumah yang apik membuat imajinasiku berjalan liar entah sampai dimana. Sempat aku berpikir ini novel fantasi paling menarik setelah The Book of Lost Thing yang kupinjam dari salah satu temanku.

Satu hal lagi yang membuat buku ini menarik adalah adanya ilustrasi di setiap bab yang memudahkan pembaca mengembangkan imajinasinya akan novel ini.


Terlepas dari ceritanya yang menarik, sebenarnya ada masalah saat aku sedang seru-serunya membaca novel ini. Yah.. sebenarnya hasil dari kecerobohan. Jadi begini, saat lagi asyik membaca dan berdebar-debar akan misteri yang akan Olive pecahkan, tepatnya saat hendak membalik halaman buku, ternyata halaman itu kosong. Untuk sementara aku berdehem sambil membayangkan kertas kosong itu hanyalah efek membaca buku itu. Oh, tidak! Bukan itu! Halamannya hilang. Aku mendapat buku cacat.

Tapi, tenang! Aku masih menyimpan struk pembayaran. Belajar dari pengalaman novel Senja Untuk Rosie yang juga cacat beli. Dan.. setiap masalah pasti ada berkahnya. Saat hendak menukar buku di bagian Layanan Pelanggan Gramedia, aku diam sejenak. Bener nggak, ya ini tempatnya? Kok pegawainya ganteng banget.. Melongo sesaat. Biasalah, jarang lihat cowok ganteng. Di kampus banyak yang ganteng tapi kelakuannya pada abnormal semua.

Sejak kejadian itu, aku tidak jadi merutukii nasib buruk karena membeli buku cacat, malah aku mensyukurinya. Sering-sering aja dapet buku cacat halaman, biar bisa ketemu pegawai ganteng itu lagi, mhihihihi.. *mental jomblo tua*

Okay, jadi begitulah sekilas review dan pahit-manis baca novel ini. Last but not least, novel ini recommended banget bagi kalian pecinta fantasi. Karena, novel ini sudah menyimpan 5 bintang sejak membaca bab pertamanya. Happy reading!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...