Kamis, 19 Juni 2014

[REVIEW] Girls in the Dark

Bagi kita, perasaan dan kepekaan kita adalah yang paling penting, kan? Itu adalah hal yang penting yang harus dilindungi lebih dari apa pun! Karena itu kita harus bisa membunuh diri kita sendiri, atau dibunuh oleh orang lain... (hal 16)

Judul: Girls in the Dark
Judul Asli: Ankoku Joshi
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun: 2014
Halaman: 279
ISBN: 978-602-7742-31-4
Harga: Rp52.000,-
I rate it 4/5 stars

Setiap menjelang liburan akhir semester, Klub Sastra SMA Santa Maria selalu mengadakan Pertemuan Yami-nabe, suatu pertemuan dimana setiap anggota akan duduk mengelilingi meja marmer dengan sebuah panci misterius di tengah-tengah mereka. Dengan catatan, mereka menikmati isi panci dalam kegelapan. Isi panci tersebut sebenarnya mereka masing-masing yang menentukan. Namun, bahan-bahan tersebut dirahasiakan. Hanya Panitia Panci sekaligus Ketua Klub Sastra yang baru, Sumikawa Sayuri, yang mempunyai hak memasukkan bahan-bahan yang mereka bawa. Menyeramkan, bukan, menikmati hidangan yang tidak kita ketahui dalam kegelapan?

Peraturan pertemuan kali ini sama seperti pertemuan yang sudah-sudah. Akan tetapi, ada yang berbeda dari pertemuan kali ini. Selagi menikmati hidangan panci misterius dalam kegelapan, secara bergiliran masing-masing anggota akan ke tempat dengan sebuah lilin di dekat perapian untuk membacakan naskah yang telah mereka tulis. Biasanya, tema naskah tersebut bebas. Namun tidak pada pertemuan kali ini. Ya, dalam pertemuan ini tema naskah mereka mengenai.. kematian Ketua Klub yang lama, Shiraishi Itsumi.

Tidak ada yang tahu bagaimana Shiraishi Itsumi mati. Gadis yang amat cantik dan menawan itu mati dalam keadaan telungkup di dekat pot bunga sambil menggenggam bunga lily. Ada yang mengatakan ia mati karena dibunuh oleh anggota Klub Sastra. Ada juga teori bahwa ia mati karena bunuh diri. Tidak ada skenario yang jelas mengenai kematiannya. Sampai pada pertemuan kali ini, para anggota membacakan naskah mereka berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Sayangnya, meskipun mereka membacakan naskah tentang pembunuhan Itsumi, masih belum diketahui dengan jelas siapa pelakunya atau bagaimana kenyataannya.. karena setiap naskah selalu saling tunjuk. Setiap naskah memiliki tuduhan pelaku yang berbeda.

Siapakah yang membunuh Itsumi? Bagaimana Itsumi mati? Apakah yang ingin disampaikan Itsumi dengan lily ditangannya?

Kalian juga melihat jasad Itsumi di tempat kejadian, kan? Kenapa Itsumi meninggal di kompleks sekolah? Kenapa dia telungkup di dekat pot bunga di bawah teras? Kenapa dia memegang benda itu saat dia meninggal? Apa yang ingin disampaikan gadis itu... (hal 19)

Selesai membaca buku ini, aku cuma bisa bilang 'WOW'!! ^^

Secara keseluruhan, kisah ini sebenarnya simpel: tentang pertemuan enam gadis di dalam kegelapan Klub Sastra yang mewah. Meskipun dasarnya sederhana, ada beberapa unsur dalam buku ini yang menarik pembaca (dalam hal ini, aku). Pertama, kematian Itsumi. Ini yang paling buat aku penasaran sekaligus geregetan. Gimana nggak gitu coba? Mereka saling tuduh, dimana si pembaca naskah mengaku menjadi sahabat dekat Itsumi dan menyalahkan salah satu anggota sebagai pelakunya. Dih.. nih orang pasti punya something yang mereka rahasiakan dan sengaja banget menuduh. Tapi, aku nggak tahu apa tepatnya rahasia mereka.

Kedua, setting Klub Sastra itu sendiri. Akiyoshi pinter banget ngegambarin Klub Sastra keseluruhan tanpa terkesan lagi jualan perabotan mahal. Suasana yang tenang, perabotan yang bersejarah, buku-buku langka di raknya, harum camilan yang nggak cuma menggelitik hidung tapi juga memanjakan perut. Ya Tuhan.. kalau aku ada di Klub Sastra, aku nggak akan mau pulang ke rumah, apalagi menyiksa diri di kantor. *eh* Meskipun setting Klub Sastra yang terlalu mewah itu too good to be true di sini, aku masih menerimanya dengan wajar karena mereka kan di Jepang.. biasanya di beberapa anime memang begitu. *lalu digampar: Lin, itu kan di anime!!!*

Ketiga, penyampaian cerita melalui multiple PoV. Hey, susah banget lho membagi PoV itu.. tapi Akiyoshi dengan lihainya menyampaikan kisah melalui beberapa sudut pandang. Bukan beberapa lagi, tapi melalui semua sudut pandang anggota Klub Sastra. *pardon me?* Iye, setiap anggota dalam masing-masing bab bercerita dengan kata 'Aku', si penulis berhasil membelah diri di dalam buku ini menjadi tokoh-tokoh yang berbeda.

