Monday, 29 December 2014

[REVIEW] Hold Fast

Hold fast to dreams
For if dreams die
Life is a broken-winged bird
That cannot fly. 
Hold fast to dreams
For when dreams go
Life is a barren field
Frozen with snow. 
— "Dreams" by Langston Hughes

Title: Hold Fast
Author: Blue Balliett
Publisher: Scholastic
Year: 2013
Pages: 288
ISBN: 978-054-55-1019-6
I rate it 4/5 stars

Inside one of apartment in Woodlawn, lived a family who dream about having their own home someday. The larger home than their old and barely-had-rooms apartment. Home which has a cat staring outside at the edge of the window. Home where four of them will always be four.

Dashel Pearl, dad who always admires words and rhythms and adores Langston's The First Book of Rhythms and works as Library Page for History and Social Science at Harold Washington. Summer Pearl, mom who always reads stories to her children when the dad's not reading for them. Early Pearl, just like her dad, loves words and rhythms and is a genius. Jubilation Pearl, still so kids, having that cannot-zipped mouth and always babbling even the high-secret-secret of their family. (Yes, I sometimes hate this little kid. So much.) Together their family name becomes dashsumearlyjubie, combination of their nicknames. Unique? Absolutely.

This was a family of important words and their important histories. Words and life and home were all rolling together in the shell that held four.

They are four, and will always be four. Until the accident happened in the third week of January. At 4:44, a man is missing, Dash. He was riding bicycle that day but several blocks from home, squad car crashed that bicycle man. But no, no blood, no footprints, and nobody's found dead in that location. Just bike, and the notebook that says 4:44. Dash is missing. Four becomes three, and rest of the dashsumearlyjubie is shaken by that tragedy.

Saturday, 22 November 2014

[REVIEW] Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu

Aku sudah mencarimu. Ke setiap tempat yang mungkin dan tak mungkin kamu singgahi, termasuk perkemahan sirkus dan pasar kembang api. Aku mendatangi penjual kembang api naga favoritmu dan berkata kepadanya, aku kehilangan Cintaku, apakah kamu melihat Cintaku? 
Dia justru mengernyit dan bertanya apakah aku sedang membawakan sebuah sajak. 
(hal. 64)

Judul: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
Penulis: Norman Erikson Pasaribu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2014
Halaman: 186
ISBN: 978-602-03-0448-9
Harga: Rp 48.000,-
I rate it 4/5 stars

Menunggu.

Satu kata sendu itu bisa berarti menunggu banyak hal seperti: menunggu namamu dipanggil untuk check-up dokter di hari Rabu, menunggu BRT di halte dekat rumahmu, menunggu kembalian uang lima ribu, menunggu gajimu cair bulan itu, menunggu cintamu mengucap rindu, atau menunggu maut menjemputmu.

Menunggu membutuhkan kepastian. Kau dan aku tidak akan pernah tahu kapan menunggu akan menorehkan tanda titik di akhir. Hanya dia yang kau dan aku tunggu yang tahu kapan kau dan aku harus berhenti.

Menunggu juga tak memerlukan keharusan. Aku bisa berhenti, begitu pula dirimu. Tapi kata berhenti itu sebenarnya semu. Kau dan aku telah mengumumkan ke seluruh dunia kalau kau dan aku berhenti menunggu, tapi sedetik kemudian kau dan aku meragu, kembali menunggu. Hanya dia yang benar-benar tahu kapan kau dan aku harus berhenti.

Friday, 21 November 2014

[Movie Review] The Hunger Games #3: Mockingjay Pt. 1

The Hunger Games #3: Mockingjay Part 1
directed by: Francis Lawrence

So yesterday the movie was finally released..

What I was doing was... koar-koar di kelas "NONTON MOCKINGJAY YOK GUUUUYS!!" biar ada yang nemenin nonton. Syukurlah ada dua orang yang mau diajakin nonton, pas hari pertama pula. ^^ Kemarin sore itu merupakan perjuangan yang berat. Pulang ke asrama sekitar jam setengah satu, trus nyuci baju, trus ketiduran sampe jam 2:47 padahal jam 3 rencananya udah harus GO (dan baju belum dijemur)! :| Ujung-ujungnya jam 4 baru pergi (karena salah satu temen ketiduran juga sampe jam setengah 4), itu pun nunggu bisnya lama bangeeeeet. Udah dapet bis, naik bis sebentar, lalu jalan kaki (yang bikin ketek lumayan basah) karena bisnya nggak lewat U Mall. FYI, di Johor ini transportasi nggak semudah di Palembang. :'(

Tapi yah yang namanya niat mau nonton itu kuat, demi Mockingjay kami rela olahraga jam 5 sore demi mengejar Mockingjay yang jam 6! YEAH! *salam tiga jari semoga betis lo bertiga nggak tambah bengkak!*

Udah prolognya, Lin? Udah kok udah.. :')

caution:
this review is forbidden for those who haven't watched Catching Fire
#cumanperingatankecil

Akhir yang menggantung di Catching Fire tahun kemarin itu bikin sebagian dari mereka yang belum baca bukunya pada protes: "kok endingnya begini? Filmnya jelek ih jelek!" kata salah satu temen di November tahun kemarin. -_- Aku nyengir aja. Sedikit flashback, Quarter Quell ke-75 waktu itu merupakan awal mula dari pemberontakan besar-besaran. Haymitch Abernathy menyarankan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) dan Katniss Erverdeen (Jennifer Lawrence) untuk membentuk sekutu saat Quarter Quell dimulai. Namun, inti dari mencari sekutu itu sebenarnya membawa Katniss keluar dari arena dan menunjuk Katniss sebagai Mockingjay yang akan memimpin pemberontakan terhadap Capitol.

Di detik-detik akhir Catching Fire, Katniss menembakkan panah (yang telah terhubung dengan kaitan bermuatan listrik/petir) ke langit-langit arena yang menyebabkan energi yang digunakan untuk menyelubungi arena Quarter Quell padam, koneksi dari arena ke Capitol juga terputus. Pemimpin permainan, Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman) yang ternyata merupakan salah satu otak dari pemberontakan, langsung kabur saat ledakan itu terjadi. Seusai ledakan dari panah Katniss, pesawat yang biasa digunakan untuk mengambil mereka yang tewas di Hunger Games mengangkut Katniss dan beberapa sekutu yang selamat (termasuk Finnick O'dair (Sam Claflin) dan Beetee (Jeffrey Wright)) lalu membawa mereka ke Distrik 13.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...