Saturday, 31 December 2016

My Wishlist in 2017 & Top Choice 2016 #PosBarDesember

Mari kita abaikan dulu kenyataan kalau sudah setengah tahun lamanya aku bolos nge-blog, dan kalau tadi sempat pusing karena tampilan dasbor blogger udah berubah.. -_- *ya siapa suruh bolos berbulan-bulan?*

Nah, setelah melupakan dosa tadi, izinkan aku mengucap hamdalah karena ternyata aku masih punya niat untuk menulis postingan baru di tengah-tengah kesibukan membuat kue bolu dan menyetrika baju yang seabrek-abrek. Postingan ini memang tidak cukup untuk membayar kekosongan yang telah dirasakan blog kesayanganku ini selama berbulan-bulan, tapi tetap saja aku merasa harus ikutan postbar Desember—selain karena blog ini butuh pembaruan, aku juga kangen nulis! Iya, aku kangeeeeen. Jadi, tolong maklumi kalau prolog postingan ini sangat bertele-tele—karena aku memang kangen berat! Kemana aja sih aku selama ini?! Apa kabarmuuu, blog mungilkuuu? Maaf karena telah menelantarkanmuuu.. 😭

Oke selesai sudah sesi kangen-kangenan sama blog-ku, sekarang saatnya memulai inti dari postingan ini. 😁

Di tahun 2017 nanti, aku akan mencoba menamatkan beberapa serial yang sudah kukumpulkan di tahun 2016. Nah, ketahuan kan.. iya kerjaanku ngumpulin buku serial doang, dibaca kagak! Selain menamatkan beberapa serial, ada beberapa buku yang menjadi incaranku—bukan wishlist di gutrits yang sampe 300an itu ya, tapi yang PALING pengin kubeli, atau kalau malah ada yang ngasih juga nggak apa-apa. 😉

Sunday, 24 July 2016

[REVIEW] Mencarimu

Maka disinilah aku kini. Sedang megusik ibu, juga sedang berusaha menguak tabir gelap yang selama ini mungkin dianggap sebagai pengaman. Ibu tidak boleh lupa dalam diriku juga mengalir jenis darah yang lain. Yaitu, darah lelaki yang sedang kuburu ini. —Matahari (hal. 4)

Judul: Mencarimu
Penulis: Retni S.B.
Penerbit: Bentang
Tahun Terbit: 2014
Halaman: 298
ISBN: 978-602-291-024-4
I rate it 4/5 stars

Sejak mengetahui kalau Irsal Mahangka adalah masa lalu kelam ibunya yang menyebabkan ia terlahir di bumi, Matahari nekad pergi ke Jakarta. Matahari sengaja bekerja di bidang dan kantor yang sama dengan ayah biologisnya, Jelajah, agar bisa memberi pelajaran kepada orang yang telah membuat ibunya mati rasa dan tak pernah mau membuka hati untuk pria lain.

Namun, tujuan Matahari bekerja di Jelajah ternyata membuahkan hasil lain. Ia bertemu Rakho, atasan yang membuat ia jatuh hati, dan Owan, seorang sahabat baik yang asyik untuk diajak berbagi cerita, yang merupakan sahabat Rakho juga. Tanpa sengaja mereka bertiga telah menjadi sahabat baik meski belum kenal lama. Bahkan mereka bertiga asyik travelling bersama, sampai-sampai Matahari hampir lupa sedang mencari Irsal, apalagi saat Rakho terang-terangan mengajak ia jadian.

Hingga suatu hari, Rakho memperkenalkan Matahari kepada ayahnya yang kebetulan sedang travelling di tempat yang sama. Hancurlah hati Matahari ketika diperkenalkan kepada ayah Rakho, yang ternyata adalah Irsal Mahangka, ayah biologisnya yang selama ini ia cari-cari.

Bagaimana sikap Matahari terhadap Rakho, pacarnya, yang ternyata adalah saudara sedarahnya? Sanggupkah Matahari dan Rakho mengganti percik cinta mereka menjadi bentuk cinta yang lain?

Tuesday, 31 May 2016

[REVIEW] Purple Eyes

"Apakah bumi memang seburuk itu? Semuanya hobi sekali mati, akhir-akhir ini." —Hades (hal. 10)

Judul: Purple Eyes
Penulis: Prisca Primasari
Desain Sampul: Chyntia Yanetha
Penerbit: Inari
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 144
ISBN: 978-602-74322-0-8
I rate it 4/5 stars

Hades—atau sering dikenal sebagai Dewa Kematian—merasa bosan. Belakangan ini, calon mantan-manusia yang sekarat lebih memilih untuk mati daripada kembali hidup ke dunia. Kebanyakan dari mereka adalah manusia yang mati dengan cara tak wajar: diambil levernya. Begitu pun dengan calon mantan-manusia yang datang hari itu. Pemuda rupawan bermata biru gelap cenderung ungu tersebut juga lebih memilih untuk mati—dan omong-omong, juga diambil levernya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi di bumi. Lyre, asisten Hades, menganggap hal itu ganjal dan menyarankan Hades untuk turun ke bumi sebelum ada korban lagi. Namun, sebelum ada perintah, Hades tidak akan ke sana. Sampai sebulan kemudian turun perintah untuk Hades, lalu Hades turun ke bumi bersama dengan Lyre. Kali ini tujuan mereka adalah Trondheim, Norwegia, mengunjungi rumah salah satu korban.

Ivarr Amundsen, keluarga korban yang mereka kunjungi, mirip dengan pemuda rupawan yang baru-baru ini mengunjungi tempat Hades: sama-sama bermata biru gelap namun cenderung ungu. Namun, Ivarr seperti patung lilin, tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun. Mati rasa. Tujuan Hades—atau selama di bumi dipanggil Halstein—dan Lyre—atau kita panggil saja Solveig—adalah membuat Ivarr kembali merasa, sebelum akhirnya mengincar pelaku pembunuh sesungguhnya.

Berhasilkah mereka—atau tepatnya Solveig—membuat pemuda patung lilin itu kembali merasa? Dan apa tepatnya rencana Halstein untuk mengakhiri pembunuhan keji itu sampai melibatkan Ivarr?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...