Terakhir, ending dari buku ini sendiri. Siapa yang setuju sama aku kalau ending-nya unpredictable banget? *lalu hening* *nggak ada yang tunjuk tangan* Errr.. okelah. Aku nggak punya bayangan sama sekali bagaimana kisah ini berakhir, cuman yakin aja pasti di akhir kita bakal tahu kenyataan dari misteri yang dipaparkan di awal. *yaiyalah* Saat mengetahui ending-nya, aku melotot sambil bilang 'HAH?!' lalu di sesi berikutnya aku teriak 'TEGA BANGEEEEET!!!'. Aku bersyukur aku nggak ngebanting bukunya.. yang ada aku lihatin sampul bukunya sambil rewind mulai dari kisah awal sampai akhir kemudian bilang "OH GITU.." :p

Di awal disuguhi misteri, di tengah suguhi rasa penasaran sampai-sampai posisi baca jadi nungging (?), lalu di akhir disuguhi twist. Nah, kurang apa lagi? Aku cuman merasa aneh sama kalimat-kalimat penutupnya sih. Apa mungkin karena aku bacanya terlalu menggebu-gebu ya makanya ending statement-nya kurang greget? *lalu garuk-garuk kepala* In conclusion, buku ini recommended! Apalagi bagi kalian yang suka Jepang dan kisah-kisah misterinya. Yuk ah, baca! :D

"Kau.. pernah berpikir untuk membunuh seseorang? Aku ada. Orang yang ingin aku bunuh. Kalau aku bisa membunuh orang ini, mati pun tidak mengapa. Rasa benciku sampai seperti itu." -Itsumi (hal 54) 
...di sekolah ini, siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang memegang tongkat kekuasaan, siapa yang memiliki wibawa... gadis-gadis itu mengendusnya, memilah-milahnya. Dan kalau ada kesempatan, mereka mengincar untuk merebutnya. (hal 129)

10 komentar:

  1. waw keren... habis baca reviewnya jadi pengen baca novelnya.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurutku bagus, Yu. Baca deh eheheh. ^^

      Hapus
  2. baca buku seru emg gitu bisa ampe nungging jumpalitan XD mikir aja mape koprol XD gara2 disebut2 endingnya unpredictable, aku jd mikir sesuatu yg unpredictable XD contohnya: sayuri itu bumbu masak kan (?) haha apadeh XD
    aku jg punya pikiran pengen bunuh orang *nah loh jadi horror* tapi ya ga ampe terkabul jugaaa nntn film pembunuhan aja uda sebel bgt ama pembunuhnya. jadi aku ganti tujuanku menjadi pemain film action aja deh. walaupun bunuh orang, pasti ada yang berpihak ke aku dan dalam dunia nyata yang kubunuh pasti hidup lagi XD*ini ngomong apa sih*
    jadi ceritanya mereka berkelompok tapi saling menjatuhkan gitu ya?: terus apa arti tawa dan senyum selama iniiiii atau jgn jgn mereka ga pernah ketawa? bzzzzzzzzzzzz makan kitkat dong!!! (?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huehehe ikutan giveaway-nya ya, Ade.. di sana imajinasimu bisa kamu tuangkan! :D

      Hapus
  3. "Ini pertama kalinya aku membaca novel terjemahan Jepang,"
    bukannya Kak Linda kemaren udah baca Cheer Boy!! ya? Itu kan novel terjemahan Jepang juga..? :3
    Suka deh sama gaya penulisan reviewnya..
    Bikin ikutan heboh, sambil flashback ceritanya.. hehe.. :p
    dan ekspresiku di akhir cerita 11:12 lah sama Kak Linda.. xD
    Sumpah! Itu ending yang gak mungkin ketebak lah!
    Di akhir, aku pikir endingnya akhirnya A, eeeh, ada lagi ternyata..!!
    Itu bikin jadi, Eeh?! Hah?!! Lhah!! ((( >,<)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaaa makasih Novia udah ngoreksi. Maaf yak, itu buatnya emang lagi buru-buru. Sorry bangeeeet! Label harga aja sempet ga ketulis. :'(

      Ahahah kalo baca buku begini emang nggak bisa kalo nggak mikir "ini endingnya begini bukan ya" atau "begitu nggak ya", bikin penasaran! Disuguhin ending begitu ya kaget juga. xD

      Hapus
  4. Iya kak memang twist yang buat saya kerasa banget "gothic' Jepangnya xDDD ganjil-ganjill gimana, tapi ya begitulah =)) novelnya memang menarik bangeet *w* eh baru nyadar soal closing statement di akhir reviewnya A___A *mendadak merinding*

    Terima kasih reviewnya kak^^

    Khairisa R. P
    http://krprimawestri.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mhihihi.. semoga karya Akiyoshi yg lain (kalau ada) diterbitin lagi ya sama Haru, atau novel Jepang lain, biar kita bisa nikmatin lagi nuansa Jepangnya. ^^ Novel Jepang Haru kok kayaknya lebih menarik hatiku ya, Khairisa.. *malah curcol*

      Hapus
  5. Kak Lindaaaa! Omegod >.< reviewnya juga bikin nungging jumpalitan(?) :D
    Penasaran abis sama kisahnya, aku ada 3 org yang aku curigai, suer kepo banget deh siapa yang bunuh Itsumi *brb cari bukunya >.<*
    Nice review kak! I Like it very muuuchhhh<3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh.. Sasa jangan ikutan nungging. x)
      Di toko buku stoknya masih banyak kok, Sa. Makasih ya udah suka reviewku. :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...