Mengingat si Murphy sialan itu membidik kita dari sudut mana pun, dan ia bisa datang kapan saja, jagalah dirimu dengan laku baik. (hal. 171)
Judul: Rumah Kopi Singa Tertawa
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana
Tahun: 2011
Halaman: 172
ISBN: 978-978-1079-26-6
Harga: Rp40.000,-
I rate it 3/5 stars
Rumah Kopi Singa Tertawa merupakan kumpulan antologi yang terdiri dari 18 kisah yang saling terpisah. Mau baca dari kisah yang ke empat lalu lompat ke kisah pertama juga sebenarnya tidak apa-apa, asalkan dibaca semua. Rasanya rugi kalau melewatkan satu kisah saja di dalam buku ini.
Tiap kisah dalam buku ini memiliki daya tarik dan pesan sendiri-sendiri. Kisah pertama yang berjudul Cara-cara Mati yang Tidak Aduhai misalnya, menunjukkan pada kita bahwa kematian itu sungguh tidak bisa ditebak. Bisa saja dokter memvonis umur kita tinggal dua bulan lagi, masih hidup setelah dua bulan ya bersyukur, kalau malah berhenti bernafas sebelum habis waktu dua bulan, ya mau diapakan lagi? Dan kalau pun tidak memiliki penyakit, belum tentu juga kita berumur panjang, bukan? Tidak ada yang tahu kapan kematian datang. Karena kita tidak mengetahui kematian itulah, jangan suka bertindak sembarangan. Nggak mau kan meninggal dalam keadaan lucu? Kisah pertama di buku ini merupakan salah satu favoritku, anyway. :D


